Boomie menatap halaman rumah nenek kakeknya yang penuh bunga-bunga di dalam pot. Disana juga dihiasi kolam kecil, tak banyak rumput yang menutupi tanah kecoklatan itu. Dan mata anak itu jatuh pada ikan-ikan yang berenang di dalam kolam. Boomie merasa bosan, ia ingin makan es cream bersama uncle Changmin, menonton tivi dan tidur di pangkuan uncle Changmin. gadis itu bertopang dagu melihat burung yang mencari makan di halaman keluarga Kim.
"uncle Changmin."
Boomie melihat saudara-saudaranya ramai bermain di dalam rumah. Tapi ia enggan bergabung. Rasanya tak menarik.
Jaejoong yang melintas melihat putrinya sendirian melihati keponakannya bermain jadi bingung, kenapa anaknya tak ikut bermain bersama mereka.
"Boomie." Boomie menoleh dan memeluk ayahnya. "kenapa?"
Boomie mengangkat kepalanya dan membuat mimik sedih. "Boomie kangen uncle Changmin."
Rasanya Jaejoong seperti dihunus pedang samurai. Mungkinkah insting seorang anak itu sangat kuat saat menemukan orangtuanya. Jaejoong jadi merasa seperti orang jahat yang memisahkan anak dan orangtuanya.
"Boomie kan tahu uncle Changmin sedang sibuk."
"daddy."
"hm?"
"kenapa uncle marah-marah? Apa Boomie nakal?"
Jaejoong tersenyum simpul. "mungkin uncle capek waktu itu."
Jaejoong memeluk putrinya. Sebenarnya uncle bukan marah padamu sayang, tapi pada ku. Batin jaejoong. Mungkin memang tak seharusnya Boomie bertemu dengan Changmin.
Jaejoong harus meninggalkan Boomie begitu kakaknya memanggil perlu bantuan. Dan Boomie yang sendiri kembali termenung. Anak itu melihat telpon rumah yang tergeletak sendirian di pojok. Ia ingat ketika Kyuhyun menyuruhnya menghafal sebuah nomor yang ternyata itu nomor ponsel Changmin. entah apa niat Kyuhyun waktu itu. Mungkin iseng mencoba mengetes apa otak Boomie sama dengan Changmin.
Dan sekarang Boomie siap mendengar suara seseorang diseberang sana.
"halo."
"uncle!"
Changmin yang sedang istirahat latihan langsung kaget mendengar suara anak kecil yang ia tahu itu Boomie.
"Boomie?"
"uncle sibuk?"
"ne."
"boomie kangen."
Changmin tersenyum mendengarnya. Entah kenapa ia malah tak bisa benci anak itu.
"dimana daddy?"
Boomie mengedarkan matanya melihat sekitar. "pergi bersama aunt. Uncle.."
"hm?"
"uncle marah sama Boomie?"
"huh?"
"uncle kesal sekali waktu itu."
Changmin bergerak-gerak gelisah. Rasanya malu juga marah-marah di depan anak kecil. "maaf ya."
"uncle, Boomie ingin naik bianglala lagi."
"kau bisa pergi dengan daddy."
"tapi Boomie mau pergi sama uncle."
"ajak mommy mu."
"Boomie tak punya Mommy."
Changmin menggigit bibirnya. Ia ingat anak ini tak punya ibu. Jadi selama ini Jaejoong membesarkan Boomie sendiri? Entah kenapa hatinya sedikit sumringah. Mungkin terkesan jahat. Tapi itu perasaan refleks tiba-tiba tanpa bisa ia bantah. Jadi mungkin ia punya kesempatan. Kesempatan untuk kembali. Masa bodoh dengan ceramah Yunho semalam panjang lebar tentang dirinya yang harus move. Nyatanya ia memang bodoh dari awal.
"bagaimana dengan besok?"
"uncle bisa pergi?"
"akan aku usahakan."
Otak jenius Changmin memang tak bisa di bantah. Cepat sekali ia mengambil kesempatan. Lagipula jadwalnya belum begitu ketat.
"boomie.."
"iya."
"ajak daddy bersama mu. Dan, jangan bilang uncle akan ikut."
"ne!" boomie senyum gembira sekali. Sampai ia mengabaikan daddynya yang bingung melihatnya merubah ekspresi begitu cepat.
"daddy. Besok kita naik biang lala ya."
"biang lala?"
Boomie mengangguk dan Jaejoong berpikir keras. Biang lala?
.
.
.
Hari itu tiba-tiba hujan, tapi Boomie masih bersih keras ingin pergi. Jaejoong mau tak mau mengikuti kemauan putrinya itu. Kenapa anak ini jadi keras kepala sekali padahal dirinya tidak begitu, ah ia lupa ada darah orang itu dalam tubuh anaknya.
Dan sekarang Jaejoong harus berputar-putar di taman bermain dengan memegang payung. Hujannya sih tidak deras, hanya rintik-rintik. Tangan satunya memegang Boomie yang senang sekali menjauh darinya untuk bermain air hujan. Ia jadi cerewet mengingatkan Boomie yang bermain air. Benar-benar merasa seperti ibu-ibu. Melelahkan sekali.
"uncle!"
Jaejoong merasa jantungnya berhenti, tangannya yang menggenggam Boomie terlepas membiarkan putrinya lari pada sosok tinggi yang memegang payung di seberang sana.
Payung itu terangkat memperlihatkan wajah tampan sang pemilik yang kemudian berjongkok memeluk Boomie. Matanya berjalan pada sosok di seberang yang diam mematung memegang payung menatap dirinya dan Boomie. Seulas senyum tercetak disana. Ia menggendong Boomie dan berjalan pada Jaejoong.
"Boomie memintaku untuk menemaninya naik biang lala."
Mata Jaejoong menatap Boomie yang bergelayut manja pada Changmin. Jaejoong merasa antara senang dan sedih melihat putrinya yang begitu senang pada Changmin.
"bolehkan?" Changmin menyadarkan jaejoong dari dimensinya.
Jaejoong hanya melempar senyum dan itu sudah cukup membuat Changmin jatuh pada lubang yang masih sama.
Changmin berjalan mendahului Jaejoong berjalan di belakang mereka menatap keduanya. Hampir empat tahun, dan sekarang ia seperti mendapati keluarga utuh. Jahat sekali kalau ia harus memisahkan Boomie dengan ayahnya. Changmin memang ayah Boomie. Dan hanya ia yang tahu, juga manajer Changmin.
Jaejoong hanya mengekor kemana dua orang itu berjalan kemudian menaiki beberapa wahana permainan. Sesekali mereka harus berdebat karena Boomie yang memaksa naik wahana berbahaya dan perdebatan itu akan diakhiri dengan Changmin yang menggeret Boomie dan menggendongnya yang menangis.
"uncle cobalah sushi buatan daddy." Changmin menatap tangan Boomie yang siap menyuapinya dan kemudian melirik jaejoong yang pura-pura tak peduli.
Mereka duduk di bangku yang ada di sepanjang jalan untuk membuka bekal. Changmin yang memangku Boomie merasa canggung dengan Jaejoong yang duduk disampingnya. Sudah lama sekali mereka tak sedekat ini. bahkan Changmin bisa merasakan kulit tangan Jaejoong yang tak sengaja bersentuhan dengannya.
"daddy mu yang buat?" changmin mengunyah sambil melirik Jaejoong.
"huum. Masakan daddy yang terbaik."
"jadi masakan uncle buruk?"
"uncle hanya memberi susu dan roti." Jaejoong tertawa dan Changmin berdecak. "tapi es cream uncle nomor satu!"
Changmin gemas sekali sampai menggelitiki anak itu.
Jaejoong mengangkat tangan hendak menyuapi Boomie tapi anak itu menggeleng tak ingin makan dan saat tangan Jaejoong turun Changmin segera memegangnya kemudian mengarahkannya ke mulut. Jaejoong terkejut tapi Changmin biasa saja.
"ternyata memang enak." Kata Changmin sambil tersenyum pada Boomie.
"apa Boomie mengganggu mu."
Changmin mengangkat kepalanya dan menatap Jaejoong.
"kau pasti sibuk."
"tidak. Hanya sedang persiapan album baru." Changmin mencondongkan kepala dengan mulut terbuka. jaejoong menatap bingung dan Changmin melirik kotak makan di tangan jaejoong.
Jaejoong tersenyum tapi menyuapinya juga.
"uncle kan punya tangan." Protes Boomie yang melihat itu.
"tangan uncle sibuk memelukmu."
Changmin bisa saja membenci anak itu. Anak yang mungkin menjadi pihak ketiga diantara hubungannya dan Jaejoong. Tapi anak ini tak tahu apa-apa dan Changmin tak bisa marah saat Boomie menatapnya. Matanya mirip sekali dengan jaejoong dan sifatnya yang menggemaskan membuatnya tak bisa marah apalagi benci.
Changmin menggendong Boomie yang tertidur kelelahan dan tangan kanannya yang menganggur dengan sengaja meraih tangan Jaejoong yang kedinginan. Jaejoong terkejut tapi Changmin tak menunjukkan tanda apapun hanya diam berjalan menyusuri setapak menuju tempat parkir. Jaejoong menatapi Changmin yang diam saja. Rasanya lama sekali tak melihat dan bergandengan sedekat ini. perlahan jemari jaejoong bergerak menyamankan di dalam genggaman Changmin.
Sampai di tempat parkir Jaejoong meraih Boomie dan akan menggendongnya dan kesempatan itu dimanfaat Changmin untuk menarik Jaejoong lebih mendekatinya. Jaejoong tersentak dan menatap Changmin yang juga menatapnya.
"changmin.." jaejoong meronta.
"sstt.. nanti Boomie bangun."
Changmin menempelkan hidungnya pada Jaejoong, menggeseknya membuat Jaejoong menutup mata. Jaejoong tak bisa menolak karena sebenarnya ia menginginkan juga. empat tahun mereka harus memendam perasaan rindu dan sekarang saat bertemu mereka tak bisa mengelak perasaan yang sudah begitu membuncah.
Di kecupnya bibir Jaejoong dengan pelan dan lembut. Kecupan yang mampu membuat Jaejoong merinding dan mengeratkan pegangannya di ujung coat Changmin. inginnya Jaejoong langsung melumat saja bibir Changmin yang sudah ia rindu, tapi ia inginnya Changmin yang bergerak membangkitkan gairahnya. Menciumnya lembut dan membuatnya mencandu sampai tak ingin melepas. Permainan bibir Changmin yang mencumbunya adalah sesuatu hal yang begitu ia rindukan.
Bibir Changmin menekan bibir Jaejoong yang basah. Changmin tak kunjung bergerak dalam permainan, hanya menempel merasakan lembutnya bibir Jaejoong di permukaan bibirnya lama sekali sampai Jaejoong mendorongnya pelan dan melepas kulit bibirnya. Mereka beradu pandang melempar kerinduan masing-masing dari sorot mata. Dan Jaejoong yang begitu menginginkan Changmin segera melumat bibir itu penuh hasrat. Changmin bersorak dalam hati. Ia memang pandai memancing Jaejoong untuk menyerangnya. Dan dengan senang hati Changmin membalas lumatan itu.
"ungh~"
Boomie menggosok matanya melihat dua orang dewasa di depannya begitu dekat dengan bibir menempel.
"daddy.."
Jaejoong langsung mendorong Changmin melepas tautan mereka. Ia mengusap bibirnya cepat-cepat dan memasang senyum melihat putrinya yang masih mengantuk. Dan dengan segera Jaejoong meraih Boomie untuk di gendong. Jaejoong tak berani menatap Changmin yang senyam-senyum melihatnya salah tingkah.
.
.
.
"kenapa malah membawa kami kesini."
Jaejoong menatap bingung karena Changmin bukan membawanya pulang malah sekarang mereka berada di tempat parkir apartemen Changmin.
"sudah malam. biarkan Boomie tidur di sini."
"tapi.."
Changmin keluar dari mobil dan membuka pintu samping Jaejoong. Ia menarik Boomie untuk digendong kemudian berjalan duluan ke dalam meninggalkan Jaejoong yang bengong di mobil.
.
Jaejoong melihati sudut kamar Changmin yang sudah berubah penuh boneka. Ia tertawa pelan mengingat kalau Boomie yang mengubah kamar ini. Dulu memang ia pernah tertidur di sana, malah tanpa busana. Itu masa lalu.
Ia menengok Boomie yang begitu tenang dalam tidurnya. Pelan-pelan tangannya menepuk lengan Boomie dan kemudian mengecupnya. Ia memiringkan badan menghadap sang anak dan memandangnya lama. Kalau ia rindu Changmin, pasti ia akan menatap anaknya lama-lama seperti ini. habis mereka sama.
"ah!"
"sstttt..."
Jaejoong menengok ke dan ternyata Changmin sudah ada di belakangnya memeluknya. Kenapa ia tak tahu ada yang membuka pintu.
"changmin!" jaejoong menekan teriakannya. Tapi Changmin malah mengunci gerakannya. Mendekapnya sampai tak bisa bergerak hanya nafasnya yang tak teratur mengimbangi detak jantungnya yang mulai tak stabil.
"kenapa kau tak pernah menghubungi ku." Bisik Changmin pelan. Jaejoong sampai merinding karena nafas Changmin yang menggelitik leher.
"a-aku.."
"istri mu melarang?"
"ia tak tahu."
"bahkan jika kau menikah aku tetap akan mengejarmu."
Jaejoong diam membiarkan bibir Changmin bergerak di lehernya.
"apa dia lebih baik dariku?"
"chang.." jaejoong bergeliat, bukan karena tak suka dengan ciuman Changmin tapi karena bahan obrolannya itu.
"tapi yang tak aku habis pikir, kenapa Boomie mirip dengan ku." Jaejoong diam saja membiarkan Changmin meninggalkan bekas merah di leher. "aku benci saat kau pergi meninggalkan ku."
"maaf." Desah Jaejoong.
"seberapa special dia untuk mu." Jaejoong menggigit bibirnya tak tahu harus menjawab apa. "jika dia masih hidup, apa kau akan membiarkan ku memelukmu seperti ini?"
"chang.." dan protes Jaejoong kali ini mengarah pada tangan Changmin yang sudah memegang sabuknya.
"sstt.. nanti Boomie bangun. Jangan banyak bergerak."
Nyatanya sekarang Jaejoong memang tak banyak protes. ia menutup mata saat tangan Changmin berhasil melepas sabuknya dan membuka pengait celananya. Jaejoong menggigit bibirnya saat Changmin menurunkan resletingnya. Dan Jaejoong menggenggam erat selimut saat Changmin mendapatkan apa yang dicari.
"c-channgg.."
"kau tak merindukan ku hyung?" changmin mencium dan menjilat telinganya. "kau tau aku hampir mati karena alkohol saat kau pergi."
"nng~"
"kalau mau membunuh ku, lebih baik tusuk saja aku. Jangan meninggalkan ku seperti itu." Changmin memegang kepala Jaejoong untuk menghadap padanya dan mencium telak pria itu tepat di bibir.
Tangan Changmin bergerak turun mengelus perut Jaejoong. Ia sedikit berkerut saat tangannya mengelus sesuatu disana. Sedikit kasar seperti bekas sebuah luka. Luka yang memanjang kebawah dan ia melupakan luka itu saat tangannya semakin kebawah dan menemukan yang lebih menarik untuk disentuh disana.
Jaejoong mendorong kepala Changmin hanya untuk melihat Boomie yang mengigau dalam rancauan mimpi.
Seharusnya mereka pindah agar tak mengganggu Boomie yang tidur. Tapi Changmin langsung membalikkan tubuh Jaejoong sambil buru-buru menurunkan celananya. Jaejoong gelagapan dengan kelakuan Changmin yang begitu tergesa-gesa dan tiba-tiba mengangkat satu kaki Jaejoong keatas di susul milik Changmin yang mendorong pantatnya.
"changmin!" jaejoong memekik pelan.
"ssttt.. nanti Boomie bangun."
"tapi . . ah!" maksud Jaejoong ingin pindah kamar. tapi Changmin sudah berhasil memasukinya. Jadi Jaejoong sekarang hanya bisa megang lengan Changmin yang melintasi pinggangnya.
Kadang rasa rindu bisa membuat seseorang seperti binatang saja. Terlalu buru-buru karena perasaan itu meluap sampai tumpah. Dan itulah yang Changmin rasakan sekarang. Ia seperti kehabisan akal saat Jaejoong sudah berada pada rengkuhannya.
Jaejoong bukan manusia munafik yang akan menolak di sentuh oleh orang yang begitu ia rindukan. Ia menikmati saat Changmin merengkuhnya kuat hanya untuk memasuki dirinya lebih dalam. Bibirnya ia gigit untuk meredam suaranya yang keluar seiring permainan Changmin yang begitu kuat. Matanya melihat Boomie kalau-kalau anak itu membuka mata. Tapi hebat sekali, dengan ranjang yang bergerak seperti itu Boomie tak terganggu sedikitpun. Tetap pulsa dalam mimpi indah.
Jemari Changmin memainkan dada Jaejoong yang mengeras, bibirnya mengcup telinga Jaejoong membangkitkan gairah. Rasanya Jaejoong melayang merasakan sentuhan yang tak pernah ia rasakan empat tahun belakangan. Anggap saja Jaejoong gatal, dan kenyataan memang begitu. tiap malam ia berharap bahwa Changmin akan datang untuk mencumbunya. Dan malam ini hal itu menjadi nyata.
"changmin!" jaejoong menjerit tertahan dan Changmin memelankan gerakan pinggulnya karena sudah mencapai puncak dari kepuasan mereka.
Nafas mereka beriringan saling menderu di dalam kamar yang sepi. Changmin menaikkan celana jaejoong dan kemudian mengaitkan kancingnya. Ia mengecup pipi Jaejoong yang masih mengatur nafas.
"aku mencintaimu."
Changmin tertidur setelah mengucapkan itu. Lengannya mengunci Jaejoong dalam rengkuhan. Jaejoong sedikit menengok kebelakang dan melihat Changmin pulas tertidur. Tangannya menyentuh hidung Changmin, rasanya ingin sekali menarik hidung itu saking gemasnya. Setelah puas langsung tidur. Benar-benar tipikal pria brengsek. Pikir Jaejoong. Ia sedikit menaikkan kepalanya untuk mencium hidung itu. Bibirnya bergerak mengucap kalimat untuk sang kekasih yang tidur.
"jalja minnie.."
-tbc-
ehkhem!
saya balik. hehehe.
puasa-puasa ngeyadong? why not?
#dirajam.
berhubung saya ga puasa, sah2 aja kan? kalian yang puasa di jaga ya~~~
hahahahaha
maaf updatenya seabad. mau gmn lagi, tiap mau nulis bawaannya nguap sehhh...
hmmm... ntr balik lagi taun depan ya. mungkin lama lagi saya update. hehehe.
