Jimin | Yoongi | As Sweet As Sugar's third Sequel! | This is Mpreg Family's story | I don't take any profit with this chara | AU | R18+ | Beware! '-')/

.

.

Do not plagiarize!

I warned you.

.

(Hope you can) enjoy!

.

.

.

.

Eomma :

"Jimin? Bisa ke rumah sakit sebentar?"

.

Jimin tanpa basa-basi bangkit dan menyambar mantelnya yang berada di punggung kursi dan melangkah lebar ke pintu keluar. Lengannya yang masih memegang ponsel ia ketikkan sebuah pesan untuk rekan juga atasannya dan meminta ijin untuk pergi lebih awal dari kantor.

Jimin mulai berdebar kembali. Perasaan takut mulai menyergapnya jika itu menyangkut tentang istrinya yang masih berada di rumah sakit. Apalagi sekarang ibunya juga masih berada disana bersama Yoongi.

Jimin takut bila ternyata Yoongi masih belum bisa menerima kenyataan yang terjadi.

.

Jimin berjalan dengan langkah lebar di sepanjang koridor rumah sakit menuju kamar rawat Yoongi.

"Eomma?" Panggil Jimin begitu ia melihat heran ibunya berdiri melipat kedua tangan depan dada dan berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar rawat inap Yoongi yang tertutup rapat.

Junsu tersenyum melihat Jimin dihadapannya, ia kemudian menarik putranya itu untuk duduk di kursi tunggu koridor rumah sakit.

"Eomma, bagaimana keadaan Yoongiku?" tanya Jimin.

Junsu terlihat menghela napas sebentar sebelum ia menggenggam kedua tangan Jimin dan menatapnya serius, "Jimin, dengarkan aku baik-baik. Sepertinya kita harus mencoba mengkonsultasikan Yoongi ke dokter psikiater."

Jimin melepas genggaman ibunya dengan cepat dan berdiri setelah mendengar perkataannya. "Eomma, kau pikir Yoongiku gila?! Ck, aku tidak akan setuju!"

Jimin berniat untuk berbalik namun lengannya di tahan oleh Junsu, "Tetapi Jimin, keadaan psikisnya terguncang. Aku ingin Yoongi kembali baik-baik saja."

"Aku akan membuatnya kembali." Ucap Jimin dengan tatapan meyakinkan dan melangkah meninggalkan Junsu.

"Jimin, luka jahitan Yoongi sempat infeksi karena ia terlalu banyak bergerak. Kau tahu? Ia hampir melukai dirinya sendiri." Ucapan Junsu sempat membuat Jimin terpaku, ia kemudian tanpa berkata apapun segera memasuki ruang rawat inap Yoongi.

Jimin menghampiri ranjang dimana Yoongi sedang terlelap disana. Ini sudah hari keempat Yoongi berada di rumah sakit. Jarum infus masih setia di lengan kirinya dan Yoongi kini terpejam dan bernafas dengan teratur. Terlihat damai sekali meski wajahnya masih terlihat pucat.

Jimin mendekati Yoongi untuk mengecup sayang dahinya dan tersenyum hangat mengelusi anak rambut halus di dahi Yoongi, berbisik lembut mengagumi pahatan wajah yang begitu disanjunginya.

"Sayangku, tetaplah bersama disisiku dan Minki. Jangan pikirkan apa yang sudah terjadi. Aku mohon..." Jimin berucap pelan, ia kemudian mengecup punggung tangan Yoongi lama. Menyalurkan kekhawatirannya atas apa yang dikatakan oleh ibunya.

Jimin tidak akan pernah tega membawa Yoongi ke tempat seperti itu. Jimin yakin ia bisa mengembalikan Yoongi seperti sebelumnya. Jimin yakin ia bisa menenangkan Yoongi seperti sebelum-sebelumnya. Jimin yakin, semua ini hanya perlu waktu untuk menyembuhkan Yoonginya yang terluka.

Karena Jimin akan selalu percaya pada Yoongi apapun yang terjadi.

.

.

Minki berceloteh riang di pangkuan Jimin yang sedang membacakannya sebuah buku cerita bergambar sekaligus mengejakan bacaannya. Malam ini mereka akan menginap di rumah sakit.

"Daddy! Bayi beruang menangis." Minki menunjuk-nunjuk buku di pangkuannya, namun ia mendongak menatap Jimin yang masih memangkunya dan menatap isi buku cerita di balik punggung mungil Minki.

Jimin terkekeh setiap Minki berbicara, anak itu memang sudah semakin pintar berbicara namun suara dan gaya khas anak-anaknya benar-benar membuat Jimin gemas bukan kepalang.

"Huum. Bayi beruang nangis karena sedang sakit!" Jimin memasang ekspresi aneh yang membuat Minki tergelak oleh tawanya sendiri.

Yoongi tersenyum melihat momen kedua orang tersayangnya. Mendengar tawa mereka membuat hatinya menghangat. Melihat Minki selalu mengingatkannya tentang masa-masa terindahnya bersama Jimin.

Merasa diperhatikan Minki menoleh kearah Yoongi dengan ekspresi bibir membulatnya yang lucu, menatap polos Yoongi yang sedang berbaring miring di ranjang rawat inapnya.

"Momi!" Panggil Minki kemudian. Anak itu bergegas turun dari pangkuan Jimin dan berlari kecil ke arah Yoongi dengan semangat. Tak mempedulikan ayahnya yang baru saja diinjak dan dibuat meringis sakit. Kebetulan Jimin sedang bertelanjang kaki dan ibu jarinya baru saja diinjak oleh Minki.

Itu sakit, man.

Yoongi tertawa lepas melihat Jimin yang meringis seperti itu. Ia kemudian mengusap pucuk kepala Minki yang menghampirinya dan berjinjit di tepi ranjang.

"Kenapa Minki sayang?" Yoongi tersenyum kecil menatap putra semata wayangnya dan tetap mengusap surai hitamnya dengan sayang.

Minki hanya merengut. "Aku mau main sama momiii." Ucapnya ceria dengan lafalnya yang masih cadel.

"Hm? Ini sudah malam..." mendengar jawaban Yoongi hanya membuat Minki semakin merengut menatapnya. "Mau bernyanyi bersama mommy? Setelah itu Minki harus tidur."

Minki tiba-tiba berwajah sumringah, dengan semangat ia mengangguk dan berseru. "Nyanyi tomato!"

Yoongi terkekeh gemas memegangi lengan mungil Minki yang sedang berjingkrak senang.

"Daddy? Daddy bisa kemari sebentar dan gendong Minki ke tempat tidur?" Pinta Yoongi, menoleh ke arah Jimin yang sedang duduk di atas sofa dan berkutat dengan ponselnya.

Jimin meletakkan ponselnya di atas meja mendengar permintaan Yoongi, ia menghampiri Minki yang masih berjinjit di tepi ranjang itu dan menggendongnya tinggi-tinggi dengan gemas.

"Aigoo, jagoan daddy tidak tidur seharian ini dan hanya maiiin terus." Jimin pura-pura mengomel yang hanya dibalas oleh Minki dengan cengiran lucunya sembari memegangi wajah ayahnya.

"Hehehe."

Jimin kemudian meletakkan Minki di samping Yoongi yang bergeser sedikit dari posisi berbaringnya dan membiarkan Minki ikut berbaring bersamanya. "Minki jangan menyenggol perut momi yang masih sakit ya." Jimin meremas gemas kedua kaki Minki sebelum melepas sepatunya.

Setelah itu Jimin ikut duduk di kursi yang selalu berada di sisi ranjang Yoongi dan menghadap kedua orang tersayangnya yang Jimin sebut sebagai malaikatnya. Membiarkan Minki diapit oleh kedua orangtuanya.

Yoongi mengelus dada Minki pelan dan menggumamkannya nyanyian anak-anak seperti yang diinginkannya. Biasanya Minki akan mengikuti dan ikut bernyanyi, namun anak itu terlanjur nyaman dengan usapan Yoongi di tubuhnya dan tertidur dengan cepat. Lelah sekali rupanya.

Jimin hanya berdecak dan mengecup dahi Minki gemas karena tingkahnya yang terbuai usapan Yoongi yang membuatnya nyaman. Lagi-lagi persis seperti ibunya yang mudah sekali jatuh tertidur jika sudah seharian beraktifitas.

"ㅡneun tomato..." Yoongi berhenti menggumam dan tetap mengusapnya saat melihat Minki yang terpejam dan bernafas teratur. Ia tersenyum kecil dan tanpa diketahuinya bantal yang ditidurinya terasa menghangat.

"Hei," Jimin menyentuh bahu Yoongi, sedikit mengguncangnya agar lelaki manis itu menatapnya dengan kedua mata yang menatapnya nanar dan basah oleh airmata yang tak disadarinya. "Jangan menangis lagi..." bisik Jimin kemudian dan menunduk mendekati Yoongi untuk mengusap pipinya yang basah.

Tangis Yoongi semakin pecah mendengar perkataan Jimin. Wajahnya memerah merengut sakit karena ketika sesenggukan otot perutnya mengencang dan luka jahitannya yang belum benar-benar kering sempurna terasa sakit. Yoongi juga menahan segukannya sekuat mungkin karena tak ingin mengganggu Minki yang bergelung nyaman disampingnya.

"Hei mommy... tenanglah. Ceritakan padaku tentang perasaanmu." Bisik Jimin kembali. Ia membantu Yoongi untuk ke posisi duduk dan Jimin berpindah ke sisi lain ranjang untuk membawa Yoongi ke pelukannya. Tak lupa mengawasi Minki yang tetap tertidur nyaman di ranjang rumah sakit bersama ibunya.

Yoongi masih tetap sesenggukan di dada Jimin yang memeluknya erat. "Aku... aku sudah bilang pada Minki bahwa dia akan memiliki adik. Aku mengingkarinya, Jimin. Aku bukan mommy yang baik. Aku—huks."

Jimin hanya bisa menggumam menenangkan dan mengusap hangat punggung Yoongi yang terasa lebih kurus. Sesekali Jimin mengecupi pucuk kepala Yoongi.

Padahal di hari pertama Yoongi mengetahui dirinya keguguran, ia bisa tenang. Tetapi terkadang Yoongi tiba-tiba menangis dan masih menyalahkan dirinya sendiri seperti ini. Psikisnya masih belum stabil. Yoongi masih terbayang-bayang bayi kembarnya yang sempat tumbuh bersama didalam dirinya.

"Sayangku..." Jimin memeluk istrinya dengan erat namun penuh kehangatan. "Kau harus merelakannya. Marsmelo mendapatkan tempat terbaiknya disana. Apa kau tega akan mengusiknya jika kau menangisinya terus seperti ini? Kuyakin Minki adalah anak yang pintar. Ia pasti mengerti mengapa kau tak mengatakannya, kau bisa lihat Minki selalu mengajakmu bermain disini. Minki tak ingin melihat mommynya sakit dan terus bersedih."

Jimin mengecup dalam pucuk kepala Yoongi dan membiarkan helaian rambut lembabnya mengusik hidung Jimin yang memberikan aroma khas istrinya yang membuat Jimin kecanduan.

"Maaf." Yoongi bergumam kecil, ia balas memeluk Jimin erat. Menenggelamkan dirinya di pelukan hangat Jimin yang melingkupinya. Yoongi merasa aman disana, juga mendengarkan debaran jantung Jimin yang teratur mampu menenangkannya hingga membuatnya mengantuk.

Jimin tersenyum kecil, masih setia mengusapi punggung istrinya dengan hangat. "Aku menyayangimu. Aku mencintaimu. Kau yang terbaik, mommy mingi. Jangan menangis lagi, airmatamu itu sungguh menyakitiku." Ucap Jimin tulus.

Yoongi mendongak untuk menatap Jimin, yang dibalas dengan kecupan cepat lelaki itu di dahinya. "Aku juga mencintaimu, Jim."

Jimin tersenyum mendengar dan semakin menatapnya sayang. Yoongi akhirnya benar-benar berhenti menangis meski masih menyisakan senggukannya yang terdengar pilu.

Jimin mengeratkan pelukannya pada Yoongi dan mengistirahatkan dagunya di pucuk kepala istri kesayangannya itu, "Cepatlah sembuh, aku akan mengajak kalian berdua untuk liburan ke Jepang untuk hadiah ulang tahunmu... bulan depan."

Yoongi hanya mengeratkan pelukannya pada Jimin. Lelaki itu benar-benar terlalu baik dalam hidupnya. Yoongi sangat mencintainya.

.

Jimin berbaring miring di atas sofa, menatap Yoongi yang juga balas menatapnya dengan sayu. Saling menunggu untuk terlelap.

"Tidurlah, Jim. Besok kau harus ke kantor." Ucap Yoongi, ia yang juga berbaring miring itu memeluk Minki untuk tetap dekat dengannya agar bocah itu tidak terjatuh.

Jimin hanya tersenyum, "Aku harus memastikan kedua malaikatku tertidur dengan nyaman."

"Aish." Yoongi menggerutu pelan. Ia bisa benar-benar meleleh jika Jimin terus-terusan berkata manis untuknya. Walau jauh dari lubuk hatinya yang menghangat Yoongi sangat bersyukur memiliki Jimin yang begitu mencintainya.

Pada akhirnya mereka hanya saling menatap sampai Yoongi yang jatuh tertidur lebih awal dari Jimin. Malam itu rasanya begitu hangat.

.

.

Minki itu sudah bisa macam-macam, ia juga selalu penasaran dengan apa yang orang-orang dewasa sekelilingnya lakukan. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan karena ia suka bertanya apapun yang ada di pikirannya. Terkadang Jimin bahkan sampai bingung harus menjawab seperti apa. Namun hal itu justru menambah kehangatan suasana keluarga kecilnya, mengalirkan energi positif untuk orang-orang dewasa di sekelilingnya.

Hari ini genap delapan hari Yoongi menginap di rumah sakit, ia sudah bersiap-siap untuk kembali pulang ke rumah. Ia senang sekali karena harus pulang. Luka jahitan perutnya pun sudah membaik dengan cepat meski sempat mengalami infeksi.

"Momi momi! Eomma sudah masyak daging banyak di rumah!" Ucap Minki begitu antusias ketika turun dari gendongan Taehyung dan berlari menghampiri Yoongi yang terduduk di sisi ranjang.

Yoongi tersenyum dan mengusak rambut hitam Minki dengan gemas. "Oh ya? Uu~ pasti enak."

Minki hanya mengangguk antusias dan menatap Yoongi dengan berbinar. "Minki senang momi pulaaang~" ucapnya sembari memeluk lutut Yoongi.

Yoongi tersenyum menatapnya. Ia tetap mengusap helaian rambut Minki dengan sayang. Menyadari bahwa putera kecilnya itu tumbuh dengan baik dan sehat.

Taehyung menghampiri Yoongi dan memeluknya sekilas untuk memberinya ucapan selamat dan semangat.

"Terima kasih, Taehyungie. Kau selalu membantuku dan Jimin untuk menjaga Minki." Yoongi tersenyum.

Taehyung mengedipkan sebelah matanya dan mengacungkan jempol pada Yoongi. "Itulah gunanya sahabat! Lagipula Minki itu sangat menyenangkan, aku gemas~" ucapnya sembari mencubit pelan kedua pipi Minki gemas dan membuat bocah itu merengek tak suka.

Yoongi hanya tertawa melihat keduanya, "Oh iya, apa Jimin masih lama?"

Belum sempat Taehyung menjawab pertanyaan Yoongi, orang yang bersangkutan sudah muncul di depan pintu dan masuk dengan pakaian formal kerjanya; itu Jimin.

"Aye, membicarakan orang tampan ya?" Ucapnya narsis.

Taehyung mencibir mendengarnya. Sedangkan Yoongi hanya menggeleng menatap lelaki itu.

"Daddy!" Minki memekik senang dan beralih untuk menghampiri Jimin dan membiarkan ayahnya berjongkok hanya untuk mencium dahinya.

"Nah, sekarang ayo kita pulang!"

Jimin kemudian menuntun Yoongi untuk berjalan keluar. Merangkulnya seolah tak ingin Yoongi tersenggol oleh apapun. Sedangkan Minki dituntun oleh Taehyung, mereka berjalan mendahului Jimin dengan ceria. Lebih terlihat seperti adik dan kakak yang berjarak umur berjauhan.

"Sayang, kau sudah benar-benar merasa sehat? Eomma buat samgyupsal untukmu, lho." Jimin bersuara, suasananya hampir saja canggung karena mereka saling berdiaman.

Yoongi hanya mengangguk. Tetapi kemudian ia menatap Jimin menelisiknya dari atas ke bawah. "Kau meninggalkan pekerjaanmu demi mengantarku pulang?" Tanyanya.

Jimin tersenyum melihat kekhawatiran di kedua tatapan istrinya itu, "Tenang saja, aku hanya ingin makan siang bersama kalian. Nanti aku kembali ke kantor."

"Jangan kabur-kaburan seperti itu." Yoongi menasihati.

Jimin kemudian mengecup pipi Yoongi dengan singkat dan tiba-tiba. "Kau tak perlu khawatir, aku akan selalu bekerja keras untuk kalian. Buktinya, bulan depan kita akan liburan ke Jepang!"

"Ish, berisik Jimin!" Yoongi hanya bisa menggandeng lengan Jimin erat dan menyembunyikan wajahnya di bahu lelaki itu ketika menyadari pengunjung rumah sakit lain menatap Jimin yang menciumnya dan berbicara keras.

Jimin hanya terkekeh karena tingkah istrinya tetap menggemaskan untuknya.

.

Jimin, Yoongi, Taehyung dan si kecil Minki sudah sampai di rumah. Yoongi benar-benar merindukan suasana rumahan. Apalagi ketika Yoongi melangkah masuk, aroma sup ayam ginseng menerpa penciuman siapapun yang menggoda untuk menghampiri sumber aroma.

Yoongi membantu Minki untuk melepas alas kakinya yang diikuti oleh Jimin maupun Taehyung dan menggantinya dengan sandal rumahan yang tertata rapi di rak khusus sepatu disana.

"Eomma, kami pulang!" Seru Jimin, mengajak Taehyung juga untuk makan siang bersama di rumah keluarga kecilnya.

"Eomma! Minki juga pulang!" Minki ikut-ikutan berseru seperti ayahnya namun ia menarik jari Yoongi agar mengikutinya berjalan menuju dapur.

Jimin hanya terkekeh melihat Minki yang begitu bersemangat.

"Oh iya, Tae, kau tidak ajak Seokjin-hyung?" Tanya Jimin melihat Taehyung yang baru saja berkutat dengan ponselnya.

Taehyung menggeleng pelan. "Dia akan menjemputku sebentar lagi."

Jimin tiba-tiba merangkul Taehyung, "Hei, omong-omong terima kasih sudah menjaga jagoanku, ayo kita makan disini!"

"Itu juga karena aku tak tahan dengan wajah menyedihkanmu itu, aku tak tega jika Minki harus dekat-dekat daddy yang kusut begitu—aw!" Taehyung memegangi dahinya dan menatap kesal Jimin. Ia baru saja disentil oleh sahabatnya itu.

Jimin hanya tertawa-tawa kemudian. Rasanya sudah lama sekali ia tak ngobrol santai bersama sahabatnya. Taehyung itu malah lebih suka bermain dengan Minki. Jimin benar-benar heran dibuatnya.

"Eomma... banyak sekali makanannya..." Yoongi menatap takjub meja makannya yang kini penuh dengan banyak makanan. Tidak terbiasa karena biasanya ia dan Jimin juga Minki jarang sekali makan besar di rumah.

Junsu yang masih memakai celemek itu segera memeluk Yoongi sayang dan menitahnya untuk duduk. "Kau sedang dalam masa pemulihan, harus makan yang banyak!" Serunya senang.

Yoongi tersenyum, rasanya begitu hangat disayang oleh sosok seorang ibu. Yoongi senang, meski masih ada bagian dirinya yang masih terasa kehilangan.

"Mari makan~"

.

.

.

Sudah hampir enam minggu Yoongi keluar dari rumah sakit. Dirinya mulai kembali beraktifitas seperti biasa. Namun Jimin tak memperbolehkannya bepergian sendirian atau hanya berdua dengan Minki.

Minki sudah tidak pergi ke daycare yang biasa, Jimin mendaftarkannya ke pre-school yang memiliki fasilitas lebih baik. Tetapi Yoongi tetap menemani Minki disana dan Jimin akan mengantar juga menjemput mereka pulang di siang hari.

Yoongi sedang bercermin di depan lemari pakaiannya yang besar bersama Jimin. Ia baru saja selesai mandi dan sedang menunggu Minki untuk bangun dari tidur siangnya. Kali ini Yoongi hanya diam di rumah karena jadwal sekolah Minki hanya tiga kali dalam seminggu.

Yoongi mematut dirinya kembali di depan cermin, ia bertelanjang dada dan hanya memakai celana dalam berwarna abu. Perutnya sudah kembali datar seperti telur dadar, namun bekas jahitan di bawah pusarnya terlihat lebih menonjol pasca operasi bulan kemarin. Terasa lebih tebal dari bekas operasi saat ia melahirkan Minki waktu itu. Yoongi mengelusnya dengan linu di sepanjang luka jahitan itu, luka itu yang membuat Yoongi kini merasa menjadi lebih lemah. Ia mudah lelah dan tak bisa beraktifitas berat. Untuk menggendong Minki lebih lama saja rasanya sudah menyakitkan sekali.

Saat Yoongi larut dalam pikirannya selagi mematut diri di depan cermin itu tiba-tiba terdengar ponselnya berdenting, Yoongi membuyarkan pikirannya dan terduduk di sisi ranjang untuk meraih ponselnya yang memang tergeletak disana.

Sebuah pesan dari Jimin rupanya.

"Mommy~ jangan lupa sore nanti kita ke dokter untuk mengontrol kesehatanmu. Minta pap dong sekarang lagi ngapain :3"

Jimin hanya mengingatkannya. Ah, Yoongi jadi berpikir kenapa Jimin menyuruhnya untuk ke dokter. Seingatnya ia tak perlu kontrol lagi ke rumah sakit setelah lukanya benar-benar mengering. Yoongi tak terlalu mempedulikannya, akhir-akhir ini Jimin memang ekstra protektif padanya dan ia sungguh memahaminya.

Tetapi daripada itu, Yoongi tiba-tiba menyeringai jahil karena Jimin memintanya sebuah foto. Hm, Yoongi pikir tak ada salahnya menggoda Jimin sedikit. Lagipula suaminya itu akhir-akhir ini juga terlihat kaku, padahal Yoongi 'kan juga merasa risih jika setiap malam mereka hanya sekedar tidur diatas ranjang yang sama.

Yoongi kemudian membuka lampiran kamera, ia memposisikan kamera belakangnya menghadap cermin besar lemarinya dan tanpa banyak membuang waktu Yoongi memotret dirinya yang—sebenarnya hampir—telanjang itu kemudian mengirimkannya pada Jimin.

"Baru selesai mandi. Nungguin Minki bangun tidur siang."

Balas Yoongi, ia terkekeh sendiri ketika Jimin mencoba mengetik balasannya dengan cepat dan mengirimkan banyak emotikon bergambar mimisan.

Yoongi memilih meninggalkan ponselnya, ia harus segera berpakaian dan membuat camilan sore untuk Minki seperti biasa.

.

Di sisi lain...

"Ohok—ohok!"

Jimin tersedak minuman es kopi yang baru saja dibelinya ketika ia membuka ponselnya dan terkejut melihat apa yang dikirimkan oleh istrinya di rumah.

Jimin mengantuk padahal masih di jam kerja, beberapa saat lalu ia sempat keluar untuk beli kopi sekedar menghilangkan kantuknya. Tetapi ketika Jimin iseng mengetik pesan kepada istrinya yang tsun-tsun itu untuk meminta sebuah foto, Jimin sama sekali tak menyangka mendapat balasan foto yang tak terduga.

Sebuah selfie istrinya yang tanpa busana? Wow, Jimin pikir rasa kantuknya kini benar-benar menghilang.

.

Hari sudah mulai menggelap ketika Jimin tiba dan memasuki pekarangan rumahnya dengan mobil camry hitam hadiah pernikahannya bersama Yoongi.

Jimin melihat istrinya yang sedang menyemproti tanaman kecil di pot gantung itu berhenti dan tersenyum kearahnya sesaat Jimin keluar dari mobil untuk menghampirinya.

"Aku pulang, Sa—"

Cuph.

"Selamat datang." Yoongi berucap pelan sesaat ia tiba-tiba mengecup bibir Jimin cepat tanpa menyempatkannya menyelesaikan perkataannya. Yoongi bahkan menarik leher Jimin mendekat dan kembali mengecup bibirnya. Kali ini lebih dalam dan memaksa.

Jimin hanya terpaku karena bingung dengan tingkah istrinya. Yoongi jarang sekali seperti ini dan tiba-tiba menempel saat pulang kerja membuat Jimin merasa kasihan juga. Mungkinkah Yoongi merasa kesepian kalau Jimin boleh tebak.

Yoongi menghentikan ciumannya ketika Jimin tak terlalu merespon ciumannya. Ia lalu menunduk dalam dan menghela napas.

"Maafkan aku, Jim. Ayo masuk." Yoongi mengambil alih tas kerja Jimin untuk dibawanya namun tiba-tiba Jimin menariknya kembali.

"Hei." Jimin menelisik wajah istrinya, ingin bersitatap dengan Yoongi yang terus menghindari tatapan tajamnya yang selalu terpatri disana.

Yoongi meremas pegangan tas kulit Jimin, tiba-tiba merasa gugup. "Jimin, aku..."

"...kangen."

Yoongi menggigit bibir bawahnya dan tak membiarkan kata itu terucap dari bibirnya. Hanya terdiam kemudian membuat Jimin bertanya-tanya.

Pinch

"Kenapa sih mommy~ kalau ada sesuatu ceritakan saja padaku. Jangan diam-diam imut begini." Jimin mencubit gemas sebelah pipi Yoongi melihatnya terdiam seperti itu sampai istrinya merengek kesal.

"Ish." Yoongi melepas paksa tangan Jimin di pipinya, "Masuk sana." Kemudian melangkah menghentakkan kaki dengan kesal sembari memeluk tas kerja Jimin.

Jimin terkekeh dan menggelengkan kepalanya tak mengerti melihat tingkah Yoongi barusan. Belum masuk ke rumah saja Jimin sudah disuguhi tingkah yang manis. Apalagi saat ia masuk nanti dan melihat jagoan kecilnya yang akan menyambutnya.

Astaga, lama-lama Jimin bisa kena diabetes akut. Terlalu banyak dikelilingi hal manis.

.

Jimin menepati perkataannya dan malam ini juga ia membawa Yoongi dan tentu saja si kecil Minki ke rumah sakit. Jimin bilang ia sudah membuat janji malam ini dengan dokter Lee setelah jam makan malam.

"Dokter Lee lagi?" Tanya Yoongi ketika mereka berjalan beriringan di koridor rumah sakit. Minki digendong oleh Jimin dan asyik meminum susu pisang kemasannya tanpa mengganggu pembicaraan kedua orangtuanya. "Kupikir kita ke dokter umum untuk membahas lukaku?"

Jimin menggeleng. Tersenyum kecil balas menatap Yoongi yang bertanya-tanya. "Nanti juga kau tahu."

Menghasilkan Yoongi yang semakin dibuat bingung karenanya.

.

.

"Yoongi-ssi sekarang menggunakan kontrasepsi hormonal dengan cara suntik yang bertahan hingga 8-12 minggu yang artinya bisa dilakukan setiap dua atau tiga bulan sekali. Kontrasepsi hormonal ini tidak akan mengganggu efek obat atau vitamin lain yang sedang dikonsumsi oleh Yoongi-ssi. Hanya saja apabila ingin lepas dan mengembalikan kesuburan hal itu akan membutuhkan waktu yang lama. Lalu..."

Penjelasan dari dokter tampan itu hanya didengarkan dengan lemas oleh Yoongi. Ia dan Jimin hanya diam mendengarkan dan menuruti prosedur yang dilakukan oleh sang dokter sampai lelaki itu memberikan suntikan kontrasepsi hormonal untuknya yang pertama.

Yoongi hanya diam, bahkan sampai diperjalanan pulang dan Minki yang mulai mengantuk menangisinya sampai tersedu-sedu pun Yoongi hanya tetap diam. Jimin yang menggubrisnya sama sekali tidak Yoongi hiraukan.

Ah, ternyata Jimin yang menginginkan ini untuk Yoongi. Sepertinya kegagalan Yoongi tentang si kembar membuat Jimin sangat kecewa padanya. Jimin tak ingin...

memiliki anak lagi darinya.

.

.

.

.

To be continued...

.

.

Nb: selamat ulang tahun, Min Yoongi yang paling putih mungil dan lucu~~~ xD

Rapper paling manis yang pernah ada. Ini chapter 25 untuk yang ulang tahun ke 25! Hehe

Btw, maaf kalau ini kurang memuaskan, akibat WB akut dan demi ultah Yoongi jadi kebelet pengen update sesuatu :')

Trus juga gak sempet balesin review huhuhuhu maaf. :')

SPECIAL thanks to kamu yang udah baca sampai sini dan masih bersedia memberikan komentar~ maaf juga kali ini tak bisa nyebutin namanya satu-satu. Padahal kalian begituuu berharga untukku huhu sekali lagi maaaf :")


(INFO : tolong, untuk kalian yang nemuin ceritaku di wp, itu bukan aku :( tolong di-report, aku cuma publikasi seri as sweet ini HANYA di ffn yang bisa kalian nikmati secara gratis.

Akhir-akhir ini ada kasus plagiat yang ngaku-ngaku pake ceritaku tanpa ijin :( sudah ditegur tapi orangnya malah ganti username dan tak merespon. Aku gak menyebutkan namanya disini karena jika dia baca, mohon kesadaran dirinya. Cerita ini sudah kubangun bertahun-tahun demi rasa sayang sama bangtan, sakit hati rasanya kalau cuma di copy-paste.

Tolong buat kalian semua kalau nemuin ada cerita seri ini di tempat lain dengan nama tokoh sama/beda tanpa pemberitahuan dariku itu adalah JIPLAK alias PLAGIAT. Bisa kasitau aku dan report akunnya yaa. Mohon kerjasamanya, aku nulis buat rasa senang sama MinYoon ship yang lucu ini, tapi tolong setidaknya hargai aku sebagai penulis fanfic karya tulis cuma-cuma ini. Terima kasih :) )


Thank You, I Love You!

.

.

With love and respect,

Phylindan. :3