Netra dibalik kaca mata bening menatap deretan nominal angka pada lembaran berkas di depannya, ketika pintu besar diruangan itu dibuka—didobrak secara paksa dari luar, hingga menimbulkan suara ribut yang mengundang beberapa pasang mata diluar pintu.
"Tak bisa dimaafkan." Pelaku pendobrakan pintu mendesis tajam pada sang pemilik ruangan. "Ini sudah yang ke lima kalinya dalam minggu ini." Lanjutnya menambahi. Ia berdiri angkuh diambang pintu, membiarkan pintu ruangan itu terbuka lebar, sangat memungkinkan bagi pasangan cuping telinga mencuri dengar tanpa kesulitan.
Mau tak mau, pemilik ruangan itu menganggat wajahnya. Perhatiannya terpusat pada seorang pria paruh baya sang lawan bicara, menatap lurus pada sepasang netra yang juga dimilikinya. "Mau bagaimana lagi. Dia tidak cocok denganku, ayah. Dan.. tolong pintunya, ayah." Balasnya dengan nada kalem.
Merasa pegal karena berdiri, pria paruh baya itu berpindah dari tempatnya setelah menutup pintu—menuruti perkataan sang anak. Pria itu mendudukkan dirinya di sofa mewah yang berada di ruangan itu. "Tapi nak, kau tahu sendiri dia itu keras kepala." Pria itu menghela nafas lelah.
"Tidak ayah, kau salah. Aku sama sekali tak tahu, dan aku tak ingin tahu."
"Dia mengancam akan bunuh diri jika kau tetap menolaknya."
Pemuda yang berada dibalik meja kerja mengendikkan bahu acuh. "Aku tak peduli. Itu bukan urusanku." Jawabnya seraya menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.
"Tapi aku peduli, nak. Bukan padanya, tapi padamu. Kau tahu jika ayah sudah tua, dan kau tahu betul apa yang ayah dan ibumu minta selama ini." Seketika wajah pria itu menampilkan ekspresi serius.
Sang lawan menautkan kedua tangannya diatas meja, lalu menumpukan dagunya diatas tautan jemari pianis miliknya. "Lalu?" katanya dengan nada menantang.
Ekspresi sang ayah berubah geram. "Apa kau bilang, nak? 'Lalu?!' Demi Tuhan! Usiamu bahkan sudah seperempat abad!" katanya hiperbolis.
Pemuda itu memutar bola matanya malas. "Jangan berlebihan, ayah. Kasta bahasa ayah terlalu tinggi! Tinggal bilang dua puluh lima tahun, apa susahnya?"
Pria itu hanya bergumam pelan menanggapi jawaban putra tunggalnya. Dalam hati pria itu bersungut—kekanakan sekali, karena permintaannya belum juga dikabulkan sang anak.
"Lagipula—" sang anak menggantung kalimatnya, dengan sengaja untuk menarik perhatian ayahnya.
"Hmm?" pria itu menyahut ingin tahu.
Pemuda yang telah menjadi pemimpin perusahaan di usianya yang masih tergolong muda, menyerigai kepada ayahnya. Hal yang seketika ditanggapi sang ayah oleh tegukan saliva. Dalam benak sang ayah, putranya yang tampan itu jarang sekali berserigai. Putranya lebih sering tersenyum kalem daripada berserigai sedemikian rupa.
"—permintaan ayah sudah kupenuhi. Ayah hanya perlu menunggu waktu sembilan bulan sepuluh hari lagi, bukan begitu seharusnya, ayah?" serigai pemuda itu semakin lebar kala melihat netra sang ayah yang membola karena terkejut.
Pemuda itu tertawa kecil menyudahi serigainnya, Dalam sekejap membuat sang ayah tersadar dari keterkejutannya. Sang ayah berdehem pelan sebelum berkata. "Jadi.. seperti apa dia? Cantik, manis, atau.. seksi?" ia berusaha mengendalikan suaranya agar tidak terdengar bahagia berlebihan.
Dengan gaya cool, pemuda itu menyisir helaian surainya dengan jemari tangan kanannya. Ia kemudian menatap ayahnya dengan tatapan seolah dia adalah sang raja dari segalanya.
"Lebih dari itu, tentu saja."
"Huh? Ap—"
"Tiga bulan dari sekarang, aku pastikan bahwa ayah dan ibu pasti punya menantu."
.
Roar!
.
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Main pair; Naruto X Sasuke, Slight pair; NH, SS, dll
Rate; T
Genre; Bad!Romance
Warning; BL! Mpreg! Cute!Sasuke, Cruel!Naruto,
Summ; Aku tak mengenal apa itu cinta. Tapi satu-satunya hal yang kuinginkan adalah memilikimu sepenuhnya, apapun caranya, bahkan aku tak peduli jika kau akan terluka karena ulahku. Karena kau obsesiku terbesar dalam hidupku./
.
Prolog!
Roar!
.
"Terimakasih, bibi! Sampai jumpa lagi!"
Seorang pemuda berparas manis berseru ceria kepada wanita paruh baya pemilik toko bunga yang membalas dengan senyum hangat. Matahari yang telah tenggelam beberapa jam lalu tak mengurangi intensitas keceriaan pemuda itu sedikitpun.
Dengan menaiki sepeda tuanya yang mulai berkarat, pemuda manis tersebut mengayuh dengan santai ditepi jalan utama kota Tokyo, yang saat ini telah sepi. Hanya ada beberapa mobil, serta bus yang sesekali melintas.
Sebuket bunga mawar putih yang berada di keranjang sepedanya—titipan untuk ibunya, sangat indah. Pemilik toko bunga Yamanaka memang hebat dalam merangkai bunga. Tanpa sadar, senyum tipis tersungging dalam bibir sewarna buah persik miliknya.
"Hmm.. Teman ibu memang baik. Setiap minggu memberikan sebuket bunga mawar putih secara cuma-cuma." Pemuda bersurai legam itu bergumam lirih, dalam hati memuji semua teman orang tuanya yang baik—terlalu baik mungkin.
Keluarganya hanya golongan sederhana, makan seadanya. Tinggal di atas tanah sejengkal, itupun harus dibagi dengan pamannya, adik dari ayahnya.
Tiap malam pasti.. ah sudahlah. Mahasiswa berotak jenius, tahun pertama itu sedikit mendumel pelan mengingatnya. Ingatannya akan hal-hal yang terjadi menjelang tidur sungguh membuat moodnya memburuk.
Ha-ah. Hidup susah memang butuh perjuangan.
Mengendara sambil melamun bukanlah tindakan yang terpuji. Seharusnya semua orang tahu itu. Tapi mungkin saja tidak berarti bagi pemuda itu. Dia tidak sadar saat sebuah mobil melaju cepat serta tidak stabil dari arah berlawanan. Seperti biasa; pengendara yang menggemari minuman beralkohol.
Lamunan pemuda itu baru tersadar saat sebuah cahaya menyilaukan pandangannya, membuatnya buta untuk sesaat. Suara klakson yang menjerit membuat bola mata bulat miliknya mengecil ketakutan. Cahaya silau yang berkelok kesana-kemari tengah menuju kearahnya, padahal dia yakin bahwa dirinya berada di jalur yang benar; di tepi jalan tempat pengendara sepeda.
Tiiiin!
Ia panik, tentu saja. Tak mau mengambil resiko, pemuda itu membanting setir sepedanya kearah kiri—menuju tengah jalan, tepat diasaat mobil itu menuju kearahnya.
BRAAKK!
DUARR!
Mobil itu menyusup masuk dalam bangunan rumah penduduk, menimbulkan suara ricuh, dan tak lama kemudian tergantikan oleh suara ledakan memekakkan telinga.
Sementara itu, pemuda yang mengendarai sepeda tadi oleng, menukik tajam dengan kelokan yang mendebarkan. Mata hitamnya menyorotkan kegerian ketika roda sepeda yang ditumpangi olehnya akhirnya merendah, membuat kaki kanannya yang berlapis jeans tebal bersinggungan aspal, menyusul siku tangan kanannya. Tak terelakkan, sepeda itu roboh diatas aspal, menumpangi tubuh mungil si pemuda manis yang penuh luka pada bagian kanan. Sebelum benar-benar tertimpa sepeda tuanya, kepala pemuda itu menghantam aspal dengan cukup kuat.
Sebuket mawar putih yang tadi berada dikeranjang sepedanya terlempar jauh kedepan. Kelopak dari bunga cantik tersebut terhempas paksa dari pusatnya akibat beradu dengan aspal jalan, berceceran tak jauh dari anak pemiliknya.
Pemuda itu tak meringis ataupun menjerit kesakitan. Kejadian itu terlalu cepat, hanya sepersekian detik layaknya mengedipkan kelopak mata. Tubuh mungilnya telah terlanjur mati rasa. Besi berkarat yang biasa ditumpanginya kini menindihnya. Tapi bagi dirinya, bukan besi yang menindihnya, melainkan selembar kain yang biasa menghangatkan tidur malamnya.
Lelehan merah kental—yang untung saja masih bisa dirasa kehangatannya, perlahan merembes keluar dari siku kaki dan siku tangan kanannya. Ah—jeans tebal yang dikenakannya ternyata bisa robek karena beradu dengan aspal. Tak hanya itu, rembesam cairan hangat juga dirasa diantara sela-sela rambut bermodel unik, yang memiliki kelembutan dan keindahan yang selalu dipuji banyak orang, seperti; baik mahasiswa angkatannya maupun mahasiswa kakak kelas.
Bola mata hitam yang penuh kepolosan itu melihat sayu jalanan yang baru saja dilewatinya. Sebuah mobil dari arah depan perlahan berhenti beberapa meter dari tempatnya terkapar tak berdaya, yang bahkan dirinya tak sanggup menopang tubuhnya sendiri untuk bangkit.
Pengendara mobil yang terlihat mewah itu keluar dengan gaya elegan, berjalan mendekat kearahnya.
Dengan kemilau cahaya kobaran api, sesosok pria berdiri menjulang dua langkah darinya. pandangannya blur, efek dari cairan bening yang entah sejak kapan keluar terus-menerus dari pelupuk matanya.
Hosh.. hosh.. hosh..
Deru nafas terenggah terdengar dari sebuah bangku di pojok kelas, membuat penghuni lain kini memusatkan perhatian padanya, menjadi sunyi lebih sunyi dari sebelumnya.
Pemuda bertubuh mungil yang menduduki bangku pojok itu, lebih tepatnya orang yang baru saja mengeluarkan suara terengah, menatap keseliling dengan pandangan bingung.
"Kau baik-baik saja, Sasuke?" seorang perempuan bersurai panjang berwarna hitam bertanya dengan nada khawatir yang kentara. Beberapa pasang mata menatap pemuda mungil itu penuh rasa keingin tahuan.
"H—huh?"
"Kau bermimpi buruk?" tanya perempuan itu—lagi.
"Eh—ah. Tidak kok. Aku tidak apa-apa." Pemuda mungil bernama Sasuke —si pusat perhatian— menjawab dengan canggung.
"Begitukah? Ta—"
"Aku baik-baik saja. Sungg—" Sasuke memotong perkataan perempuan itu, namun sepertinya di mengalami hal yang sama dengannya. Belum selesai Sasuke berucap, sebuah suara maskulin lain menginterupsi.
"Kau tidur lelap sekali, Sasuke. Makanya kami tidak tega membangunkanmu." Dari bangku lain, seorang pemuda bersurai hitam menyahut. Ia sedikit membetulkan kaca mata hitam yang melorot dari pangkal hidung bangirnya.
Sasuke terdiam sebentar. Kelopak matanya mengerjab lambat guna menetralisir rasa kantuk yang masih tertinggal. "Tidak masalah, Aburame-kun. Ini semua salahku karena bergadang semalam hingga kurang tidur, lalu tanpa sadar aku tertidur di tengah jam kuliah." Pemuda bersurai legam menjawab dengan matanya yang masih sayu—efek dari bangun tidur, membuat seluruh penghuni kelas itu menahan nafas.
"I—imutnya~ Kyaaaa~~"
Dipuji sedemikian rupa oleh teman-temannya, Sasuke menundukkan kepalanya menahan malu. Hal yang sering terjadi ketika rasa malu menguasainya.
Namun tampaknya, reaksi yang diberikan Sasuke cukup berbeda dari biasanya. Dan tentu saja, semua orang dapat mengetahuinya dengan mudah.
Biasanya, jika Sasuke menahan malu, wajahnya akan merona merah seperti kepiting rebus, manis sekali. Tidak seperti sekarang, dimana kulit putih Sasuke sewarna mayat, pucat sekali.
"Kau tampak pucat, Sasuke."
Suara riuh itu menjadi hening seketika.
"Ya, seminggu terakhir ini kau tampak sakit, Sasuke-kun." Sebuah suara lain, namun terdengar feminim menyahut. Auara intimidasi tiba-tiba menguar dari seorang gadis bersurai merah muda.
Seketika Sasuke gelagapan. "Itu.. ano, seminggu yang lalu aku baru keluar dari rumah sakit karena kecelakaan." Jawab Sasuke jujur. Ya, mimpi itu adalah kejadian nyata yang menimpanya, terjadi tepat seminggu lalu. Sasuke ingat jika setelah melihat seseorang berdiri menjulang dihadapannya, kegelapan menguasainya. Ia tak sadarkan diri. Ketika membuka mata, warna serba putih yang memenuhi pandangannya, serta aroma obat yang menyengat menusuk indera pembaunya—rumah sakit.
"A—apa?!" mendengar itu, seluruh orang berseru serempak, terkejut. Bisik-bisik mulai terdengar riuh.
"Ja—jadi, kabar burung yang kuterima jika kau mengalami kecelakaan itu benar?" Aburame Shino kembali bersuara. Keningnya berkerut dalam, kurang faham dengan detail kejadian yang menimpa sang pemuda berparas manis itu.
"Begitulah, Aburame-kun. Seorang pengendara mobil yang mabuk hampir menabrakku, tapi aku banting setir sepedaku hingga aku, yah.. hingga berakhir di rumah sakit."
BRAKK!
"Kurang ajar! Berani sekali pria mabuk itu hampir menyelakai istriku! Katakan Sasuke, siapa pria itu. Aku bersumpah akan membunuhnya saat aku mengetahuinya." Di deretan bangku paling depan, seorang pemuda bernama Konohamaru Sarutobi berkata menuntut setelah menggebrak bangkunya sendiri. Ia bahkan berdiri dari duduknya.
Seluruh pendengar sweatdrop.
"Hey, sejak kapan Sasuke jadi istrimu, bodoh! Dasar baka!" pemuda bersurai coklat dengan tatanan rambut spiky berceloteh mencela. Suara berusaha menahan tawa yang mungkin akan meledak kapan saja.
"Uchiha Sasuke menjadi istri Konohamaru? Pfftt—mimpi dulu saja! Sasuke itu mahasiswa jenius, bukan seperti kau yang bodohnya minta ampun!" celanya tanpa filter.
"Diam kau, Kiba jelek!" balas Konohamaru tajam.
"Hey! Aku tampan, Konohamaru bodoh!"
"Aku tak peduli, karena aku lebih tampan darimu tentu saja. Dasar Kiba jelek!"
"Apa katamu?! Sini kau, kuhajar kau!" Kiba beranjak dari bangkunya dengan emosi. Ia hampir melangkah maju untuk menghajar Konohamaru yang duduk tak jauh darinya untuk menghajar wajah songongnya, jika saja tidak ada suara teriakan yang didengarnya.
"DIAM!"
"Kau! Konohamaru bodoh!" Haruno Sakura—si gadis tomboy yang berteriak, menunjuk Konohamaru yang membisu karena teriakannya. "Dan kau! Kiba jelek!" kini Sakura menunjuk Kiba yang memasang wajah bodoh.
Tiga persimpangan muncul di dahi Konohamaru dan Kiba. "Ap—" mereka hampir berucap jika saja suara lain tidak menginterupsi.
"Hoam.. yang pantas diam itu kau, Sakura! Teriakanmu berisik tahu! Menganggu saja!" sang putra Nara tunggal berkata disertai desisan tajam. Teriakan cempreng itu sungguh mengganggu tidur siangnya.
"Hehehe.." Sakura hanya merespon dengan cengiran tanpa dosa.
Shikamaru mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang hanya diam memperhatikan keributan kelas. "Ngomong-ngomong Sasuke, jika kau baru saja mengalami kecelakaan, bukankah kau terluka? Tapi kulihat kau baik-baik saja, kecuali dengan wajahmu yang pucat serta kau yang sering mual-mual." Tanyanya dengan nada malas, seperti biasa.
Benar juga. Batin semuanya. Kiba serta Konohamaru yang tadinya marah kepada Sakura kini berangsur-angsur mereda. Jawaban dari si mungil akan pertanyaan Shikamaru lebih penting.
Sasuke bergumam pelan sebelum menjawab. "Mmm.. kalian salah. Aku terluka tentu saja. Dibagian siku tangan dan kaki kananku. Tapi entah obat apa yang diberikan oleh pihak rumah sakit, sehingga dalam dua hari, luka dikulitku perlahan sembuh dan berangsur bekasnya menghilang tanpa jejak." Sasuke menjawab dengan kening berkerut. Sebenarnya dia tak yakin jika teman-temannya akan percaya, dengan hal yang kurang masuk akal—menurut Sasuke.
"Apa obatmu itu berupa obat pil dan salep dalam satu paket dengan merek xxxx?" tanya Kiba.
Sedikit mengingat-ingat, lalu Sasuke mengangguk mengiyakan. "Uh, benar sekali."
"Ah, rupanya begitu. Sekarang aku tahu penyebab kau yang terlihat pucat serta mual-mual yang kau alami seminggu terakhir ini. Perlu kalian tahu, itu adalah obat terobosan baru yang diciptakan oleh ilmuan di Negara Eropa. Obat itu memang sangat manjur, tapi hal-hal yang kau alami itu adalah efek samping dari penggunaan obat itu." Kiba menjelaskan panjang lebar.
Semuanya menggangguk faham.
"Kyaaaa! Aku juga mau beli obat xxxx itu! Siku tanganku harus mulus tanpa bekas luka. Agar Sasuke-kun memujiku dan menjadikanku kekasihnya!" suara Ino Yamanaka yang cempreng hampir membuat gendang telinga rusak.
"Woy, Ino-pig! Tidak usah teriak-teriak lah! Berisik tahu!" Sakura menyembur sahabat pirangnya. "Satu hal yang perlu kamu tahu, obat xxxx itu harganya mahal sekali. Aku bahkan harus menabung uangku selama satu minggu untuk membelinya. Lagian, Sasuke tidak akan pernah memujimu ataupun tertarik padamu. Sasuke itu kan calon suami masa depanku~ Hanya aku yang pantas bersanding dengan Sasuke-kun~~" gadis manis putra pebisnis sukses—Haruto Inc, menjerit histeris.
Hoek!
Sasuke muntah tiba-tiba, namun tidak ada apapun yang keluar dari celah bibir mungilnya yang sewarna buah persik. Perutnya bergejolak hebat membayangkan dirinya akan menjadi suami Haruno Sakura.
"Pftt—Buahahahahaha!" sontak seisi ruangan itu dipenuhi dengan tawa. Sakura merenggut tidak suka. Netra emeraldnya berkilat, melotot pada seluruh teman-temannya yang mentertawakannya.
"Sasuke-kun jahat~~" rengek Sakura sambil melirik Sasuke dengan tatapan anjing terbuang. Sasuke termenung dengan tanda tanya besar dibenaknya.
Setahu Sasuke, keluarganya hanya keluarga sederhana, bisa dibilang miskin. Tidak mungkin jika orangtuanya sanggup membeli obat mahal hanya untuk penghilang bekas luka. "Ng..?" gumamnya.
Brakkk!
Pintu ruangan dibuka secara paksa, memunculkan seorang pria muda dengan aura hitam yang mengelilinginya. "Kumpulkan jawaban kalian, sekarang juga!" ia berkata tegas.
Suasana menjadi hening seketika. Tak ada satupun mahasiswa yang membuat gerakan, bahkan seincipun. Semuanya menunduk untuk memperhatikan lebar jawaban masing-masing yang baru dikerjakan beberapa nomor.
"Apa kalian sangat bodoh untuk memahami perintah saya? Apakah kalian sangat berani untuk melanggar perintah saya untuk yang kedua kalinya?!" tuntutnya sadis.
"A—ano, sensei. Kami belum selesai menjawab soalnya." Dengan sedikit gemetar dalam suaranya, Sakura menjawab sebagai perwakilan teman-temannya yang masih terdiam membisu. Hijau emeraldnya menatap netra biru sang dosen selama tiga detik sebelum menunduk kembali karena ketakutan.
"Kerjakan dalam diam, atau jawaban dikumpulkan. Bukankah itu perintah saya sebelumnya. Lalu kenapa kalian melanggarnya?" geram sang dosen. "Saya baru pergi sepuluh menit, tapi kalian malah tertawa riuh seakan-akan perintah saya bukanlah apa-apa. Saya memang pengajar baru, tapi itu bukan alasan untuk kalian yang dengan sangat berani melanggar perintah saya. Tak tahukah kalian dengan tata krama dan sopan santun?"
Hening.
Hanya ada sepasang bola mata hitam bulat yang menatap dalam penuh kebingungan. "Dia siapa?" kata Sasuke tanpa sadar. Mendapati pria muda bersurai pirang serta netra biru yang memandang tajam, membuat Sasuke mengerutkan alisnya. Sasuke tidak pernah melihatnya, baik dalam jam kuliahnya maupun diarea kampus.
Suaranya memang lirih, tapi lebih dari cukup untuk didengar telinga sang dosen muda.
Netra biru sang dosen muda memusatkan pandangannya pada pemuda manis yang memandangnya balik tanpa rasa segan. "Oh.. putri tidur sudah bangun? Mimpi indah, hmm?" dosen muda itu menyindir keras.
Dari ekor matanya, Sasuke melirik Kiba yang berbisik mengatakan bahwa pria muda itu adalah dosen baru.
Glup.
Sasuke meneguk salivanya gugup. Ia merasa bersalah sekali karena telah melewatkan sesi perkenalan sang dosen baru akibat tertidur lelap.
Seraya berdiri dari duduknya, Sasuke berucap maaf dengan nada penuh penyesalan. "Ma—maafkan saya, sensei. Saya sungguh-sungguh minta maaf." Katanya dengan tubuh membungkuk sembilan puluh derajat.
Masih bertahan dengan posisinya, Sasuke mendegar jika dosen bersurai pirang itu mendengus. Ia bisa melihat sepasang kaki jenjang berbalut celana kain hitam yang melangkah mendekatinya.
Jujur saja, posisi ini membuat kepala Sasuke terasa berputar. Hingga akhirnya Sasuke hilang keseimbangan.
Bruk!
Sebelum tubuh mungil itu limbung, sepasang tangan kekar segera menangkap tubuhnya dalam dekapan aman.
"Sasuke—!" Seluruh pasang mata yang memandang tubuh Sasuke limbung, secara reflek celah bibir mengeka berseru kaget.
Hoek!
Sasuke muntah tanpa sadar. Cairan bening yang cukup kental dari celah bibir mungilnya dengan sukses mengotori kemeja biru tua yang dikenakan sang dosen muda.
Semua orang sukses menahan nafas.
"U—uzumaki sen—sensei.." lirih Sakura terbata. Ia sangat takut jika dosen muda itu marah besar kepada pujaan hatinya. "Sa—Sasuke-kun sedang tidak enak badan," imbuhnya, berharap dosen itu sedikit pengertian terhadap orang sakit.
"Bocah ini.." Dosen muda bermarga Uzumaki itu menggeram marah. Ia menunduk kebawah, memandang wajah pucat Sasuke yang dipenuhi keringat dingin. Di dagunya, terdapat lelehan bening namun sangat kental bekas muntahannya. Kelopak mata sewarna saljunya membuka-menutup, berusaha untuk tetap terjaga.
"Ma—maa—" Sasuke mencoba bersuara, tapi tenggorokannya terasa tercekat bahkan hanya untuk bersuara. Ia hanya bisa menatap netra biru sang dosen dengan pandangan bersalah.
Sekuat apapun berusaha, pada dasarnya fisik Sasuke sangat lemah—untuk saat ini. Jadi, iapun tak sanggup menahan kesadarannya. Namun, sebelum ketidak sadaran menguasainya, samar-samar Sasuke mendengar sang dosen berkata lirih namun penuh dengan penekanan—hanya Sasuke yang bisa mendengarnya,
"Dasar bocah tidak berguna."
Deg!
Hati Sasuke sangat ngilu mendengarnya.
.
End/Tbc?
.
Huwee—ngak melanjutkan hutang fic, malahan buat fic baru T_T Maafkan saya #deepbow
A/N: Mau dilanjut? Review please
Salam hangat,
SuzyOnix :*