Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Berwajah rupawan, pintar atau mudah bergaul dengan orang lain. Tapi, bagaimana jika kelebihan yang kau miliki itu membuat mu sengsara? Membuat mu mengalami hal yang tidak diinginkan?
Psychometry
All character Kuroko no Basuke punya Fujimaki Tadatoshi
Warning
OOC, typo, sho-ai, ada OC lewat doang, bahasa yang belibet dan lain sebagainya
[Kantor Polisi, 22 September 20xx]
"Biarkan aku ikut mengurusi kasus ini, kapten!"
Pemuda bertubuh tegap dengan kulitnya yang berwarna tan, tengah merengek meminta izin kepastian. Sudah hampir sepuluh menit dirinya tidak juga berhasil menarik hati sang kapten. Andai saja kaptennya ini tidak keras kepala.
"Tidak, kau tidak akan ku izinkan. Sebelum tindakan ceroboh dan terburu-burumu itu hilang, Aomine." Balasnya cepat dan tegas.
Aomine Daiki, 21 tahun. Seorang polisi muda yang baru saja bekerja selama tiga bulan, di sebuah kepolisian dekat tempat tinggalnya.
Akibat 'kejadian' yang terjadi minggu lalu, Aomine hampir saja kehilangan pekerjaannya. Tindakannya yang ceroboh dan terburu-buru ini hampir saja membuat teman-temannya terluka dalam sebuah kasus. Untung saja saat itu dia didampingi oleh para senior yang sudah ahli, sehinggat tidak terjadi hal yang buruk. Dan sebagai akibatnya, dia diskors selama seminggu untuk tidak mengikuti kasus apapun. 'Kau harus bisa mendinginkan kepalamu dulu. Atau kau akan melukai teman bahkan dirimu sendiri.' Ucapan sang kapten beberapa hari yang lalu masih saja terngiang jelas di kepalanya. Belum hilang kata-kata mutiaranya tersebut, sang kapten lagi-lagi memberikan ceramahan baru.
"Fine, aku tidak akan bertindak ceroboh lagi! Tapi, bukankah mereka masih kekurangan kelompok untuk menangani kasus tersebut? Apa kau tega membiarkannya saja?" sahut Aomine masih tidak mau kalah.
Ya, Aomine tidak akan menyerah begitu saja. Satu minggu itu cukup lama untuk menahan kesabarannya agar tidak terjun langsung menangani kasus.
Sang kapten mendengus lelah melihat sifat keras kepala Aomine. "Aku sudah menemukan tambahannya."
"Siapa?" Sahut Aomine cepat.
"Sakurai Ryo. Dia anak baru juga disini. Tapi dia berbeda denganmu, setidaknya sifatnya yang penurut dan gampang diatur itu mempermudah kerja tim."
Aomine mencengkram surai biru gelapnya frustasi. "Gyah! Kalau seperti itu aku juga bi_"
"Kau tidak bisa, dan aku percaya itu." Sambar sang kapten kesal. "Jika kau masih ngotot ingin menangani sebuah kasus, akan ku berikan satu jika kau bersedia."
"Apa?"
"Temukan kucing ini." Jawab sang kapten enteng sembari menunjukan foto seekor kucing berwarna hitam yang tengah tertidur.
Baru Aomine ingin menolak mentah-mentah kasus tersebut, sebuah kalimat yang tiba-tiba saja terdengar di telinganya langsung membuat emosinya naik. Senior sialannya itu ada disini.
"Hoo, coba kita lihat apa yang sedang terjadi disini." Pemuda bersurai abu-abu gelap memandang foto yang sedang ditunjukan sang kapten. "Wah! Ini tugas yang cocok sekali denganmu, Aomine." Lanjutnya kalem tapi senyum di wajahnya tidak menunjukan seperti itu.
Sabar Aomine! Kalau kau membuat keributan disini, bisa-bisa hukuman mu semakin ditambah. "Cih, jangan ikut campur!"desisnya pelan.
"Heh? Mencoba mengontrol emosi, Aomine?"
Demi Tuhan! Jika dia bukan seniornya sendiri, pasti saat ini Aomine sudah memakinya dengan senang hati. "Bisa kau diam, Haizaki!"
Haizaki Shougo, senior yang lebih tua dua tahun darinya ini sangat suka sekali mengganggu Aomine. Entah apa yang membuat orang berandalan sepertinya ini, diterima di kepolisian. Dalam hal berkelahi memang Haizaki tidak dapat diragukan lagi. Buktinya dalam setiap latihan bela diri, dia selalu mendapatkan kemenangan dengan mudah.
"Kapten, menurut saya saat ini dia jangan dimasukan dulu ke dalam kasus apapun. Atau misi kita akan hancur dan gagal." Haizaki tersenyum licik.
"Kurang ajar kau!" Kali ini Aomine menaikan suaranya satu oktav, kesabarannya mulai hilang.
Sang kapten hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua anak buahnya ini. Semenjak kejadian tersebut, dia sudah tidak asing lagi melihat pertengkaran keduanya yang berakhir dengan saling menatap sinis.
.
.
.
.
.
.
Seorang wanita yang datang dengan tergesa-gesa, membuat pandangan beberapa orang yang berada di ruangan teralihkan. Begitu juga Aomine dan Haizaki yang masih saling mengeluarkan aura membunuh satu sama lain.
"Tolonglah! Tolonglah anak saya Pak polisi."
Wanita tersebut yang diketahui berstatus seorang ibu, menghampiri kedua orang polisi yang bertugas sebagai tempat pengaduan. Raut wajahnya terlihat sedih, bekas air matanya yang mengalir terlihat jelas di wajahnya. Rambutnya yang sedikit berantakan bisa dipastika ibu tersebut sedang mengalami stress lumayan berat.
"Sebaiknya tenangkan diri ibu terlebih dahulu, baru ceritakan apa yang terjadi." Sang polisi sebut saja Sora, berusaha untuk menenangkan ibu tersebut. Sang ibu hanya menggangguk, sebelum menghirup napas panjang lalu menghembuskannya kembali.
"Anak saya…hiks…anak saya tidak pulang-pulang, Pak..Hiks." Suaranya bergetar mencoba menahan tangisan.
"Coba ibu ceritakan lebih jelas kronologinya." Balas Sora tenang, sedangkan polisi lainnya mempersiapkan sebuah catatan untuk menuliskan kronologinya.
"Anak saya, Haruka Hisegiro berangkat kesekolah jam delapan pagi. Dia masih kelas tiga sekolah dasar. Seharusnya jam satu siang tadi, Haruka sudah kembali pulang. Tapi…Tapi…hiks sampai sekarang dia tidak juga kembali ke rumah. Padahal hari sudah menjelang malam." Aomine bisa melihat tubuh ibu tersebut bergetar pelan.
"Apa ibu sudah mengecek rumah teman-temannya? Mugkin saja anak ibu tengah bermain dan lupa memberitahukannya kepada ibu." Tanya Sora.
"Haruka bukan anak seperti itu, dia…dia selalu pulang tepat pada waktunya. Dan jika ingin bermain, pasti dia akan kembali kerumah untuk menaruh tasnya. Aku sudah menelpon rumah temannya dan bertanya tentang keberadaannya. Tapi…tapi…tapi tidak ada yang tau, Pak. Hiks…"
"Kasus ini sudah sering terjadi, bu. Ibu tenang saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Anak ibu pasti kembali. Masa pertumbuhan itu memang sulit untuk kita mengerti, mungkin anak ibu akan pulang sebentar lagi." Jelas Sora sembari tersenyum.
"Tapi Pak, anak say_"
"Sudahlah bu, ini bukan kasus yang serius." Sora meyakinkan ibu tersebut.
"Tolong Pak, carikan anak saya!"
Aomine yang melihat hal tersebut tiba-tiba saja merasa kesal. Kenapa kasus seperti ini diabaikan saja. Bukankah bisa jadi ini kasus penculikan?
"Kapten, kita tidak bisa diam saja. Kita harus mencari anak kecil tersebut." Seru Aomine semangat.
"Ini hanya kasus biasa, Aomine." Bola mata Aomine membulat.
"Kau ini terlalu khawatir bodoh. Zaman sekarang kasus anak yang lari dari orang tuanya itu sudah sering terjadi. Mungkin saja mereka sedang bertengkar." Kini Haizaki mengeluarkan pendapatnya.
Aomine mengepalkan tangannya kesal. Apa-apaan ini? Kenapa bisa-bisanya mereka berkata seperti itu? Bukankah seharusnya polisi membantu masyarakat. Lagipula tidak ada salahnya untuk mencari anak kecil itu bukan?
"Cih, kalian yang bodoh! Bisa saja ini kasus penculikan atau kasus eksploitasi anak!" geram Aomine.
"Kami banyak urusan Aomine, jika kau ingin mengurusi kasus ini silahkan." Izin sang kapten.
Aomine tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dirinya langsung berjalan menghampiri sang ibu yang sudah hampir putus asa tersebut.
"Biar aku yang mencarinya." Ucap Aomine. Terdengar nada percaya diri didalam kalimat tersebut.
Sang ibu langsung tersenyum cerah dan memeluk Aomine. Aomine membalas pelukan tersebut berharap pelukannya dapat menenangkan sang ibu. Setidaknya saat ini yang bisa dia lakukan hanya itu. "Terima kasih. Aku sangat berterima kasih…hiks…"
'Aku berjanji akan berusaha menemukan anak kecil itu.' batin Aomine
Berdebat dengan senior dan kaptennya berhasil membuat mood Aomine hancur. Walaupun dia sudah terbiasa dengan sikap mereka, tapi dia tetap tidak mengerti jalan pikiran kedua orang tersebut.
"Cih!"
Langit yang sudah menghitam sejak beberapa jam lalu, mengindetifikasikan kalau hari sudah sangat larut. Malam yang cerah, dengan bintang yang bersinar dengan terangnya. Semoga saja ini pertanda bagus.
Aomine berhenti dipinggir jalan sekedar membeli sekaleng minuman. Matanya mulai mengantuk. Untung saja rumahnya tidak jauh dari tempat kerjanya. Dia harus semangat. Besok adalah hari dimana dia bisa menunjukan kepada kaptennya yang keras kepala dan seniornya yang sombong itu, kalau dia bisa menyelesaikan kasus dengan baik.
"Mereka akan menyesal telah mengucapkan hal itu padaku." Gumam Aomine meyakinkan dirinya sendiri.
Diapun melanjutkan perjalanannya. Sesekali dirinya meneguk kopi hitam yang dibelinya perlahan.
Tepat saat dia melewati sebuah gang. Seseorang berpakaian jaket hitam bertudung, tengah berdiri di depan tembok sedang melakukan sesuatu. Awalnya Aomine mengabaikan saja keberadaan orang itu. Tapi melihat orang tersebut sedang melanggar aturan mau tidak mau dia harus menghampiri orang tersebut.
"Hoy, apa kau tau kalau tindakan mu itu melanggar aturan?" tanya Aomine.
Seseorang yang saat ini sedang menyemprotkan pilok ke dinding gang, menghentikan kegiatannya. Tidak ada kata atau makian keluar dari mulutnya. Orang tersebut hanya diam berdiri tanpa berbalik menatap Aomine.
Aomine mendengus kesal. "Apa kau tuli?" sejujurnya Aomine sedang menatap takjub gambar yang baru saja dibuat oleh orang ini. Dia pikir orang aneh ini akan membuat gambar yang senooh, atau coretan tulisan tidak jelas.
Seseorang itu masih saja diam dan enggan menatap Aomine. Malahan dia seperti menantang Aomine dengan kembali menyemprotkan pilok ke dinding tersebut.
Mood Aomine yang sejak awal sudah hancur, membuatnya sedikit melakukan kekerasan dengan mengambil paksa cat air tersebut. "Hentikan atau kau ku bawa ke kantor polisi!"
Seseorang yang sekarang diketahui oleh Aomine adalah seorang pemuda, menatapnya tajam. Aomine tidak bisa melihat jelas wajah orang itu. Yang terlihat hanya iris crimsonnya yang berkilat tajam menatapnya. Tatapannya mampu membuat Aomine diam tidak berkutik, sampai-sampai dirinya tidak menyadari kalau sang pemuda sudah pergi dari hadapannya.
'Tatapannya?'
Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. 'Kenapa aku bisa tiba-tiba lengah seperti itu?'batinnya.
Aomine mengalihkan pandangannya ke dinding disampingnya. Sebuah gambar lapangan yang terletak di pinggir jalan, dengan sebuah gedung putih yang Aomine ketahui sebagai rumah susun terletak tidak jauh dari lapangan tersebut. Di gedung tersebut tertulis angka "7" dengan cat berwarna hitam. Sangat kontras dengan warna putih cat gedung tersebut. Sedikit memicingkan matanya, Aomine mendapati gambar tong sampah di ujung lapangan. Oh, apakah Aomine tidak salah lihat? Gambar gadis kecil yang terbungkus plastik besar di samping tempat sampah, tampak sudah tidak bernyawa. Apa-apaan gambar ini?!
"Jika bertemu lagi, akan kumasukan dia kepenjara." Gumam Aomine berlalu meninggalkan tempat itu.
[Kantor Polisi, 23 September 20xx]
Aneh. Haizaki dan kapten tidak ada di kantor kepolisian. Apa karena Aomine kesiangan datangnya akibat telat bangun pagi? Atau mereka pergi mengurusi sebuah kasus?
Penasaran dengan keadaan kantor yang tiba-tiba agak sepi. Aomine memanggil opsir yang tidak jauh dari dirinya.
"Oy, kau yang rambutnya bergaya jamur itu."
Pemuda yang dipanggil menoleh dan menghampiri Aomine, setelah melihat lambaian tangan dari pemuda bersurai biru gelap itu.
"Ma…maaf ada apa kau memanggilku?" tanya sang opsir canggung.
Aomine memicingkan matanya melihat penampilan pemuda di hadapannya. Sopan sekali.
"Siapa namamu?"
"Heh? Ma..maaf nama ku Sakurai Ryo."
Sakurai Ryo? Pemuda ini yang bernama Sakurai itu? Orang yang telah merebut, tidak, orang yang telah mengisi kekosongan tim tersebut? Aomine kaget dengan apa yang dia ketahui sekarang. Dia pikir Sakurai itu lebih baik dari dirinya. Kalem, penurut dan juga tidak bertampang penakut seperti ini. Kenapa kaptennya malah memilih orang seperti ini.
"Umm, maaf. Ada apa kau memanggilku ya?"
Aomine tersadar dari lamunannya.
"Kau tau kemana yang lainnya pergi? Haizaki dan yang lainnya?"
"Ma..maaf aku tidak terlalu tau. Tapi yang aku dengar, Kapten dan yang lainnya pergi menuju lapangan dekat rumah warga tidak juah dari sini. Mayat anak kecil ditemukan oleh warga tadi pagi. Maaf hanya segitu yang aku tau. Maafkan aku." Jelas Sakurai sembari membungkukan tubuhnya.
'Anak kecil?'
"Sudah berapa lama mereka pergi kesana?" tanya Aomine cepat.
"Se..sekitar 45 menit yang lalu."
Tanpa basa-basi lagi Aomine langsung pergi menuju tempat yang telah disebutkan oleh Sakurai. Dia tidak mau ketinggalan 'permainan' lagi. Enak saja mereka bersenang-senang tanpa dirinya.
Dari kejauhan beberapa warga mencoba menyaksikan adegan yang mengharukan ini. Seorang ibu tengah terduduk di pinggir lapangan sembari memeluk tubuh gadis kecil yang sudah tidak bernyawa.
"Anakku! Bangunlah! Hiks… ibu mohon! Hiks…" tangisan sang ibu sudah tidak dapat dibendung kembali.
Para warga berbisik kasihan sekaligus merutuki pembunuh yang tega menghabisi nyawa anak kecil tersebut. Kenapa anak kecil yang tidak berdosa harus dibunuh seperti itu.
Polisi yang sudah sampai di Tempat Kejadian Perkara langsung memasang Police Line di sekitarnya. Sedangkan yang lainnya, berusaha mencari jejak-jejak atau barang bukti yang mungkin saja ditinggalkan oleh pelaku pembunuhan.
Gadis kecil bernama lengkap Haruka Hisegiro, ditemukan tewas oleh warga yang hendak membuang sampah tadi pagi. Mayatnya ditemukan di pinggir tempat sampah dengan keadaan terbungkus plastik besar. Cukup muat untuk memasukan gadis kecil seperti Haruka.
"Apa saja yang kau temukan?" Tanya sang kapten pelan, hampir berbisik.
Haizaki memicingkan matanya, melihat luka lebam yang terlihat cukup jelas dari tubuh sang gadis yang masih dalam dekapan sang ibu.
"Tidak ada. Pelaku tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Untuk sekarang yang dapat kita ketahui, ini adalah kasus pembunuhan atau mungkin seseorang yang terobsesi dengan anak kecil." Jelas Haizaki tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis kecil tersebut.
"Psikopat?"
"Hmm, mungkin. Menurut penuturan dari nyonya Hisegiro, Haruka belum kembali kerumahnya sejak kemarin. Berarti dia masih membawa tas dengan peralatan tulis lainnya. Tapi ini aneh. Tas atau barang-barang yang kemungkinan dibawa oleh Haruka tidak ditemukan di TKP." Jelas Haizaki.
"Tidak mungkin ini adalah kasus pencurian. Apa yang bisa kita curi dari gadis kecil sepertinya?"
Haizaki menghela napas lelah. Dirinya cukup menyesal atas meninggalnya gadis kecil ini. Kalau saja sejak kemarin tindakan pencarian gadis ini dilakukan, kemungkinannya dia tidak akan ditemukan mati seperti ini.
"Kuharap Aomine tidak membunuh mu, Pak tua." Ejek Haizaki lucu.
Sang kapten yang mendengar peringatan dari anak buahnya, hanya tersenyum simpul. "Yang terkena imbasnya pasti kau." 'Kita sudah melakukan kesalahan pada gadis ini. Betapa bodohnya aku.' Batin sang kapten.
"Heh?"
Belum lama dibicarakan, pemuda bersurai biru langsung datang menghampiri sang ibu yang sudah melemah isakan tangisnya. Panjang umur kau Aomine!
Bola matanya membulat, tangannya terkepal erat siap untuk memukul siapapun yang mengganggunya. 'Ini tidak mungkin'.
Seingat Aomine, baru kemarin sang ibu memintanya untuk mencarikan anaknya itu.
Seingat Aomine, kemarin sang ibu baru saja menunjukan sebuah foto gadis kecil yang tengah tersenyum lebar.
Seingat Aomine, dirinya berjanji untuk menyelamatkan nyawa gadis kecil itu.
Gagal.
Aomine merasa gagal.
Ini terulang kembali.
Dia gagal menepati janjinya.
Dilangkahkan kakinya menuju beberapa polisi yang sedang melakukan penyelidikan. Bola matanya bergerak liar mencari orang yang harus bertanggung jawab dengan kejadian ini.
Aomine berjalan cepat setalah mendapatkan yang dicari. Haizaki Shougo.
BUAAAGGGHHH!
"Rasakan itu, kurang ajar! Lihat apa yang terjadi, heh?! Kau bilang ini hanya kasus biasa? Lihat! Gadis itu sudah tidak bernyawa lagi!" Bentak Aomine geram.
Haizaki merasakan asin bercampur besi dimulut, setelah mendapatkan tonjokan telak di wajahnya. Haizaki tidak menyukainya. Dia tidak bisa menerimanya begitu saja.
DUAAAGGHHH!
Aomine mundur beberapa langkah setalah mendapatkan tonjokan balasan dari Haizaki. "Jangan bersikap kasar dengan senior mu, A-o-mi-ne!" desisnya tajam.
Keduanya dengan cepat dilerai oleh beberapa orang anggota polisi.
"Haizaki! Aomine! Hentikan! Atau kalian ingin membuat 'wajah' kepolisian tercoreng?" ucap sang kapten berusahan menghentikan keduanya.
Mereka berhenti walaupun tidak sepenuhnya.
"Kami salah, Aomine. Ini bukan kasus biasa. Maaf." Ucap sang kapten singkat.
Aomine cukup kaget mendengar penuturan sang kapten. Mau tidak mau dia menerima permintaan maaf tersebut. Walaupun dihatinya masih ada rasa dongkol yang belum puas dia keluarkan.
Bola matanya bergerak mengamati tempat kejadian. Lapangan, tempat sampah dan gedung dekat perumahan. 'Tunggu! Ini semua tidak asing. Ini sama dengan…' Dia harus memastikannya. Diapun bergerak mendekati gedung putih yang berada di pinggir lapangan, mencoba memperjelas penglihatannya.
'Shit!Ini tidak mungkin!' umpatnya.
Memberitahukan hal ini pada kaptennya, sama saja bunuh diri. Pasti dirinya akan dikatai sebagai orang gila. Mereka tidak akan percaya. Tidak-tidak! Dia harus memastikannya terlebih dulu.
[ 11:23 p.m. ]
Pulang di malam hari dengan waktu yang tidak berbeda jauh dari kemarin adalah rencana yang sedang dijalankan Aomine. Jika dia benar, pemuda aneh yang ditemuinya kemarin pasti akan datang kembali untuk menghapus gambar tersebut.
Bingo!
Perkiraannya tepat. Masih dengan pakaian yang sama, pemuda itu masih menyemprotkan pilok berwarna merah untuk menghapus gambar tersebut. Perlahan tapi pasti, Aomine mencoba menghampiri pemuda tersebut.
"Kau tidak kapok juga ya?" sahut Aomine.
Pemuda aneh itu diam tidak menanggapi ucapan Aomine. Dirinya masih sibuk menyemprotkan pilok tersebut.
"Hmm, mungkin kau tidak bisa berbicara ya." Lanjutnya
Aomine tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Dia harus tenang. Ambil informasi dulu baru bertindak. Ya, dia tidak boleh bertindak gegabah.
"Bagaimana kau bisa tau kalau mayat gadis kecil itu diletakan di samping tempat sampah?"
Gerakan sang pemuda terhenti. Tangannya terhuyung lemas begitu saja menghentikan kegiatannya. "Aku hanya seorang pelukis jalanan." Untuk pertama kalinya pemuda aneh itu berbicara.
"Hoo… Kau bisa berbicara juga ternyata. Syukurlah." balas Aomine malas.
Hening sesaat. Tidak ada diantata mereka yang melakukan kegiatan lain. Hanya diam, menunggu satu dari mereka memulai pembicaraan.
"Kau tau, mood ku sekarang sedang kacau. Jawab dan ikuti saja perintahku jika kau tidak ingin celaka." Aomine tampak berfikit sebentar. "Bagaiman kau bisa tau kalau mayat gadis kecil itu berada di samping tempat sampah?" desisnya tajam.
.
.
.
.
.
.
"Aku hanya seorang pelukis jalanan."
BUAAGGHHH!
KLANNTANGG!
Kalimat akhir yang pemuda aneh itu katakan, membawanya pada kesialan. Aomine menarik pergelangan tangannya sebelum menghempaskan kepalan tangan ke wajahnya. Pilok yang dia gunakan terjatuh begitu saja, begitu pula tubuhnya yang ikut terjatuh.
Tudung yang menutupi kepala pemuda aneh itu terbuka. Kini Aomine bisa melihat jelas wajahnya. Surai merah pendek dengan gradiasi hitam dibawahnya. Iris crimsonnya menatap tajam. Dan apa-apaan alisnya yang bercabang itu. Raut wajahnya, jika Aomine boleh tebak pasti dia lebih muda 2 atau 3 tahunan.
Aomine berjongkok, mencengkram jaket pemuda itu. "Kau pembunuh gadis itu bukan?! Iya, kau adalah pembunuhnya! Tidak mungkin kau bisa menggambar seperti itu jika bukan kau yang melakukannya." Selidiknya.
Merasa kesal dengan perlakuan Aomine, pemuda bersurai merah itu menghempaskan tonjokannya ke wajah sang polisi, sehingga dirinya dapat terbebas.
"Aku hanya seorang pelukis dan aku tidak tau menau dengan gadis yang terbunuh itu." Jelas pemuda aneh itu dengan sedikit penekanan disetiap katanya.
Tas hitam yang tergeletak begitu saja di samping dinding langsung disambar olehnya sebelum pergi meninggalkan Aomine. Masa bodo dengan polisi yang menatapnya dengan tatapan membunuh itu. Masa bodo dengan gambarnya yang belum selesai dihapus.
Aomine bangkit berdiri, menatap kepergian sang pemuda yang belum dia tau namanya. Tangannya mengepal erat pilok berwarna merah yang bukan miliknya.
"Aku pasti akan menangkapmu!"
Lanjut ke chapter berikutnya
Hoo, Leavi datang membawa fanfic baru. Idenya muncul pas lagi ngerjain UAS matematika..haha Tapi baru bisa ditulis sekarang.
Oya, ini ceritanya terinspirasi dari film korea, judulnya "The Gifted Hands" milik CJ Entertainment. Yang diperanin sama Kim-Bong ceritanya gak bakal sama gitu kayak filmnya.
Pemuda yang ada di gang itu, kalian pasti udah pada tau kan siapa? Haha
Trus untuk masalah genre, Leavi juga masih bingung. Maafkan Leavi kalau penjelasannya berantakan. Ini masih chapter pembuka. Jadi hal-hal yang berbau psychometry belum keluar. Di chapter selanjutnya mungkin akan ada.
Untuk masalah update, Leavi gak bisa janji cepat. UN tinggal menunggu hari kawan :'D Leavi harus fokus ke satu tujuan dulu. Dan sekedar informasi aja, untuk ff Leavi yang Choice, -kalau ada yang baca- bakal Leavi lanjutin. Mungkin dengan ada perubahan di chapter awalnya.
Dan bagi yang belum tau apa itu psychometry, itu adalah kemampuan psikis di mana seseorang bisa merasakan atau "membaca" sejarah suatu objek dengan cara menyentuhnya. Jadi kayak flashback gitu.
Kebanyakan nulis notenya ini. Yaudah deh. Akhir kata,
Review?