Ternyata perjalanan tak cukup jauh hanya beda ruang saja. Sekarang mereka berdua berada didalam ruang makan yang masih berada dikamar sang Raja. Didalam ruangan itu ada meja bundar yang diatasnya tertata rapi makanan yang terlihat sangat lezat. Naruto yang melihat hal itu sekarang mengeluarkan air liur dari mulutnya. Betapa enaknya jika bisa memakannya. Air liur itu terus mengalir berkali-kali Naruto mencoba menghapusnya tapi yang namanya perut lapar lalu melihat makanan sebanyak itu siapa tak tahan. Sasuke yang sejak tadi memperhatiakan tingkah budaknya sangatlah heran. Sejujurnya ia baru melihat tampang orang kelaparan seperti apa, kalau belum makan seminggu sih wajar tapi pemuda ini tadi malamkan sudah makan.

"Kau diam disini..." Naruto tersentak mendengar ucapan itu. Langsung saja pemuda itu tak lagi mengeluarkan tampang laparnya. Naruto hanya menurut dan diam memperhatiakan Sasuke yang sedang mengambil sesuatu dan menaruhnya dibawah meja lalu duduk disalah satu sisi meja yang tatapannya berhadapan langsung dengan Naruto sekarang.

"Mau diam disitu atau kelaparan." Ucap Sasuke sedangkan Naruto langsung berlari dan duduk dibantal yang ditaruh Sasuke. Naruto langsung mengambil makanan yang tersedia, namun sebelum tangan tannya menyentuh salah satu makanan ia teringat posisinya sekarang sehingga pemuda itu mengurungkan niatnya.

"Maafkan hamba Tuan..." ucap Naruto lalu biam tak melakukan apa pun.

"Kenapa diam makan saja." Ucap Sasuke yang sudah lebih dahulu mengambil makanan.

"Aku..."

"Hn... sudah aku katakan... hari ini saja kau bebas. Kau bisa melakukan apa pun." Mata Naruto langsung berbinar mendengar hal itu. Ternyata doanya tadi didengarkan oleh Kami-sama. Tapi hanya hari ini saja dia merasakan kebebasan, bagaimana dengan esok apakah dia akan merasakan kebebasan lagi. Tentu saja jawabannya pasti tidak, namun Naruto tak mengambil pusing hal itu pemuda itu percaya kalau Kami-sama akan mendengarkan doanya lagi.

"Terimakasih..." Kata itu keluar dari mulut Naruto di ikuti senyum dibibirnya. Ia sedikit menunjukkan wajah bahagianya pada Sasuke. Siraven yang disodori muka bahagia Budaknya hanya mengeryitkan dahinya dan membuang muka. Entah apa yang disampaikan pemuda pirang itu pada Sasuke namun sepertinya pemuda raven itu hanya menganggap hal tersebut konyol.

"Itadakimasu..." Ucap Naruto dan segera makanlah dia. Sedangkan Sasuke terkejut mendengar kata itu karena teringat suatu hal yang membuatnya sedikit sedih. Ingatannya dengan Anikinya yang sedang makan bersama setiap hari.

'Itadakimasu...'

'Sasuke makan yang banyak...'

'Aniki juga ini adalah ulang tahun ku.'

'Ah... semoga kau jadi raja yang baik dan bijak...'

'Sebelum aku jadi raja aku ingin Aniki yang merasakannya dahulu...'

'Iie... Sasuke itu adalah hak mu bukan untuk aniki.'

'Kalau begitu disakah Aniki selalu bersama ku dan membantu ku sebagai Raja membuat Negeri impian Kaa-sama dan Tou-sama yang dititipkan pada Aniki.'

'Tentu saja... aniki akan selalu bersama mu Sasuke.'

.

Sasuke sedang memandang kearah matahari tenggelam diatas balkon kamarnya. Betapa indahnya pemandangan itu, sinar keorenan yang membias diawan putih serta burung-burung yang terbang mendekat sang matahari, air laut yang terkena pantulan berwarna orang sangat asri ditambah semilir angin pantai. Sasuke sangat menyukai hal ini apa lagi jika bersama Itachi. Pikiran si raven masih tentang Itachi. Mereka memang berbeda tapi mereka memiliki tali persaudaraan, meskipun banyak pihak yang memojokkan kakaknya dan juga memusuhinya namun Sasuke tidak gentar akan hal itu.

.

.

.

"Gochisousama deshita." Ucap Naruto dengan nada riang setelah menyelesaikan acara makan keduanya yang masih berada di kamar Uchiha bungsuh. Pemuda pirang itu sedikit melihat kearah Sasuke yang tak menemaninya makan tadi seperti tadi pagi. Pemuda pirang itu sedikit heran dengan sifat Sasuke yang suka menyendiri untuk menenangkan pikiran. Entah apa yang dipikirkan pemuda yang bergelar Raja itu namun yang Naruto tebak pemuda itu sedang memiliki masalah. Dengan sedikit keberanian tanpa perintah dari Sasuke pemuda pirang itu berdiri dan menghampiri pemuda raven itu. Dengan perasaan sedikit takut dia mencoba membuka percakapan.

"Apa yang sedang kau pikirkan." Ucap Naruto dengan nada sedikit tidak formal sambil menundukan kepala takut jika pemuda itu marah padanya. Sasuke yang mendengar hal itu awalnya sedikit marah karena tak ada sopan santunnya sama sekali. Tapi dia memang sedang membebaskan budaknya hari ini jadi sesukanya saja lah.

"Apa urusan mu." Tetap dijawab Sasuke dengan nada dinggin seperti biasanya dan menyembunyikan masalahnya.

"Aku hanya inggin membantu..."

"Percumah..."

Hening...

"Oh ya apa aku boleh bertanya."

"Hn..."

"Kemanakah Itachi-sama dihari Ulang tahun mu." Sontak Sasuke yang mendengar itu merasa sedikit marah tapi dapat dia tahan.

"Kau tahu seharusnya saudara salaing bersama di hari penting seperti ini..."

Buukkk...

Karena tak bisa meredam amarahnya Sasuke menghempaskan Naruto ke dinding dan sedikit mengangkat kerah baju pemuda pirang itu.

"Diam... Jangan ikut campur." Ucap Sasuke dan membuat mata Naruto terbelak lebar menampilkan iris biru lautnya yang terlihat ketakutan. Sedangkan pemuda Onxy itu hanya memandang dengan tatapan dinggin.

"Ma-maaf..." Ucap Naruto lalu menutup kedua matanya karena takut dengan tatapan Sasuke. Setelah Sasuke mendengar kata itu dia langsung melepas cengkraman baju itu dan berjalan menjauhi si pirang. Sedangkan pria pirang itu hanya bisa terduduk lemas dilantai. Ia meratapi kesalahannya yang sudah berbicara lancang didepan seseorang yang sudah berbuat baik padanya, membuat orang itu sakit hati. Sedangkan Sasuke sekarang bisa mengambil satu kesimpulan logis kalau budaknya yang satu ini suka ikut campur dan sesuka hatinya sendiri.

"Untuk hari ini aku memaafkan mu tapi besok dipagi hari kau akan kembali pada posisi mu semula..." Ucap Sasuke dan Naruto hanya bisa membelakkan mata mendengar hal itu.

"Ingat dirimu... Budak." Seketika itulah isak tangis Naruto keluar bersamaan dengan kepergian Sasuke tanpa diketahui olehnya.

.

.

.

Malam semakin datang dan matahari sudah terlihat mulai tenggelam tapi pasukan yang dibawah Itachi masih sibuk berlari melompati pohon. Mereka tak ada hentinya menyusuri hutan mencoba menjauh dari kerajaan Uchiha yang sudah membenci mereka –maksudnya Itachi. Tapi ada satu hal yang menjadi pikiran Itachi yaitu tentang malam ini. Hari ini adalah hari ulang tahun adiknya dan pasti akan ada pesta besar-besaran di kerajaan Uchiha, sayangnya dia sebagai kakak tak ada di acarah itu pasti Sasuke sedang kesal saat ini.

"Itachi malam hampir tiba kita harus secepatnya bermukim dan menunggu fajar tiba." Ucap Orang yang berada didekat Itachi tak lain dan tak bukan adalah Kisame.

"Hn... aku tahu kalian pasti lelah." Ucap Itachi, memang dari beberapa kelompoknya adalah kaum bangsa setengah siluman bukan Vampir murni seperti dirinya yang staminanya lebih menguap di malam hari.

Berhentilah mereka semua dan mulai mengatur napas.

Ha... ha... ha...

"Hah... hah... ha...Kita... ha... sudah berjalan ha... seharian apa perbatasan ha... masih jauh." Tanya Konan yang sedang mengatur pernapasan.

"Besok siang kita mungkin sudah tiba."

"Tapi kenapa kita harus sampai perbatasan... mengelilingi hutan dan kembali keperbatasan kita kan lebih enak."

"Ada hal yang harus aku pastikan..."

"Apa itu..."

"Semoga ini bukan malam itu..." Ucap Itachi dan memandang kearah langit yang sudah gelap. Disana ada bola besar bulat berwarnah kekeniangan cerah yang bersinar. Ya malam ini adalah malam purnama dan hal itu sangat Itachi takutkan. Semua kelompoknya mengarahkan pandangannya pada bulan yang masih berukuran kecil di sudut timur yang perlahan-lahan membesar dan mengarah ketengah-tengah langit.

"Segelnya..." Ucap Konan ketakutan membayangkan kemungkinan yang terjadi. Malam ini Naruto akan berubah menjadi liar tak bisa di kendalikan.

.