BECAUSE OF YOU

Chanbaek Story

Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Cast: Oh Sehun, Xi Luhan, Kim Jongdae, Xiumin, and others

Genre: Drama, Romance, Friendship, School life, A little bit Humor

Rated: T++

Length: 2 of?

Disclaimer: Cast milik SM. Keseluruhan cerita milik gua, manda sebagai editor:p Terinspirasi dari cerita webtoon yang berjudul Girl of The Wild. Ada beberapa bagian yang gua masukin dari webtoon dan selebihnya adalah karyak gua ya^^ semoga kalian tidak salah paham dan mengerti;)

Summary: Baekhyun yang jago taekwondo dan hapkido tertarik pada Park Chanyeol. Chanyeol yang pendiam. Luhan, seorang model yang menggilai Sehun. Xiumin yang disukai oleh Sehun. Jongdae sang pelindung Xiumin. Xiumin yang jatuh cinta pada seseorang. Kris, masa lalu Sehun. Tao, bertubuh gempal yang ingin diet. Kyungsoo, adik Xiumin. Suho, teman Chanyeol. Yixing, musuh bebuyutan Baekhyun. Kai, adik Chanyeol yang suka membangkang. The based on the story is complicated of them. CHANBAEK/BAEKYEOL. GS for uke. All OTP.

Warning: Genderswitch! Cerita gajelas de el el.

Enjoy and Review Juseyooooo

...

[[Recommended song to listen]]

Yoo Young Jin & D.O – Tell Me (What is Love)

...

Bab 1

What is Love

...


Baekhyun: 18 Tahun

Chanyeol: 17 Tahun

Sehun: 18 Tahun

Tao: 18 Tahun

Luhan: 17 Tahun

Xiumin: 18 Tahun

Jongdae: 21 Tahun

Kai: 13 Tahun

Kyungsoo: 14 Tahun


Hidup adalah perjuangan.

Itu sudah aku sadari sejak masih anak-anak. Bahkan sebelum aku tumbuh dewasa.

Tak ada yang menarik dari hidupku. Semua yang kulakukan sampai hari ini adalah bukan sesuatu yang ingin kulakukan. Aku hanya melakukan kewajibanku untuk tetap hidup. Aku adalah pelajar yang baru masuk pada tingkat menengah dan selama sisa waktu hidupku aku tidak pernah hidup normal.

Pagi ini aku memasak telur untuk Kai. Bagaimana denganku? Aku hanya memakan roti serta susu murah setiap hari karena waktu yang ada tidak banyak untuk segera berangkat kesekolahku. Untungnya aku dapat berjalan kaki.

"Aku bosan makan dengan telur." Kai mengeluh, aku sudah mendengar yang sekian dari mulutnya. Sebenarnya aku merasa bersalah padanya karena aku sudah menjanjikannya akan makan sosis tetapi apalah dayaku. Uang yang kuperoleh habis untuk keperluan yang lainnya. Kurasa itu tak menjadi masalah karena dia sudah besar, seharusnya dia mengerti.

Kai adalah adikku, dia mulai masuk sekolah menengah pertama tahun ini. Kami berdua berusaha untuk dapat beasiswa dan aku bersyukur Kai mendapatkannya. Aku selalu mengingkatkannya untuk mengharuskan mendapat beasiswa. Walau ia sering membuat onar di sekolah dasar, dia mengerti bahwa mendapat beasiswa adalah salah satunya jalan untuk dia dapat terus bersekolah. Kurasa dia juga sudah dapat belajar dari pengalamanku. Kalau dia sedang mood baik, ia akan membantuku bekerja.

"Tidak ada protes kali ini, Kai." Aku menyuruhnya untuk menata sendiri bekal yang akan dia bawa kesekolahnya. Sedangkan aku mempersiapkan diriku sendiri.


Hari ini adalah demo ekskul dan para siswa dan siswi angkatan baru bagaikan ikan yang dijemur di lapangan. Untung kami dibiarkan duduk agar semuanya dapat melihat kedepan.

Aku harus tetap mengikuti hal ini sampai semua ekskul berhasil di peragakan. Kalau aku boleh jujur, ini benar-benar membosankan. Walau bagaimanapun aku tidak akan pernah mengikuti ekskul apapun. Itu dikarenakan jadwalku sangat padat. Aku tidak punya waktu untuk mengikuti hal-hal seperti itu. Aku harus bekerja setelah pulang sekolah sampai petang.

Dua kali aku tak sengaja bertatapan dengan seorang senior yang sama. Dia terlihat nge-jreng dengan surainya yang seperti itu. Terlihat seperti cosplay jepang yang biasa kutemukan pada festival yang aku lewati di sekitar tempatku tinggal. Kukira hanya dia yang penampilannya seperti itu, ternyata banyak dan ada yang lebih berani dengan warna merah muda mencolok.

Lalu bagaimana denganku? Aku sendiri dengan surai abu-abu muda. Jangan coba-coba untuk bertanya darimana warna rambutku berasal. Itu karena ayahku dulu. Sampai sekarang pun aku tak mengganti warnanya. Aku hanya ingin seperti ini.

Hah, akhirnya selesai juga. Aku melirik pergelangan tanganku yang terdapat jam abal-abal. Sebaiknya aku bergegas dan buru-buru ke tempat kerjaku.

Bagai segerombolan semut, kami berjalan kearah gerbang sekolah. Tak jarang yang satu menabrak dengan yang berlawanan arah. Aku meminum susuku yang yang masih ada ditasku. Tadi pagi aku hanya memakan rotinya.

Dan sialnya aku yang menjadi korbannya. Menabrak seorang senior. Susunya mengenai kami berdua. Dia mungkin senior yang tadi banyak diperbincangkan oleh siswa angkatan baru. Kalau tidak salah dia yang memperagakan ekskul tinju. Oh, apakah perempuan ini mau menjadi jagoan? Bagaimana bisa perempuan mengikuti ekskul tinju? Ah, aku tak akan terlalu memikirkannya sih.

"Oh, maafkan aku sunbae. Aku benar-benar minta maaf." Tak mau mencari masalah dengan orang yang terlalu populer aku mencari jalan aman. Aku membungkuk tanda meminta maaf.

"Anak baru, susunya mengenai bajuku. Kau tidak mau bertanggung jawab?" Dia terlihat tidak marah dan berbicara dengan intonasi tenang. Mimik wajahnya pun datar.

"Aku akan membersihk―" Aku yang mengambil sapu tangan dari sakuku mengulurkan tangan untuk membersihkan noda yang terdapat dibajunya. Tetapi tangannya lebih dulu mengambil sapu tanganku dan membersihkannya sendiri. Sialnya susu yang kuminum adalah perasa coklat sehingga noda yang ada dibajunya benar-benar terlihat.

"Kau cabul atau apa? Kau ingin mencari kesempatan ya?" Aku baru sadar bahwa noda yang mengenai bajunya berada pada daerah dadanya. Tetapi percikan-percikan kecil menyebar ke bagian perutnya. Sungguh, aku baru sadar. Aku bagaikan orang cengo yang benar-benar ingin berbuat cabul.

"Eh? Tidak. Aku benar-benar tidak tahu. Maafkan aku, sunbae. Bawa saja sapu tanganku. Aku harus pergi." Aku membungkuk sekali lagi dan berlalu pergi. Aku tidak mau hal sepele seperti ini menjadi besar. Tetali dugaanku meleset.

"Kau tidak tahu ya harga seragam yang telah kubeli ini? Memangnya kau bisa membelinya?"

Dengan gerakan tergesa, aku mengeluarkan beberapa won logam yang ada disakuku. Gemericing terdengar saat aku melempar uangku padanya. Sekejap melangkah pergi.

Aku berjalan cepat karena tidak boleh terlambat lagi. Aku sudah bersyukur sekali dengan seorang bapak yang membiarkanku bekerja disalah satu tempat penyucian mobil. Dia memberiku keringanan karena tahu bahwa aku sekolah. Dan aku tidak enak hati jika sering terlambat.

Tiba-tiba ada orang menarik lenganku. Kupikir itu adalah senior yang tadi kutabrak. Tetapi tidak. Dia senior juga. Tetapi jelas berbeda orang. Dia mungil sekali. Bahkan aku merasa berbicara pada anak kecil. Tingginya hanya sampai pada bahuku.

"Namamu?" dia bertanya sambil tetap memegang lenganku. Aku baru sadar bahwa kami terlalu dekat. Dan, aku risih bahwa kami menjadi pusat perhatian.

Aku mengerjap bingung, memperhatikan orang-orang yang menatap kearah kami berdua dengan berbisik-bisik. Aku cukup lelah dengan hari ini karena berurusan dengan dua senior sekaligus. Dan keduanya adalah perempuan. Apa salahku kali ini? Kemudian aku dengan tak enak hati melepaskan rangkulan tangannya di lenganku dengan hati-hati. Tak mau membuatnya tersinggung. Aku usahakan untuk tersenyum kecil.

"Maaf, sunbae aku benar-benar harus pergi sekarang." Aku kemudian berlalu dengan langkah cepat. Berusaha agar dia tak mengejarku.

Jangan mengejarku. Aku memohon dalam hati.

Tetapi semua hanyalah omong kosong karena dia berada di depanku sekarang. Menghalangi jalanku. Dia dengan gerakan tiba-tiba menarik dasi yang bertengger di kerah bajuku. Mendekatkan tubuh kami berdua dan berjinjit dengan menumpu satu tangannya yang lain diatas bahuku. Mencoba mempertemukan bibir kami. Dan aku yakin hal itu berlangsung hanya beberapa detik. Tetapi karena refleksku sangat cepat aku berhasil membungkam bibirnya dengan telapak tanganku yang besar. Sehingga dia hanya mencium tanganku.


Bibirmu manis sekali. Aku sudah bilang bahwa aku sudah muak mendengar hal itu.

Aku adalah cewek yang memenangkan kategori 'bibir paling manis' saat kontes kecantikan. Teman sekelas, senior, bahkan junior... sudah beratus-ratus cowok mencoba menciumku! Pacar pertamaku saat aku berusia 15 tahun, bahkan menangis bahagia saat berhasil menciumku untuk pertama kalinya.

Itulah aku.

Lambang keimutan dengan bibir yang mematikan!

Aku jenis cewek yang seperti itu!

Tapi...

Hoobae didepannya ini!

Aku membulatkan mataku saat tahu bahwa yang menempel di bibirku adalah telapak tangannya.. Matany menatapku. Kami masih dalam posisi berciuman.

"Kau!" Aku kesal. "Brengsek! Kenapa kau tutupi mulutku dengan tanganmu?! Dan apa-apaan tatapanmu itu?!"

Aku menjauhkan wajahku. Masih tetap memegang dasinya. Dengan wajah menahan amarah. "Berani sekali kau..."

Hoobae didepanku kini mengerjap bingung dengan keringat sebiji jagung di dahinya. Dia terlihat ketakutan.

"Siapa?... Apa? Eh, kenapa?" Dia dengan wajah idotnya benar-benar membuatku naik darah.

Aaaarggghhh.

Dengan tenaga penuh aku membantingnya.

WOOOSS! BRAAKK!

Dia terkapar sekarang.

"Sial! Ini keterlaluan!"

Aku mengunci lengannya dan mendudukinya tepat diatas badannya. Sehingga dia benar-benar terkunci dan sulit bergerak. Aku tak peduli bahwa aku mengangkang dan pahaku terbuka sempurna. Orang-orang disekitar kami memekik kaget dan kami semakin membuat banyak orang memperhatikan kami. Tak sengaja aku melihat nametag di sebelah kanan atas bajunya. Kenapa aku bodoh sekali baru melihat nametag miliknya? Aku memegang dagunya. Membuat tatapan kami bertemu.

"Park Chanyeol..." Seperti ada tanduk setan pada kedua kepalaku. Dan kupikir itu tidak terjadi karena nyatanya hanya ada bando kelinci. Sehingga membuatku seperti kelinci imut berwajah garang serta berhati iblis. "Kau akan menjadi milikku! Aku akan melakukannya lagi. tutup matamu!"

Aku mencoba untuk menciumnya lagi. Aku mendekatkan wajahku lagi. Kali ini benar-benar harus terjadi karena ia tidak dapat bergerak kemana pun. Itu karena dagunya aku kunci dengan tanganku. Kupikir dia benar-benar lumpuh total karena tidak berusaha memberontak. Sampai akhirnya ada orang yang hidupnya menjadi penganggu!

"Baekhyun, hentikan!"

Itu adalah Sehun dan Tao.


Aku benar-benar tak habis pikir kenapa sekolah ini aneh begini, sih?

Dia bilang ingin menciumku sekali lagi setelah sebelumnya aku berusaha menutup bibirnya dengan tanganku.

Sekolah apaan ini... benar-benar gila! Sekolah macam apa yang membiarkan hal seperti ini terjadi?

"Baekhyun, hentikan!" Dia tersentak kaget. Kami sama-sama menoleh. Ah, aku hanya menggunakan dengan kerlingan mataku karena daguku masih dikunci dengan tangannya.

Untunglah dia mengentikannya dan membebaskanku. Aku berdiri dan baru sadar bahwa kami menjadi pusat perhatian. Semua orang yang penasaran melingkar dengan berbisik-bisik. Penampilanku pasti sangat berantakan.

"Aiss, kalian ini sudah menggangguku!"

Eh?

Dengan gerakan bagaikan angin. Orang mungil yang dipanggil Baekhyun itu melewatiku dan hendak menghajar seorang cowok yang kurasa benar-benar putih bagai es. Tetapi cowok itu dengan gerakan cepat mengarahkan tinjunya kearah Baekhyun sunbae tetapi tidak benar-benar memukulnya. Gerakan refleksnya benar-benar hebat. Membuat Baekhyun sunbae itu bengong ditempatnya.

"Sudah bermain-mainnya, Baekhyun. Ayo kita pulang." Seorang cewek yang menurutku tinggi itu menyeret Baekhyun yang memasang tampang bete dan cemberut. Bibirnya bahkan maju seperti bebek. Sedangkan cowok albino tadi mendekatiku.

"Maafkan dia ya? Aku hanya bisa menyelamatkanmu sampai disini. Aku tidak tahu apa yang ia bilang padamu. Aku sarankan agar kau berhati-hati. Karena biasanya, dia akan benar-benar melakukannya seperti apa yang diucapkannya. Aku tidak menakutimu, aku hanya memberitahumu. Oke? Kuharap Baekhyun sudah cukup membebaskanmu."

Cowok albino itu berbicara tanpa jeda bahkan dia berlalu tanpa menunggu jawabanku.

Aissshh. Kenapa ada senior macam itu di sekolahku? Kalau bukan karena beasiswa aku pasti tidak akan bersekolah di sekolah ini. Banyak cerita dikalangan para siswa dan siswi angkatan pertama bahwa sekolah ini benar-benar berbeda dengan sekolah biasanya.

Aku mengamati jam tanganku. APA?! Sial, aku terlambat!


"Minseok, ada apa?" Jongdae melihat Xiumin tersentak kaget.

Mereka sudah berada dimobil dan bergegas pulang. Tetapi ketika sampai gerbang, Xiumin memintanya untuk menepi sebentar. Jongdae menurut dan melihat dari kaca spion apa yang dilakukan Xiumin. Mengapa memintanya untuk berhenti? Jongdae mengalihkan perhatiannya apa yang jadi pusat perhatian Xiumin.

Kerumunan terjadi disana. Banyak orang yang dengan jelas menonton Baekhyun yang tengah menduduki Chanyeol. Mungkin semua orang bertanya mengapa Chanyeol beruntung sekali dapat diduduki oleh Baekhyun serta dihadapkan pada kedua paha mulus gadis itu? Tetapi pikiran Jongdae jelas tak kearah sana. Ia penasaran kenapa Xiumin tertarik dengan itu.

Mereka jelas tidak dapat mendengar apapun. Tetapi mereka dapat dengan jelas melihat Baekhyun yang mencoba untuk mencium Chanyeol. Dan hal itu gagal karena Sehun dan Tao menghentikannya.

"Ah, tidak apa. Kau boleh jalan sekarang." Xiumin tersenyum kecil.

Jongdae melanjutkan mengemudinya. Dan Xiumin hanya dapat memandangi sapu tangan dari orang yang bertabrakan dengannya. Dan Xiumin melihat di ujung sapu tangan itu terdapat tulisan.

Park Chanyeol.


Kupikir semuanya berakhir kemarin sore. Kupikir hidupku akan berjalan normal selayaknya aku ketika berada di sekolah menengah pertama. Disekolah, aku menghindari orang-orang yang membuat onar atau sebangsanya. Demi semua hidupku yang akan aman.

Saat ini aku berusaha untuk tidak terlihat mencolok. Suraiku memang tidak dihitung karena dari umurku 12 tahun hal itu wajar saja. Tetapi yang kudapat adalah seniorku yang membuat onar padaku. Terlebih senior yang berhadapan denganku itu memang populer di kalangan cowok. Walaupun begini, tentu aku tahu bahwa mereka sama levelnya dengan artis remaja. Mereka belum dapat mengontrol sikap mereka. Terlebih pada cewek mungil yang bernama Baekhyun. Dia memang mungil sehingga terlihat menggemaskan bagi semua orang. Tapi itu tak berlaku bagiku. Aku benar-benar tak tertarik untuk menjalin hubungan dengan perempuan.

Dari awal sejak aku mulai memasuki jenjang sekolah, aku hanya berteman dengan seorang yang bergender sama denganku. Bukan karena aku pilih-pilih. Tetapi aku tidak mau menimbulkan masalah apapun. Bagiku, perempuan hanyalah makhluk Tuhan yang kerjanya hanya membuat masalah.

Aku tak tahu alasan dibalik sikap Baekhyun. Pikiran-pikiran negatif untuk tidak bisa bebas dari Baekhyun kemarin menghantuiku. Serta ucapan-ucapan lelaki albino yang memperingatiku. Dan itu tidak dapat dijadikan alasan karena hal ini benar-benar terjadi. Lelaki itu benar, bahwa Baekhyun serius atas perkataannya.

Hari ini pertama kali kegiatan belajar dimulai. Hari ini juga hari dimana Baekhyun mulai menerapkan semua perkataannya. Dan, aku tidak bisa berpikir jernih bagaimana kehidupan sekolahku kedepannya.

Kau akan menjadi milikku.

Kau akan menjadi milikku.

Bahkan aku dapat mendengar suaranya dalam kepalaku. Kupikir, aku mulai gila.

Istirahat ini aku hanya duduk di kelasku dan memakan bekalku. Aku tak malu sekalipun aku memakannya dengan terbuka. Mengapa harus malu? Karena aku sudah besar? Memangnya kenapa dengan kata besar? Membawa bekal adalah manusiawi.

Tadi Suho, teman sekelasku mengajakku untuk kekantin bersama. Dia terkekeh kecil saat aku mengeluarkan bekalku. Yah, dia tipikal wajah-wajah berduit. Maklum kalau dia tidak terbiasa dengan itu.

Kunyahan pertama lancar. Aku tersedak di kunyahan kedua. Baekhyun datang kekelasku. Aku yakin kedua temannya yang menghentikan dia kemarin mengikutinya juga.

Aku tidak melihat wajahnya yang terlihat menyesal ataupun ingin meminta maaf untuk kejadian kemarin. Sebaliknya, dia sangat ceria. Dua orang temannya itu memandangku dengan tatapan tidak enak.

"Chanyeol!" Baekhyun berlari dengan riang kesebelah bangkuku. Dia duduk disana. Aku tidak tahu harus menjawab panggilannya atau mau mengacuhkannya. Sedangkan kedua temannya duduk dibangku depanku, menghadapku.

"Ah, pantas kau tidak kekantin. Ternyata kau membawa bekal ya." Dia terkekeh imut. Baekhyun menggeser kotak bekal ke depannya. Kupikir, dia mau mengambil milikku. Tetapi tidak, dia ingin menyuapiku.

"A..Aku bisa sendiri, sunbae..." Suaraku menciut. Baekhyun malah mengedarkan pandangannya kepenjuru kelasku. Masih ada beberapa orang juga yang berada dikelas.

"Ah, aku tahu kau pasti malu, ya? Hihi..." Dia imut. Tetapi aku tidak tahu apakah dia sengaja bertingkah begitu? Aku baru sadar dia selalu memakai bando kelincinya.

Itu sepadan dengan wajahnya yang seperti anak kecil. Jangan salah, jika seseorang menculik dia karena dia terlalu menggemaskan.

Aku pernah mendengar hal itu dari Suho. Dia terlalu antusias berbicara pada teman-teman di bangku belakangku. Aku juga tak heran teman-teman banyak yang bertanya padaku mengenai kejadian kemarin. Hal itu memiliki dua persepsi jika anak perempuan berkata aku mungkin bertingkah cabul sehingga Baekhyun membantingku, beda halnya dengan para lelaki yang bilang bahwa aku mendapat jackpot. Bah. Memikirkannya saja aku sudah pusing.

Walaupun risih dengan tiga pasang mata yang memandang kearahku, aku kembali melanjutkan makanku.

Baekhyun merapatkan bangkunya kearahku sehingga kepalanya mendekat. "Besok aku akan membawakan bekal buatmu ya?" Napasnya terasa di tengkukku dan itu membuatku merinding.

"Memangnya kau bisa memasak?" Lelaki albino didepanku bertanya.

"Kau belum tahu saja aku pandai memasak. Ah aku kan memang belum mengeluarkan bakat terpendamku pada kalian berdua. Besok aku juga akan membawakan nya untuk kalian."

"Benarkah?" Perempuan yang aku sebut tinggi kemarin mengeluarkan suaranya. "Sehun, kalau begitu besok kita tidak perlu bawa uang jajan."

Ah, ternyata lelaki albino itu bernama Sehun ya. Perempuan disebelah Sehun itu berbisik tetapi aku masih bisa mendengar suaranya.

"Baiklah, Tao..."

Satu lagi, perempuan itu bernama Tao.

Aku menoleh kearah Baekhyun. Sedetik kemudian aku menyesal untuk menoleh karena aku merasakan benda kenyal menempel di pipiku dan kami sama-sama terkejut. Sehun dan Tao sunbae bengong. Dikelas, seketika hening dan semua mata memandang kearah meja ku dan sunbae didepanku.

Kami mengerjap dan menjauh satu sama lain. Aku melihat pipi Baekhyun bersemu merah. Dia bagaikan anak kucing yang baru saja kepergok hamil. Tapi sedetik kemudian dia menatap kearah mataku tajam.

"Itu hanya di pipi. Lain kali aku mau di bibir." Tangannya mengepal didepan dadanya. Membentuk postur memohon. Matanya berbinar layaknya puppy, anak anjing yang berada di sebelah rumahku.

Plak! Itu suara Tao yang menjitak dahi Baekhyun. Baekhyun meringis sambil cemberut.

"Oh iya, Chanyeol. Kau ikut ekskul apa?" Dia tersenyum kali ini.

Aku menutup bekalku. Sudah habis. Aku benar-benar lapar karena lebih banyak berpikir.

"Aku tidak akan ikut apapun di sekolah ini, sunbae."

"Apa? Kenapa?" Baekhyun hampir memekik.

"Aku sibuk."

"Apakah kau sudah punya pacar, Yeol?" Itu suara Sehun sunbae.

Yeol. Sudah lama sejak ada orang yang memanggilku dengan sebutan seperti itu...

Aku terkekeh. "Ah, bukan sibuk yang semacam itu..." Aku memandang mereka bertiga. Kumohon, jangan bertanya lebih lanjut. Karena aku tidak mau ada orang yang tahu bahwa aku memiliki kerja sampingan. Tetapi wajah mereka menantikan sesuatu penjelasan dariku.

Hah. "Aku.. hanya sibuk."

"Mwoya... Apakah kau anak pejabat? Sampai sibuk seperti itu?" Baekhyun lagi-lagi asal berbicara. Kalau aku anak pejabat, aku tidak akan berada disini.

"Mungkinkah sibuk yang dimaksud seperti...Xiumin?"

Siapa itu Xiumin?

"Ahaha. Tidak-tidak. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan." Aku langsung menimpali lagi. Oh. Kumohon seseorang untuk mengubah topik pembicaraan ini.

"Apakah yang ada dikepalamu itu hanya Xiumin?" Dilihat dari wajahnya mungkin Xiumin itu seseorang yang disuka Sehun. Kurasa, Baekhyun tengah menggoda Sehun.

"Lalu bagaimana dengan Luhan?" Tao menimpali.

Aku bersyukur bahwa Baekhyunlah yang mengalihkan topik. Tetapi, aku tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan dan kupikir hal itu bukan sesuatu yang harus kutahu. Bagaimanapun mereka sunbaeku, pastinya mereka memiliki privasi sendiri. Asal, kalian tidak lupa bahwa aku baru satu hari belajar disini. Demi Tuhan, kenapa aku bisa bertindak sejauh ini? Aku tak biasanya akan akrab dengan seorang perempuan. Mungkin, itu karena Baekhyun yang mendekatiku, kan? Bukan dari pihakku. Sehingga itu tidak masuk hitungan. Aku tidak akan menuntut apapun ataupun lebih dekat dengan mereka. yang kulakukan hanyalah berusaha untuk menjauh. Dan semuanya akan beres. Baekhyun akan merasa diabaikan dan perlahan menjauhiku juga.

Aku tak mengerti dengan siapa itu Luhan. Kupikir aku pernah mendengar namanya. Aku menebak Luhan adalah orang yang terkenal. Sama hal nya dengan mereka.

"Oppa!"

Kami dengan serempak menoleh kearah pintu dimana seorang berdiri dengan wajah berbinar. Oh, aku pernah melihat wajahnya. Tapi dimana ya? Aku lupa.

Ketiga sunbae dikelasku itu serempak berdiri dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Seakan tidak percaya dengan sosok yang dilihat mereka. terlebih Sehun yang benar-benar terkejut.

Seorang itu bagaikan orang yang dimabuk cinta. Dia benar-benar memandang Sehun dengan mata berbinar. Benih-benih cinta bertebaran disekitarnya.

Aku sendiri tidak mengerti dengan perasaan cinta. Menurutmu, apa itu cinta?


...

To be Continued

...

Gua sengaja make sudut pandang baekhyun, setelah itu Chanyeol dan ada beberapa bagian yang pake sudut pandang penulis. So, kalian bisa nebak sendiri kapan masing-masing sudut pandang dipake.

Gua emang make EXO OT12, itu artinya gua make slight All OTP disini. Gua emang bakalan lebih memfokuskan ini ke Chanbaek. Gua pikir, pasangan yang lainnya hanya penghidup cerita yang gua buat. Meskipun mereka berpengaruh juga dalam cerita. Kalau emang cuma ke Chanbaek doang gua pikir bakalan mati jalan ceritanya. Ya, tergantung penulisnya juga sih bagaimana membuat hal itu mencadi lebih gampang.

Dan, untuk masalah pemeran selain EXO, seperti Red Velvet. Gua pikir itu hanya untuk kebutuhan cerita aja kok. Itu hanya untuk awalan doang. Mungkin, ada yang ga suka pemerannya red velvet? Itu bener-bener Cuma awalan doang. Dan gua cuma make pemeran selain exo kalaupun ada kebutuhan untuk penambahan peran. Awalnya gua pikir ini genrenya Romance dan Friendship tapi setelah dipikir-pikir lebih cocok ke Drama karena lebih banyak peran yang bakalan gua masukin kedalamnya.

Terimakasih untuk saran dan kritikannya untuk yang sudah review.

Gua bakalan tetep lanjut.

So, mind to review?

...