LOVE YOUR BODY

CHANBAEK GS

MATURE CONTENT

ENJOY~

.

.

Cuaca siang ini cukup terik untuk awal musim gugur yang seharusnya sudah mulai sejuk. Udara cukup berdebu padahal musim panas sudah lama menghilang. Inilah sebenarnya alasan mengapa seorang gadis muda masih betah bertahan dalam suatu ruangan yang sudah kosong. Gadis mungil itu duduk di bawah pendingin ruangan yang sejuk, membaca sebuah catatan kecil pada bukunya, dan menghabiskan satu cup Americano dingin dalam sekali teguk.

Namanya Byun Baekhyun, mahasiswi tingkat dua jurusan seni yang sedang mengamati gambar-gambar abstrak pada bukunya.

Kelasnya sudah berakhir sejak tadi, tapi ia masih malas meninggalkan ruangan. Terlebih, ia harus masuk kelas nanti sore dan Baekhyun tak mungkin pulang lalu kembali lagi. Itu hanya akan buang-buang waktu percuma.

Baekhyun masih fokus pada catatannya saat sebuah suara debuman keras mengganggu pendengarannya. Dengan cepat Baekhyun menoleh kea rah pintu yang kini terbuka lebar. Dugaannya benar, seseorang menendang pintu itu kuat-kuat.

Baekhyun nyaris mengumpat, tapi ia lebih memilih menutup dan memasukkan catatannya ke dalam tas.

"Kau akan memakai kelasnya?" tanya Baekhyun sopan, ia berdiri dari duduknya, dan melemparkan cup kosong kopi ke tempat sampah.

Pria itu memandangi Baekhyun dengan pandangan dingin menakutkan. Kaki jenjangnya mendorong pintu hingga tertutup sempurna. Sementara Baekhyun memandanginya dengan kepala miring, menanyakan apa yang sedang pria itu lakukan tanpa suara.

Seolah-olah Baekhyun tau pria itu mengerti pertanyaan dalam hatinya.

Baekhyun masih memandangi pria itu dengan aneh, kemudian memutuskan untuk tidak peduli. Ia berjalan maju menuju pintu keluar, berniat menghiraukan pria itu. Baekhyun baru melangkahkan kakinya beberapa langkah, suara pria itu terdengar di telinganya.

"Byun Baekhyun?" panggilnya dengan suara berat yang halus.

Baekhyun berhenti berjalan, sedikit mengangkat kepalanya untuk menatap pria itu –karena perbedaan tinggi yang cukup jelas terlihat, Baekhyun harus mendongak. "Kau mengenalku?" tanya Baekhyun.

"Kau sendiri mengenalku," balasnya.

"Tentu saja. Siapa yang tidak mengenalmu," Baekhyun mengatakan dengan nada acuh. "Park Chanyeol," tambahnya.

Chanyeol terkekeh, terdengar angkuh di telinga Baekhyun, membuat gadis itu sedikit mengernyit memandangi pria jakung di hadapannya. "Kudengar kau menyukaiku,"

Baekhyun tersenyum tipis. "Kau benar,"

Sementara Baekhyun menjawab dengan acuh, Chanyeol gagal menyembunyikan keterkejutannya.

Bagi Chanyeol, untuk ukuran seorang gadis remaja, Baekhyun ini tidak normal.

Dan ini kali pertama Chanyeol menemukan gadis yang seperti ini.

"Wow, kau bahkan sama sekali tidak mengelaknya," jawab Chanyeol, berjalan mendekati Baekhyun.

Secara naluri Baekhyun mundur, menghindari langkah panjang Chanyeol yang semakin mendekatinya. "Kau ingin aku menyangkalnya?" balas Baekhyun.

Langkah mundur gadis itu terhenti saat punggungnya menyentuh dinding berwarna gading pucat di belakangnya, sedangkan Chanyeol masih menyudutkannya dengan seringaian yang jelas tercetak di wajah piasnya.

Kedua tangan Chanyeol terulur ke depan, menempelkannya ke tembok, secara otomatis mengungkung tubuh Baekhyun di antara kedua lengannya. Chanyeol mendekatkan wajahnya pada Baekhyun, masih dengan seringain menggoda.

Sementara dalam hati Chanyeol sedikit bingung dengan reaksi gadis itu, jika biasanya seorang gadis akan gugup jika dalam keadaan seperti ini, maka berbeda dengan Baekhyun. Dengan berani, Baekhyun menatap tepat di mata Chanyeol, menatap pria itu dengan pandangan menantang yang jelas.

Seolah-olah Baekhyun tak pernah menyukai Chanyeol seperti gossip yang beredar.

Chanyeol memiringkan kepalanya, sedikit maju hingga hidungnya nyaris menyentuh hidung Baekhyun. Gadis itu secara otomotis sedikit menarik kepalanya agar tidak bersentuhan dengan Chanyeol.

"Kudengar dari teman-temanmu yang berisik itu, kau menyukaiku, Byun Baekhyun," Chanyeol berhenti sebentar untuk menatap mata Baekhyun lekat-lekat, sedangkan Baekhyun masih memandangi pria itu dengan pandangan menantang. "Jadilah kekasihku,"

Dengusan Baekhyun terdengar mengejek. "Kupikir awalnya kau pria brengsek. Ternyata memang benar. Brengsek," umpat Baekhyun penuh penekanan.

Tawa renyah Chanyeol terdengar mengerikan bagi Baekhyun sekarang. "Kau menyukaiku, kupikir kau akan mau menjadi kekasihku, Byun,"

"Bodohnya aku jika melakukannya," balas Baekhyun cepat. Gadis itu meletakkan kedua tangannya di dada Chanyeol dan mendorong pria cukup kuat itu hingga kedua tangannya terlepas dari tembok. "Anggap saja pembicaraan ini tak pernah terjadi," Baekhyun berjalan mendahului Chanyeol.

"Aku serius, Byun Baekhyun," ucap Chanyeol cepat, membuat Baekhyun berhenti melangkah dan menoleh kea rah pria itu dengan pandangan bingung.

"Aku tidak ingin berpacaran dengan orang asing yang tak kukenal," jawab Baekhyun.

Chanyeol terkekeh ringan, kembali berjalan mendekati Baekhyun. "Kita tau nama satu sama lain, kurasa itu cukup,"

Baekhyun tertawa mengejek. "Lucu sekali," dengusnya ringan. Ia berjalan meninggalkan Chanyeol begitu saja, kemudian menutup pintu dari luar dengan suara debuman keras yang memekakkan telinga, membuat pria di dalam ruangan itu mengerang pelan.

.

.

Baekhyun membanting tasnya tepat di samping Luhan, membuat gadis China itu mengumpat dengan bahasa asing yang Baekhyun sudah kenal dengan baik.

"Ada apa denganmu, Byun?" dengusnya kesal.

Baekhyun menggeleng ringan, meminum es coklat Luhan tanpa ijin. "Hari ini panas sekali," ucapnya ringan. "Semangatku menguap entak kemana,"

Luhan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.

"Hey kau sudah dengar kabar?" ucap seorang gadis di belakang kursi Baekhyun.

Baekhyun mendesah ringan, kemudian meletakkan kepalanya di atas mejanya. "Aku terlalu lelah mendengar semua gossipmu, Zitao," balas Baekhyun.

"Ini berita panas, asal kau tau saja," balas Yixing di sampingnya.

"Benarkah?" sahut Luhan semangat.

Baekhyun mendengus malas. "Teman-teman, bisakah kita sudikit lebih tenang?" pinta Baekhyun malas. "Hari sudah terlalu panas tanpa kicauan kalian,"

Ia bisa mendengar ketiga gadis itu mendengus, tapi Baekhyun tak peduli.

Yixing menggerutu dengan bahasa yang tak Baekhyun pahami, kemudian Luhan menyahut dengan semangat –masih menggunakan bahasa yang tak Baekhyun pahami. Baekhyun berada disana, namun seolah-olah gadis itu sedang berada di sebuah negara asing.

Baekhyun sama sekali tak bisa mengerti bahasa Mandarin, dan sekarang ia mulai menyesal berteman dengan ketiga gadis China itu.

Samar-samar Baekhyun mendengar Zitao dan Yixing mengulang nama Chanyeol dalam pembicaraan mereka.

"Kau tak ingin mendengarnya juga, Baek?" tanya Yixing.

"Aku mendengar daritadi," balas Baekhyun malas.

Ketiga gadis itu terkekeh ringan. "Kudengar Chanyeol memiliki tunangan dari Jepang," ucap Zitao dengan bahasa yang Baekhyun pahami sekarang.

"Kudengar mereka sudah bertunangan musim panas lalu," tambah Yixing dengan cengiran lebar yang menganggu.

"Kau baik-baik saja?" tanya Luhan.

"Kau tak akan sepatah hati itu kan?" tambah Zitao.

Baekhyun mendengus kesal. "Lucu sekali," ucapnya acuh sambil memejamkan mata. Sementara ketiga temannya melanjutkan berbicara dengan bahasa yang tak Baekhyun mengerti.

.

.

Selama kelas berlangsung, Baekhyun benar-benar tak bisa memfokuskan pikirannya. Selain ia terlalu lelah karena tugasnya yang menumpuk, ia juga memikirkan tentang kegilaan Chanyeol siang tadi. Meskipun Baekhyun menganggap Chanyeol hanya bercanda dan mempermainkannya, tetap saja, itu menjengkelkan.

Terlebih Baekhyun memang mengagumi pria itu.

Baru saja perkuliahannya selesai, Luhan mengguncang tubuh Baekhyun dengan kasar, membuat gadis itu menoleh kea rah Luhan kesal.

"Baekhyun, lihat itu," Luhan menunjuk kea rah pintu, membuat Baekhyun dengan malas mengikuti arah yang ditujukan gadis itu.

Baekhyun cukup terkejut saat melihat seorang pria jakung yang berada di ambang pintu. Chanyeol berdiri disana, dengan kacamata hitam bertengger manis di hidungnya yang mancung.

"Byun Baekhyun, bisa kita bicara sebentar?" ucap Chanyeol lantang, membuat semua orang di dalam ruangan menoleh kea rah Baekhyun dengan suara bisik-bisik riuh.

Sementara Baekhyun mengumpat dalam hati, Luhan, Yixing, dan Zitao menatapnya dengan pandangan tak percaya yang jelas.

"Sial," umpat Baekhyun, mengambil tasnya asal dan berjalan menuju pintu keluar, membiarkan tatapan teman-teman sekelasnya yang penuh keheranan.

Baekhyun melirik Chanyeol dengan tatapan tajam, kemudian meninggalkan pria itu begitu saja untuk keluar dari kelas.

Chanyeol benar-benar merusak harinya sekarang.

"Baekhyun, tunggu," ucap Chanyeol dari belakang tubuh Baekhyun. Tangan pria itu menarik tangan Baekhyun, membuatnya berhenti berjalan dan menoleh. "Kita perlu bicara,"

Baekhyun mendengus malas, menyentak tangan Chanyeol dengan kasar. "Tak ada yang perlu dibicarakan," Baekhyun memutar tubuhnya dan kembali berjalan cepat.

Chanyeol berjalan mendahului gadis itu dan berhenti tepat di depan tubuhnya. "Baekhyun, kita butuh bicara," ulang Chanyeol tegas.

"Maaf, tapi aku tidak bicara dengan pria brengsek sepertimu," ucap Baekhyun kasar, menggeser tubuhnya untuk berjalan meninggalkan Chanyeol.

Chanyeol mengernyit heran memandangi punggung Baekhyun yang perlahan menjauh.

.

.

Keesokan harinya Baekhyun kembali memulai harinya, berharap bahwa hari ini akan normal dan Chanyeol berhenti menganggungnya. Sejak pagi ia sudah mendengar celotehan sahabat-sahabatnya, menanyakan apa yang terjadi antara dirinya dan Chanyeol. Mereka sudah menanyakan rentetan pertanyaan yang nyaris membuat Baekhyun menjerit kesal.

Tapi Baekhyun memutuskan untuk diam dengan music menggaung keras di telinganya melalui earphone.

Siang sudah sangat terik saat Baekhyun berjalan dengan cepat menuju ruangan di lantai atas. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang lain, menjadi pengurus salah satu club kampus bukan hal yang mudah baginya. Terlebih, Baekhyun punya segudang pekerjaan untuk di selesaikan.

Dia harus mendesain gambar untuk acara tahunan kampus yang cukup besar.

Dan Baekhyun rela bekerja keras untuk itu.

"Baekhyun," panggil seseorang, membuat Baekhyun menoleh ke arah pria yang memanggilnya itu.

Sehun berdiri disana, sedikit berlari menghampiri Baekhyun yang mematung di depan tangga. "Ada apa?" tanya Baekhyun pada teman satu club-nya itu.

"Kau akan melanjutkan desainnya?" tanya Sehun.

Baekhyun mengangguk. "Tentu saja," balas Baekhyun acuh.

Sehun tersenyum canggung. "Maaf, sepertinya aku tak bisa membantumu,"

"Ada apa?" tanya Baekhyun cepat. "Kau akan pergi kencan lagi?" ucapnya acuh, berjalan memasuki lift yang sudah terbuka.

Sehun tidak mengikuti Baekhyun. "Aku ada perlu, pintunya tidak terkunci," ucapnya sambil melambaikan tangan saat pintu lift mulai tertutup.

Baekhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Sehun yang sebenarnya menyebalkan itu.

Saat pintu lift terbuka, Baekhyun melangkahkan kakinya dengan malas menelusuri koridor remang menuju ruang club-nya di ujung koridor. Ia melepaskan earphone-nya dan membuka pintu ruangan kosong itu.

Baekhyun menyalakan lampu dan nyaris terkejut saat tiba-tiba pintu di belakangnya tertutup –kemudian terkunci. Chanyeol berdiri disana, dengan cengiran lebar, menatap Baekhyun dengan pandangan mengintimidasi yang terlihat jelas.

Jemari pria itu memutar kenop pintu –memastikan pintunya terkunci.

Dalam hati Baekhyun mengutuk Sehun.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Baekhyun, berjalan mundur dengan tenang. Ia meletakkan tasnya di atas meja, kemudian melepaskan jaket tipisnya.

Chanyeol terkekeh ringan. "Bagaimana jika kubilang aku menginginkanmu?"

Decihan Baekhyun terdengar mengejek, gadis itu duduk di sofa ujung ruangan dan membuka satu kaleng minuman dingin. "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Park Chanyeol?" tanya Baekhyun langsung, mengangkat kakinya ke atas meja dan menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa yang empuk.

Ia terlalu lelah untuk pura-pura peduli.

Chanyeol berjalan mendekati gadis itu. "Aku ingin kau jadi kekasihku, Byun. Bukankah aku sudah mengatakannya dengan jelas kemarin,"

"Lucu sekali," umpat Baekhyun. "Kau punya alasan untuk itu?" debat Baekhyun cepat, perlahan memejamkan mata.

Persetan dengan Chanyeol, ia benar-benar lelah hari ini.

"Kau menyukaiku, bukankah kau menginginkanku juga?" tanya Chanyeol.

Tawa renyah Baekhyun terdengar keras. "Mungkin kau salah paham, Park Chanyeol. Aku hanya mengangumi bentuk tubuhmu, bukan menginginkanmu,"

"Bukankah itu sama?" balas Chanyeol. "Kau menyukai tubuhku, bukankah itu berati kau menyukaiku juga?"

Baekhyun mendengus malas. "Mungkin kau terlalu bodoh untuk mengerti," balasnya kasar.

"Aku tidak sedang main-main, Baekhyun," debat Chanyeol.

"Kau pikir aku main-main?" Baekhyun menegakkan tubuhnya. "Aku mahasiswa seni, tentu saja aku menilai seseorang dari proporsi tubuh mereka. Kau tidak pernah belajar tentang seni ya?" tanya Baekhyun mulai kesal, meminum sodanya lagi.

"Aku terlalu sibuk untuk mengerti," balas Chanyeol acuh.

"Dengar, Park Chanyeol," Baekhyun berhenti sebentar untuk berdiri di hadapan Chanyeol. "Aku hanya mengagumi tubuhmu sebagai objek seni. Kulihat kau punya proporsi tubuh yang bagus, asal kau tau saja itu mendekati sempurna. Sudah jelas orang-orang sepertik menilai itu sebagai sebuah seni," jelasnya.

"Kau bahkan belum melihatnya secara langsung," dengus Chanyeol.

Baekhyun tersenyum. "Tidak perlu," balasnya. "Sekarang jika kau sudah selesai bicara, pergilah, aku harus bekerja," ucap Baekhyun kasar, berjalan mundur untuk menjauhi Chanyeol.

Detik berikutnya, Baekhyun membulatkan matanya saat Chanyeol menarik tubuhnya dan menempelkan bibirnya yang panas ke bibir Baekhyun. Kedua tangan Chanyeol merengkuh wajah Baekhyun untuk menahan kepala gadis itu, sementara bibirnya melumat bibir Baekhyun dengan lembut.

Bibir Chanyeol bergerak di sepanjang bibirnya, berusaha membuka bibir mungil itu, tapi Baekhyun menatupkannya kuat-kuat.

Dan Baekhyun tidak bergerak sama sekali.

Ia membiarkan bibir Chanyeol menelusuri bibirnya dengan lembut, membiarkan pria itu menciumnya dengan tidak sopan.

Membiarkan jantungnya yang berdetak sangat cepat dan nyaris meloncat keluar.

Chanyeol melepaskan bibir Baekhyun, kemudian tersenyum pada gadis itu. Baekhyun balas tersenyum singkat, kemudian satu tamparan keras mendarat di pipi Chanyeol.

Senyuman gadis itu lenyap sudah.

Chanyeol terkekeh ringan, memegangi pipinya yang memerah. "Bagaimana? Apa jantungmu berdetak lebih cepat? Apa kau yakin tak menyukaiku?" godanya dengan seringaian khas Park CHanyeol yang menyebalkan menurut Baekhyun.

Baekhyun diam untuk beberapa saat, ia memandangi Chanyeol dengan pandangan menghina. "Sayangnya tidak," balas Baekhyun angkuh.

Oke, Baekhyun bohong untuk yang satu itu.

Bagaimana mungkin jantungnya tidak berdetak lebih cepat sekarang.

Baekhyun mengusap bibirnya yang basah karena Chanyeol dengan punggung tangan, kemudian memandangi pria itu dengan tatapan penuh kebencian.

"Pembohong," balas Chanyeol cepat.

"Katakan saja apa maumu, brengsek!" bentak Baekhyun, mendorong dada Chanyeol agar menjauh dari tubuhnya.

"Jadilah kekasihku, Byun,"

Baekhyun mendesah ringan, mengacak rambutnya asal. "Aku tak tau apa maksudmu dan aku tak peduli. Jadi pergilah," balas Baekhyun, berjalan melewati Chanyeol menuju tumpukan kanvas di ujung ruangan.

"Aku minta bantuanmu, Baek," dan Baekhyun berhenti bergerak karena suara Chanyeol yang terdengar sangat lembut memohon padanya. "Berpura-puralah menjadi kekasihku," tambah Chanyeol.

Baekhyun memutar tubuhnya dan kembali berjalan mendekati Chanyeol, berusaha mencerna kalimat yang dilontarkan pria itu. "Apa maksudmu?"

Chanyeol menghempaskan tubuhnya di sofa. "Aku membutuhkanmu, Baek,"

Baekhyun mendudukkan tubuhnya di samping Chanyeol, menatapnya dengan heran bercampur penasaran. "Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Orang yang kucintai akan menikah dua hari lagi," ucap Chanyeol dengan cengiran miris.

Baekhyun terkekeh, terdengar seperti sebuah ejekan di telinga Chanyeol. "Jadi kau ingin aku pura-pura menjadi pacarmu agar dia berpikir seolah-olah kau sudah melupakannya?"

"Bukan," sahut Chanyeol dengan satu geraman ringan. "Aku hanya butuh alasan,"

"Aku tak mengerti," ucap Baekhyun sambil geleng-geleng kepala heran.

Benar-benar tak mengerti maksud pria itu.

Chanyeol menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa, kemudian memejamkan mata. "Aku tau dia mencintai pria lain dan aku memilih meninggalkannya dengan alasan ada gadis lain yang kusuka,"

Baekhyun terkekeh. "Wah luar biasa. Jadi pria brengsek ini punya kisah cinta yang menyedihkan juga,"

Tawa Chanyeol terdengar angkuh. "Kau benar. Aku hanya pria bodoh yang merelakan orang yang kucintai pergi dengan pria lain,"

"Mengapa kau melakukan itu?" tanya Baekhyun, tak bisa menutupi rasa penasaran.

"Kau pikir menyenangkan jika ada orang lain yang menganggu hubunganmu?" tanya Chanyeol, Baekhyun hanya mengangkat bahu acuh.

"Kau terlalu pengecut karena menyerah. Benar-benar memalukan," kekeh Baekhyun, mengambil kaleng minumannya dan menghabiskan sisa soda dari dalam sana.

Chanyeol terkekeh ringan. "Aku tak mau menjadi ayah anak orang lain,"

"Apa maksudmu?" ucap Baekhyun cepat, nyaris tersedak.

"Ya, dia sudah memiliki calon anak," ucap Chanyeol dengan dengusan ringan.

Baekhyun tersenyum miris. "Kau pasti sakit hati sekali ya?" Chanyeol hanya memandanginya dengan aneh. "Kau yakin itu bukan anakmu?"

Tawa Chanyeol terdengar mengalun indah. "Aku sangat menjaganya, bagaimana bisa aku melakukan hal sekotor itu padanya,"

Baekhyun mendengus. "Wah, aku tak percaya pria brengsek yang baru saja menciumku dengan paksa mengatakan hal itu,"

"Maaf untuk itu, aku kehabisan cara untuk membujukmu," balas Chanyeol acuh. "Kau mau membantu atau tidak?"

"Apa yang akan kudapat?" balas Baekhyun cepat.

"Apa yang kau inginkan?" Chanyeol menatap gadis itu lekat-lekat.

Baekhyun menggeleng ringan. "Belum kupikirkan," jawabnya.

"Kau bisa memikirkannya nanti," Chanyeol berhenti sebentar untuk menarik tubuh Baekhyun agar menatapnya. "Kau akan membantuku, kan?"

"Mengapa harus aku? Ada banyak gadis lain diluar sana yang menggilaimu, Park,"

Chanyeol membuang napas sekali. "Tak ada orang lain yang bisa kupercaya,"

Baekhyun mendengus. "Bahkan kita belum saling kenal sebelumnya," ucapnya acuh.

Chanyeol hanya tersenyum ringan.

.

.

"Kubilang aku akan mengantarkanmu pulang," ucap Chanyeol sambil berjalan menyusul Baekhyun yang berjalan mendahuluinya.

Baekhyun melirik sekitarnya, beberapa orang memandangi mereka dengan tatapan aneh penuh pertanyaan. "Tak perlu, aku akan pulang bersama Luhan,"

"Kupikir Luhan sedang ada janji," balas Chanyeol sambil menahan tawa.

Baekhyun mengerang kesal, membiarkan Chanyeol menarik tangannya menuju tempat parkir.

"Chan, kau membuat semua orang memperhatikan," ucap Baekhyun saat gadis itu sudah memasuki mobil Chanyeol, memasang sabuk pengaman dengan cepat dan mengambil ponsel dari saku jaketnya.

"Yah, kau memang pantas diperhatikan,"

Baekhyun mengeran kesal, kemudian mengusap layar ponselnya beberapa kali, memeriksa apakah ada pesan penting yang masuk sementara ia bekerja, tapi ia tak menemukan apapun selain ocehan teman-temannya yang tidak penting.

Oke, sekarang Baekhyun tau rasanya jadi popular.

Hanya dalam waktu satu hari, Baekhyun bisa merasakan menjadi pusat perhatian. Tentu saja, Chanyeol penyebabnya. Kemarin Baekhyun hanya gadis normal yang cuek terhadap lingkungan sekitar, tidak pernah menjadi bahan pembicaraan orang lain, dan sekarang, semua berubah total. Hanya karena seorang playboy kampus yang terus menerus menempel padanya, Baekhyun langsung menjadi bahan pembicaraan semua orang.

Demi Tuhan, Chanyeol hanya butuh waktu kurang dari sehari.

Chanyeol mengendarai mobilnya keluar dari gerbang kampus, sementara Baekhyun mengetikkan alamatnya pada GPS Chanyeol.

"Wah kita benar-benar beda arah," ucap Chanyeol, menunjuk GPS dengan ujung dagunya yang runcing.

Baekhyun mendengus. "Apa sekarang kau menyesal?"

Chanyeol mengangkat bahu. "Yah, sedikit," ucanya dengan kekehan ringan.

"Jadi, Chan, apa yang harus kulakukan untuk membantumu?" tanya Baekhyun.

Chanyeol berpikir sejenak. "Kau hanya harus pura-pura menjadi pacarku," jawabnya.

"Hanya saat kita datang ke pernikahan itu kan?"

"Siapa bilang?" ucap Chanyeol dengan senyuman lebar. "Sampai semua orang tau kau pacarku,"

"Apa?" Baekhyun nyaris menjerit.

.

.

TBC

.

.

Ini edisi revisi karena yang kemarin ada yang diubah. Mumpung ada ide lagi, Author lanjutin cerita ini. Silahkan kritik dan saran untuk Author di kolom review.

Ada yang minat dilanjut?

Sekian, terima kasih telah membaca dan mereview cerita ini.

With love,

lolipopsehun