Setelah kejadian penyerangan Pain ke Konoha. Aku Naruto Uzumaki dibuat sangat terkejut dengan seorang perempuan berambut merah panjang dengan pakaian khas ibu rumah tangga berada di dalam kediamanku, maksudku, di dalam apartemen milikku.

Kalau boleh jujur, wanita yang ada didepanku ini sangatlah cantik. Yah, lebih cantik daripada Sakura-chan, serta Hinata, dan dia sedang tidur di atas futonku. Dengkuran halus terdengar di gendang telingaku, aku jadi sungkan untuk membangunkannya.

Tapi aku juga sudah lelah. Ini sudah beberapa hari setelah penyerangan Pain, dan aku butuh istirahat karena beberapa hari kedepan aku akan menemui Raikage untuk memohon ampunan terhadap Sasuke.

"Enggh!"

Aku terkejut dengan erangan itu. Sebuah erangan yang berasal dari wanita tersebut. Aku mundur beberapa langkah dari futon milikku, wanita itu merenggangkan tubuhnya kemudian bangun dari tempatnya tidur.

Ia menoleh ke arah diriku, kemudian tersenyum lembut kepadaku. "Selamat siang, Naruto. Kau sudah besar ternyata." Aku semakin dibuat terkejut dengannya yang mengetahui namaku.

"Si-siapa kau sebenarnya?"

"Oh, maafkan aku. Ini pertama kalinya kita bertemu," ujarnya yang kemudian berdiri tepat di hadapanku. "Namaku Kushina Uzumaki, aku ibumu." Lanjutnya dengan sebuah senyuman manis yang terpatri di wajah cantiknya.

"He!?"

.

..

Naruto by Masashi Kishimoto

Warning: Incest, Mom and Son, Lemon, Lime, Smut, typo, Canon/AU, Etc

Pairing: Naruto x Kushina

..

.

Mommy

..

.

Rindu terhadap Ibumu? Iya, rindu terhadap orang yang melahirkan dirimu ke dunia ini. Tentu kalian akan merasakannya, dan seterusnya. Omong-ngomong, jantungku terus saja berdetak kencang saat berada di dekatnya. Well, tidak bisa dipungkiri, Ibuku memang sangat cantik. Seperti kataku tadi.

Dan sekarang dia sedang melahap penisku.

"Ka-kaachan... Egh!"

Tangan putihnya terus mengocok sembari dia memasukkan batang kejantananku kedalam mulutnya. Sementara aku memegangi kepala merahnya, serta menahan gejolak yang akan keluar dari tubuhku.

Kalau aku ditanya mengapa hal ini terjadi, maka aku akan menjawab kalau dia tergoda dengan tubuhku setelah aku mandi tadi.

Aku bersumpah, Kaachan menarik handuk putih yang melilit pinggangku dengan cekatan, kemudian ia melihat penis milikku, sembari berkata. "Anakku masih perjaka ternyata." Aku sangat malu saat itu, dan sampai disaat dia sedang melahap penisku sekarang.

Astaga, aku bisa merasakan betapa lembutnya lidah milik Kaachan yang sedang menari di penisku. "Kaachan... Ugh! Aku... Tidak kuat..."

"Semburkan, Naruto! Kaachan akan menelannya semua!" Balasnya sembari terus mengocok penisku, ia semakin mempercepat kocokan tersebut hingga cairan putih keluar menutupi wajah putih milik Kaachan.

Ia tersenyum puas melihat hasil kerjanya, sementara aku langsung terduduk di atas lantai dengan nafas yang sudah terengah-engah. Aku melihat wanita yang berada didepanku ini, terlihat sangat seksi ketika ia mencolek beberapa cairan putih yang menempel di wajahnya.

Tak terasa wajahku sudah mulai terasa panas. Ia menatapku dengan pandangan menggodanya miliknya. Sejurus kemudian, ia membuka seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat, tubuh putih nan seksi itu terpampang jelas didepanku. Ia mengambil handukku yang tergeletak tak berdaya, kemudian mengusap wajahnya yang masih belepotan cairan putih tersebut.

"Mari kita mulai." Kaachan berjalan mendekat, penisku juga sudah sangat tegang sekarang-setelah lemas beberapa saat, ia membuka kedua pahanya lebar-lebar sehingga aku bisa melihat sebuah lubang yang kupikir itu adalah tenpat dimana aku dilahirkan. Kaachan kemudian menurunkan pinggulnya tepat di atas penisku. "Sudah lama aku tidak merasakan... Enggghh... Penis seperti ini, yah setelah Minato yang pertama... Annhh... Yesshh..."

Aku meringis kecil setelah penisku masuk semua di dalam lubang miliknya. Kedua tangan putihnya itu bergelayut di leherku, ia menatapku dengan tatapan sayu miliknya, bibir seksinya terbuka sedikit dengan hembusan nafas hangatnya yang menerpa wajahku.

Aku seperti terbuai hanya dengan nafasnya saja. "Kau akan menikmatinya, Naruto. Jadi jangan khawatir dengan status kita sebagai Ibu dan Anak."

"Tapi Kaachan... Kita seharusnya tidak boleh melakukan ini."

Ia menyeringai tipis, kemudian menyentuh ujung daguku. "Dengar, tubuhmu sangat seksi, aku menginingkanmu, penismu, serta sperma hangat yang akan menyembur di dalam rahimku. Uhhh, membayangkannya membuatku terangsang." Ia mencium sekilas bibirku, aku juga bisa merasakan betapa lembut bibir merah milik Kaachan, ada rasa manis disekitar sana. "Tubuhmu tidak jauh berbeda dengan tubuh Minato, tapi penismu jauh lebih perkasa dari dia... Uhhh... Aku bisa... Merasakan denyut penismu itu... Ahhh... Yaahhh... Ini sungguh... Engghh..." Kaachan menggerakkan pinggulnya naik turun, ia melenguh lembut sembari kedua tangannya memegang bahu kekar milikku. Wajahnya sudah sangat terangsang sekarang.

Kedua payudara miliknya terus memantul mengikuti irama gerakan pinggulnya, kedua bola mataku tidak bisa mengalihkan pandangan dari mereka, karena kedua benda yang berada tepat didepanku ini agak menggoda.

"Hisaplah... Yahh... Hisaplah Naruto... Ohhh, sungguh hebat penismu..."

Pinggul Kaachan terus bergerak, erangannya semakin keras karena dia mempercepat gerakan pinggulnya. Aku sendiri berinisiatif untuk memegang kedua bola yang besar itu, tanganku bergetar saat memegang kedua dada, aku bisa merasakan benda lembut yang sangat halus itu berada di genggaman kedua tanganku.

Dengan lembutnya, aku meremas kedua bola tersebut. "Aannhh..." Mataku langsung tertuju kepada Kaachan yang mengerang saat ke remas kedua bola itu. Wanita yang berada di atas penisku ini tersenyum dengan kedua pipinya yang merona. "Entah kenapa kalau kau meremasnya, dan saat itu aku merasakan sengatan yang luar biasa...lakukan lagi, Naruto..." Kedua tangannya langsung menggiring kepalaku ke dalam pelukan di dadanya. "Yaahh, seperti itu... Jilat saja... Kau boleh menghisapnya... Ahhh, yaahh..."

Aku pun menuruti permintaannya, ujung dada Kaachan langsung ku lahap, aku menghisapnya dengan kencang, membuat tangan mulusnya itu meremas kepala pirangku. Ia masih menggerakkan pinggulnya naik turun. Tanganku yang sedang menganggur, mulai meremas dadanya yang lain.

Erangan demi erangan keluar dari mulutnya, dan aku terus melancarkan serangan yang ku punya. Aku masih terlalu gugup untuk melakukan ini.

"Ahhh, yaaahhh, lakukan... Seperti itu..yahh... Aku akan keluar... Narutohh...!" Kaachan terus mempercepat gerakan pinggulnya, aku sendiri juga merasakan akan ada yang keluar dari penisku. Aku sedikit meringis kesakitan karena bahuku di remas kuat oleh Kaachan, lubang milik Kaachan juga mulai menyedot penisku dalam-dalam, benda itu seperti di pijat didalam sebuah penyedot debu, dan aku merasakan geli disekitar sana.

"Ka-kaachan..."

Mata violetnya langsung menatapku, ia membenturkan bibirnya yang seksi itu ke bibirku sembari dirinya terus menggerakkan pinggulnya. Kami berdua berciuman mesra dengan kedua tangannya yang terus meremas bahuku, sementara lubangnya sudah menyemburkan sebuah cairan hangat yang membasahi seluruh penisku didalam sana.

Aku yang sudah tidak kuat menahan, langsung menyemburkan cairan hangat, dan memenuhi tempat tersebut.

Inikah yang dinamakan Seks itu. Apa senikmat ini perasanku saat melakukan seks? Sepertinya aku menikmati kegiatan ini, sangat menikmati.

Kaachan menarik wajahnya, ia menatapku lembut sembari menyentuh pipiku dengan tangan mulusnya. "Hey, Jagoan, Kaachan akan memenuhi semua kebutuhanmu sayang, semuanya. Termasuk ini." Aku mendengarkan perkataan Kaachan, baru saja kita bertemu dan aku sudah disuguhi kegiatan seperti ini. "Kaachan hanya menginginkan dirimu Naruto."

"Ta-tapi Kaachan, ke-kenapa kau bisa hi-hidup lagi?"

"Emmm, mungkin karena ketidak sengajaan Pain yang menghidupkan Kaachan dengan jutsunya." Kaachan mencubit dagunya, ia terlihat berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia kembali menatap lembut diriku. "Siapa yang peduli? Yang penting aku mendapat kesempatan untuk melakukan aktivitas seksual dengan... Dirimu..." Ia menekankan kata terkahir itu, lalu tersenyum menggoda. "Oh, mulai bangun lagi? Apa kita harus menjalani ronde kedua?"

Aku mulai gugup dengan pertanyaannya.

"Lebih baik kita lakukan di ranjangmu saja, daripada dilantai yang dingin. Tenang, kaachan akan menghangatkanmu, Naruto-kun..."

.

..

.

Paginya, aku terbangun dengan keadaan telanjang bulat. Disamping tempatku tidur, ada Kaachan yang masih mendengkur halus, wajah tidurnya sangat cantik. Aku tidak menyesal mempunyai seorang Kaachan seperti dia, aku harus bersyukur karena Kaachan kembali hidup.

Walaupun dia memperkosa anaknya sih.

Tapi peduli setan dengan hal itu.

Aku pun beranjak dari tempat tidur, dan mencari boxerku. Setelah menemukannya, aku pun memakai boxer tersebut, dan keluar dari kamarku. Kakiku membawa diriku ke dapur, aku lapar sekarang, dan ingin memakan Ramen.

Aku mulai mengisi air di sebuah teko, kemudian memasaknya di atas kompor, aku menunggu air yang sedang dimasak hingga seorang perempuan menurunkan celanaku dengan cepat.

Ia langsung menggenggam penisku, dan mengocoknya halus. Deru nafasnya bisa kurasakan sedang menerpa leherku. "Kau lupa membangunkan Kaachan, Naruto..."

"Ka-kaachan, ini masih pa-pagi... Ja-jangan..."

Kedua tanganku bertumpu di atas meja dapur, mencoba untuk tetap berdiri tegap. Kedua kakiku gemetaran, hanya karena Kaachan mengocok penisku. Ah, sial. "Kau bilang jangan, tapi penismu mulai membesar seperti ini." Ia terus mengocoknya, namun dengan kecepatan yang pelan.

Aku merasakan sebuah kenikmatan saat ia mengocoknya, hingga saat dimana cairan kental berwarna putih itu keluar dan membasahi tangan putih miliknya. Ia melepaskan tangannya dari penisku, dan aku langsung jatuh terduduk di atas lantai dengan nafas yang sudah seperti orang yang berlari jauh.

"Kaachan..." Aku menoleh ke belakang, Kaachan sedang duduk di atas lantai sembaru menjilati jari-jari lentiknya yang belepotan sperma milikku. "Ka-kaachan..." Aku langsung duduk bersandar di meja dapur, wanita yang ada didepanku itu tersenyum menggoda kepadaku.

"Ya? Kau mau lagi, Naruto?" Ia merangkak mendekatiku, jemari lentiknya berada di pipiku, kemudian turun hingga ke dada datarku. "Aku suka pria yang punya dada bidang seperti ini, perutmu juga seksi." Jemarinnya terus turun hingga ke penisku. Ia mengelus batangan tersebut dengan lembut. "Kau juga punya penis yang perkasa, sayang."

Ia terkikik geli saat aku meringis karena penisku di elus dengan lembut oleh dia. "Ka-kaachan... A-apa kau tidak lapar? Ki-kita harus sarapan..."

"Maaf, tapi aku sudah menemukan sarapanku..." Ia menggenggam penisku, lalu melahap penisku, ia menjilatinya layaknya sebuah es krim, sesekali ia mengocok lembut kejantananku. "Bagaimana kalau nanti kita kencan ke kedai ramen Teuchi? Tapi kita selesaikan ini dulu, bagaimana?"

Aku terdiam dengan perkatannya. Ia menunjukkan senyum menggoda miliknya kembali kepadaku, aku sendiri seperti tersihir dengan senyuman itu. Decihan keluar dari bibirku, aku langsung menarik tubuh untuk berdiri, kemudian membalik tubuhnya untuk menghadap ke meja dapur itu.

Kaachan yang masih telanjang itu agak tersentak kaget karena perlakuanku barusan, aku mengarahkan penisku ke lubang miliknya. Aku langsung mendorong pinggulku maju, untuk memasukkan penisku ke dalam tubuhnya.

Tubuhnya kembali menegang, erangan keras terdengar dari mulutnya. Sepertinya ia sangat senang saat penisku merangsak masuk ke dalam lubangnya. Kedua tanganku pun langsung ku arahkan ke dua buah bola besar yang terus memantul seiring aku menggerakkan pinggul.

Kedua payudara besar miliknya langsung ke remas, sembari terus ku menggerakkan pinggulku. "Kau puas Kaachan? Hmm, apa kau sangat puas?"

"Yah, lakukan seperti itu... Ahhh, yaahh..." Kaachan terus mendesah keras saat aku menggerakkan pinggulku, aku pun menaruk tubuh Kaachan, kemudian mengalihkan wajahnya untuk kucium bibirnya.

Pinggulku terus bergerak sembari aku mencium bibirnya, kedua tanganku masih setia denga dua buah bola besar milik Kaachan. Hingga saat aku menyemburkan spermaku yang banyak ke dalam vagina miliknya, sementara wanita itu mengerang didalam ciumanku dengan cairan vagina miliknya yang membasahi penisku.

Kami berdua langsung terduduk lemas dengan penisku yang masih didalam tubuh Kaachan, tubuhnya bersandar di dadaku. "Kau hebat nak, aku tidak tahu kalau kau juga agresif sekali..." Ujarnya sambil memegangi punggung tanganku yang masih berada dikedua dadanya.

"Akuhh.. aku tidak tahu Kaachan... Ta-tapihh, apa Kaachan puas?"

"Yah, sangat puas, apalagi sperma milikmu yang menyembur terus didalam rahimku." Kaachan mencabut penisku yang sudah lemas, ia kembali mengocoknya halus. "Ah, aku jadi ketagihan dengan benda milikmu, Naruto." Ia kemudian menciumku dengan mesra. "Kita lakukan lagi yuk?"

"KITA BELUM SARAPAN KAACHAN!"

.

End

.

Salam kenal, saya author baru disini, dan ini fict lemon pertama saya, mohon bantuannya. Terima kasih!