Disclaimer : i don't own Naruto.
Warning : OCC, Incest, dan masih banyak lagi.
.
.
Perhatian : Jika tidak suka, dimohon untuk tidak membacanya ya. Maaf jika anda tidak menyukainya karena ini adalah karya saya.
.
Chapter 1 : Ore no Imouto
Aku mencintainya, sangat mencintainya. Bolehkah? Jika itu adalah adikku sendiri?
''Kushina, tolong ambilkan dasiku!'' Aku mencoba merapihkan baju dengan menempatkan tubuhku pada cermin supaya memudahkanku untuk merapihkan segala sesuatu yang ada pada diriku.
''Dimana Onii-san!''
''Di gantungan tas.'' Aku menatap pantulan diriku sekilas, hah~ sekolah itu sangatlah melelahkan, tapi semuanya pasti akan berdampak pada masa depanku. Ya semua usahaku pasti akan membuahkan hasil yang memuaskan pada saatnya nanti.
''Onii-san sudah tampan, jangan bercermin terus nanti cerminnya jadi merona loh~ hihihii.'' Aku tersenyum sedikit, yah dia adikku yang cerewet sekaligus mengasyikkan. Namanya Kushina, Uzumaki Kushina.
''Mana dasinya?''
''Ini. Biar kupasangkan ya, Onii-san!'' Untuk kali ini aku tertawa kecil melihat tingkahnya yang seperti anak kecil, padahal adikku sudah kelas 1 di bangku SMA, sangat menggemaskan sekali.
''Ya ya, ayo cepat. Nanti bisa terlambat.'' Kulihat Kushina dengan cekatan memasangkan dasi ke bagian kerah di leherku. Sedikit setidaknya aku memerhatikan wajahnya yang serius. hehe, aku tidak percaya adikku bisa seserius ini.
''Serius sekali.'' Kushina menatapku sekilas.
''Benarkah? Mungkin hanya perasaan Onii-san saja.'' Aku tertawa halus, sedikit menyindir.
''Houh~ Jadi ada yang memikirkan sesuatu, katakan padaku siapa pria yang berhasil mendapatkan hatimu hem~'' Aku tersenyum mengejek kepadanya, bukan bermaksud apa—hanya saja aku suka menjahilinya dengan segala cara dan tentunya melihat ekspresinya yang cemberut membuatku semakin berlama-lama untuk menjahilinya.
''Huh, kenapa nyambungnya kesitu. Nih makan hati!''
''Eh! Aduh Kushina! Kau ingin membunuhku dengan dasi, hiks jahatnya.'' Aku meringis sakit sekaligus geli akan tawa gegara melihat wajahnya yang cemberut minta ampun, sungguh yang tadi itu membuatku ingin tertawa terpingkal-pingkal saja.
''Ayo, kita berangkat Onii-san. Dasar gay.''
''Hey hey hey, aku tidak gay Kushina. Sasuke yang gay!''
''Buktinya mana?'' Oke untuk kali ini aku terdiam. Berdebat dengan Kushina yang nyambungnya ke arah Gay membuatku sangat malas.
''Hohohohoo, bahkan pacarpun Onii-san tidak punya. Mungkin bisa jadi Onii-san Gay.'' Telingaku berkedut.
''Ya ya, terserah kau sajalah. Ayo berangkat!''
''Dasar Gay.'' Untuk kali aku aku sedikit kesal.
.
.
.0o0o0o0o0o0o0.
Sekolahku biasa saja, tapi yang membuatnya luar biasa adalah cara penerapan pembelajaran yang dilakukan guru disini. Sekolah ini bernama lengkap Konoha High School 01, tempatku menuntut ilmu bersama dengan adikku. Tidak banyak guru yang absen mengajar pada saat tertentu yang mengakibatkan setiap mata pelajaran tidak pernah ketinggalan.
Inilah yang membuatku senang sekaligus kesal sendiri pada saat tertentu, senang karena tidak ketinggalan pelajaran dan kesal ketika aku sedang malas untuk mempelajari sesuatu.
''Naruto, adikmu berangkat tidak?''
''Berangkat.'' Aku menjawabnya singkat, yang bertanya tadi adalah temanku. Namanya Kiba, lengkapnya Inuzuka Kiba. Dia teman yang menurutku seru sekaligus menjengkelkan diwaktu tertentu.
''Kalau begitu, ajak dia makan bersama lagi denganmu Naruto!'' Aku tersenyum kecil, kau dan tabiatmu Kiba.
''Bilang saja ingin dekat-dekat dengan adikku.''
"A, Aha, hahaha. Kenapa nyambungnya kesitu?'' Aku menutup bukuku setelah membacanya sekilas tadi, percakapan ini membuatku tidak fokus membaca buku untuk ulangan hari ini.
''Yah, simpel saja. Aku mengajaknya makan bersamaku, kau ikut dan bam! Kau bercanda bersamanya hahahaha.'' Aku dan Kiba tertawa bersama setelah perkataanku tadi. Entah mana yang lucu, tapi ada insting yang membuatku ingin tertawa saja.
''Oh, pagi-pagi sudah tertawa seperti orang gila saja.''
''Hora?! Ada Sasuke disini, mau gabung kegilaan kita Sasuke?'' Aku menatapnya sambil menaik turunkan alisku.
''Tidak terima kasih, aku ingin belajar dulu.'' Kulihat setelah Sasuke duduk dibangkunya ada beberapa temanku yang baru masuk, seperti Neji, Lee dan Shikamaru.
''Yo Naruto!''
''Yo Shika, ngantuk seperti biasanya ya? Hahaha.''
''Aku tidak disapa Shika? Neji? Lee?'' Aku menatap Kiba dengan wajah datarku.
''Kau siapa?'' Dan ekspresi Kiba berhasil membuatku dan beberapa temanku tertawa akibat perkataan tadi. Sungguh ekspresi Kiba yang tadi itu membuatku ingin guling-guling saja.
''Hahahahaa..''
''Woy berhentilah! Sialan kalian!''
''Kiba.''
''Ya?''
''Cuma manggil, huahahahaha..'' Dan perkataan Lee ini berhasil membuatku tertawa lagi dan lagi. Jangan tanya Kiba seperti apa, wajahnya sangat lucu sekali untuk ditertawakan.
''AKAN KUBALAS KALIAN!''
.
0o0o0o0o0o0
_Waktu Istirahat_
Setelah ulangan Kimia yang sudah selesai di jam pertama tadi dan disusul pelajaran Matematika yang membahas ulang materi kelas 1, aku mengajak temanku seperti biasanya untuk makan bersama di Kantin. Seperti pada umumnya, Kantin sekolah selalu ramai dan itu membuatku sedikit keringetan dan panas akibat berdesakan untuk membeli makanan.
''Naruto, kita makan di tempat biasa.'' Aku menolehkan kepalaku demi menanggapi ucapan Sasuke tadi.
''Kau tidak beli makanan?'' Sasuke menunjukkan sebuah kotak bekal, dan dari situ aku bisa simpulkan bahwa Sasuke sudah bawa Bento dari rumah.
''Oh, baiklah. Tunggu aku disana. Jangan sampai makan dulu sebelum aku datang ya!'' Kulihat Sasuke dan Neji mengacungkan jempolnya sebagai tanda iya, kalau begitu aku harus cepat-cepat membeli makanannya.
.
Di bawah pohon sakura yang tumbuh besar dan banyak, adalah tempat kesukaan kami untuk bersantai dan makan. Tempat ini berada di belakang Sekolah, banyak siswa-siswi yang menghabiskan waktu istirahatnya disini. Ya contohnya seperti aku dan teman-temanku untuk makan bersama disini.
''Sasuke, tadi jawabanmu nomor 3 apa? Kalau aku 0,34 mol.''
''1,2 mol. Sudah jelas bukan soalnya? Bahkan menurutku terlalu mudah.''
''Waduh! Aku salah!''
''Kau dan kebodohanmu Kiba.''
''Hahahahahaa..'' Seperti biasa, makan bersama disertai obrolan ringan memang yang terbaik. Aku tertawa lepas ketika melihat ekspresi Kiba yang sepertinya sangat menyesal telah memilih jawaban itu.
''Jangan sedih Kiba, mungkin nilaimu akan bagus.'' Aku mencoba menghiburnya.
''Oh terima kasih Naruto-kun. Kau yang terbaik.''
''Jikalau kau bisa mengencani Kurenai-sensei.''
''Hahahahahaa..'' Dan sekali lagi Kiba yang menjadi sasaran pembullyan kami semuanya. Jangan tanya kenapa di bully terus, dia paling lucu ekspresinya ketika di bully seperti ini.
''Jahat!''
''Biarin, hahahahaa..''
.
.
0o0o0o0o0o0
''Naruto, tuh adikmu menunggumu.''
''Ya, tunggu dulu Kaguya.'' Aku mencoba secepat mungkin mengemasi buku-bukuku dan menaruhnya kembali kedalam Tasku, karena ini sudah waktunya pulang yang konon katanya waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh para siswa-sisiwi.
''Yosh, dimana Kushina?''
''Um, katanya dia menunggu di Gerbang.''
''Oh, terima kasih.'' Aku tersenyum kepada Kaguya sebagai pelengkap ucapan terima kasihku. Nama lengkapnya adalah Otsutsuki Kaguya, wajahnya cantik aku akui, ya karena dia perempuan ya pasti cantik.
''Ya, sama-sama.'' Dan selepas itu aku melenggang pergi meninggalkan Kaguya yang sepertinya akan ada kegiatan sepulang sekolah, aku berjalan melewati lorong yang terlihat masih ada beberapa para siswa-siswi sedang bercanda dan bermain Telephone genggam, aku tersenyum sedikit.
Masih bisakah aku seperti ini kelak ketika aku lulus dari sini? Oh, dan juga masihkah aku bersama dengan temanku nanti ketika lulus? Sepertinya hanya takdir yang bisa menjawabnya, aku hanya bisa mengikuti alurku dengan baik.
Ya, hanya takdirlah yang akan menjawabnya. Nanti.
''Onii-san!''
''Yo, Kushi-Kushi. Menunggu lama ya hehehee..'' Aku membalas seruannya dengan sebuah senyuman tanpa dosaku, ya aku ingin melihat wajahnya yang cemburut itu sekali lagi hari ini. Menurutku setiap ekspresinya membuatku tertawa.
''Jangan panggil aku dengan Kushi-Kushi! Onii-san Gay!'' Telingaku berkedut ketika mendengar itu.
''Gay.. Kenapa harus kata Gay.'' Aku menatapnya dengan sebuah senyuman dan mengacak rambut merahnya yang halus dengan gemas.
''Duh, Onii-san kau membuat rambutku rusak, ttebane!'' Aku tertawa sebentar ketika mendengar itu.
''Ya ya ya, ayo pulang adikku sayang.'' Aku menggandeng tangannya bersamaku, kami berjalan bersama menuju rumah kami. Soal orang tua, orang tuaku sudah lama meninggal dunia. Sekarang ini aku hanya bergantung pada keuangan Nenekku dan beasiswa yang aku dapatkan untuk kehidupanku sekarang.
Ya, aku hanya bergantung. Aku pernah melamar pekerjaan menjadi sebuah cuci piring ataupun pelayan untuk—ya setidaknya agar tidak terlalu membebani Nenekku, tapi ketika aku ketahuan melamar pekerjaan, Nenekku sangat marah waktu itu kepadaku.
Katanya—di umurku yang sekarang, fokuskan dulu ke belajar dan belajar supaya sukses. Aku tidak bisa membantahnya, walaupun didalam hati kecilku sedikit membantah ucapan Nenekku tapi tidak akan bisa dikeluarkan.
Beliau adalah orang tua keduaku, dan aku harus patuh akan segala perintahnya. Ya tentunya perintah yang baik-baik, dan aku yakin setiap perintah Nenek adalah baik, karena Nenek saat ini memegang sekolah yang saat ini menjadi tempat dimana aku menimba ilmu.
Ya, Konoha High School 01 adalah sekolah yang didirikan oleh seorang lembaga pada waktu itu dan sekolah itu dibeli oleh Nenekku sebagai rasa syukurnya ketika mendapatkan uang banyak sehabis berjudi.
Okeh bisa dikatakan uangnya tidak berkah bukan? Oh sekarang lupakan tentang aib Nenekku yang sangat penyayang itu.
''Onii-san, dari tadi melamun terus.'' Aku sedikit tersentak ketika Kushina menusukkan jari telunjuknya ke pipiku yang terhias sebuah tanda lahir seperti kumis kucing.
''Hum, maaf Kushina. Aku sedikit mengantuk, he he hee.'' Kushina memalingkan wajahnya kedepan, dan akupun sama demi melihat arah jalanku supaya tidak tersandung atau menabrak sesuatu.
''Onii-san berbohong kepadaku.'' Aku memandang wajah Kushina dengan bingung.
''Aku sudah lama mengenal Onii-san. Yang aku lihat dari wajah Onii-san saat ini terlihat banyak pikiran, apakah ada sesuatu yang membuat Onii-san frustasi?'' Aku terkejut untuk sementara waktu dan kemudian menatap kedepan dengan sebuah senyuman, yah.. Kushina tahu tentang diriku. Aku tidak bisa berbohong kepadanya.
''Hanya memikirkan masa depanku seperti apa nanti, itu saja.'' Aku mengeratkan genggamanku pada tangan halus Kushina. Ya, masa depanku apakah akan cerah seperti layaknya cerita-cerita yang aku baca? Ataukah tidak.
''Jangan terlalu dipikirkan Onii-san. Kushi-Kushi tidak suka Onii-san terlihat banyak pikiran seperti itu.'' Tunggu, dia bilang Kushi-Kushi kan?
''Hoh~ Kushi-Kushi. Kau bilang sendiri Kushi-Kushi loh hahahahaa..'' Aku tertawa lepas ketika melihat wajah memerah adikku yang satu ini. Dia sepertinya tidak sadar mengucapkan kata itu tadi. Hahaha, coba lihat wajahnya yang menggemaskan itu, seperti tomat berjalan.
''Mou~ Onii-san jahat! Sudah puas menertawakan adikmu ini!''
''Ha ha ha, belum. Aku belum puas, coba katakan Kushi-Kushi lagi.''
''Tidak mau!''
''Ayo dong! Satu saja.''
''Tidak!''
''Nanti aku kasih ciuman di kening.''
''MOU! ONII-SAN MESUM!'' Hey kenapa nyambungnya ke kata mesum? Haduh pakai teriak segala lagi, haduh! Para pejalan kaki melihat kearahku, oh Kushina untuk kali ini kau berhasil membuatku malu setengah mati.
''Hey hey, jangan teriak Kushi-Kushi. Aku malu tahu.''
''Berhenti memanggilku Kushi-Kushi!''
''Kau sendiri juga bilang Kushi-Kushi, he hee.''
''Mou! Onii-san jahat!''
''Hahahahaaa..''
.
.
0o0o0o0o0o0
_Rumah_
Setelah sampai di rumah, aku langsung saja menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku ini. Setelah mengambil keperluan untuk mandi, sesegera mungkin aku menuju kekamar mandi. Aku berdiri sambil menatap pantulan diriku yang terdapat pada cermin yang memang terpasang di kamar mandi ini.
Air shower yang menghujamiku layaknya hujan sedikit membuatku lebih tenang akibat penatnya hari ini. Aku mengepalkan tanganku, mengepalnya hingga kuat dan menghantam dinding ini sebagai rasa pelampiasanku atas perasaan terkutuk ini.
''Sial, aku masih mencintainya!'' Aku mencintai seseorang, adikku. Aku mencintai adikku sendiri—Kushina dan itu membuatku frustasi harus berbuat apa untuk rasa cinta ini. Sudah lama sekali aku memendam rasa ini, tapi aku dan Kushina adalah keluarga, satu darah dan itu membuatku harus berpikir ulang untuk menjalin kasih dengannya, Hell! Dia adikku!
Begitu pula sebaliknya dengan aku sebagai kakaknya, mana bisa aku menjalin kasih dengannya. Dan kenapa juga aku tidak tertarik dengan gadis lain yang tentunya pasti lebih cantik dari Kushina—seperti ada sesuatu yang membuatku tetap mencintainya dan selalu mengaguminya.
''Apa mungkin aku harus punya kekasih dulu?'' Mungkin cara ini bisa berhasil menghilangkan perasaan ini kepada Kushina, mencari kekasih? Tapi siapa yang cocok? Aku juga bingung harus memilih yang mana, ada banyak gadis cantik tapi entah kenapa yang menurutku menarik hanyalah Kushina!
Ah! Lupakan Kushina, okeh ini sedikit membuatku pusing. Mungkin besok aku harus mencari kekasih demi menghilangkan perasaan ini. Yah mungkin Kaguya? Um tapi dia sudah punya pacar atau belum ya? Kalau aku menyatakan cinta palsuku ini tapi dia sudah punya pacar kan aku tetap saja merasakan frustasi.
Lalu siapa yah! Aku bingung! Bagaimana mungkin aku bisa menghilangkan perasaan ini jika aku saja belum punya tambatan hati baru untuk menumbuhkan cinta baru—tentunya.
Kalau seperti ini terus, aku tidak akan bisa menahan topengku lagi dihadapan Kushina.
''Hah~ semakin lama, semakin membuatku frustasi saja.''
.
.
''Onii-san, ada Sara-senpai menunggumu didepan!'' Huh? Sara? Kenapa dia datang kerumahku? Ah mungkin ada keperluan penting. Sesegera mungkin aku memakai pakaianku setelah selesai mandi tadi yang sekurangnya memakan waktu hingga 30 menit untuk merenung bagaimana caranya menghilangkan perasaanku ini.
''Ya, tunggu sebentar.'' Setelah semuanya sudah selesai aku segera mungkin menuju kedepan—ruang tamu demi melihat dan menanggapi kenapa Sara datang kerumahku di waktu sore seperti ini.
''Loh? Sara mana Kushi-Kushi?'' Aku menatap Kushina dengan wajah bingung ketika diruang tamu tidak ada orang, seharusnya Sara disuruh masuk dan duduk disini bukan?
''Sara-senpai diluar, dia tidak mau masuk. Katanya hanya sebentar saja.'' Huh? Kenapa juga dia tidak mau masuk, seharusnya kan masuk dan duduk dulu biar tidak pegal menunggunya.
''Baiklah.'' Aku menatap Kushina sekilas, oke pakaiannya saat ini sedikit membuatku tidak tahan berlama-lama melihatnya. Dan kenapa juga dia pakai pakaian ketat seperti itu disini! Dan ada lelaki disini!
''Um, Kushina. Sebaiknya pakai pakaian yang sopan ya.'' Kulihat wajah adikku menatap kearahku dengan wajah memerah.
''Dasar mesum! Pasti pikirannya mesum!'' Aku juga yang kena.
''Aku tidak berpikiran seperti itu!''
''Bilang saja Onii-san ingin melihatku pakai bikini. Huh! Dasar Onii-san mesum!'' Aku juga yang kalah debat dengannya.
''Terserahlah..''
''Onii-san mesum.'' Kapan aku menang darinya ya tuhan!
.
''Selamat sore Naruto-kun.''
''Ya selamat sore, tidak masuk dan duduk dulu?'' Aku melihat wajah kelelahan darinya, kulihat pakaiannya dan masih mengenakan seragam sekolah, sepertinya Sara masih mengikuti kegiatan disekolahnya.
''Ah tidak, terima kasih aku hanya sebentar. Aku kesini untuk memberitahukan apakah Naruto-kun mau menjadi pembawa acara untuk ulang tahun sekolah?''
''Pembawa acara? Bukankah Kaguya bisa melakukannya daripada aku?'' Kulihat Sara menghela nafasnya sejenak, mungkin Kaguya ada halangan.
''Kaguya tidak bisa, katanya ada tugas lain dari guru.'' Oh, jadi seperti itu.
''Mungkin ini akan sedikit lama, ayo masuk dan duduk dulu.'' Kulihat Sara tersentak untuk beberapa saat dan tersenyum kikuk kepadaku.
''Ah tidak-tidak, aku sedang terburu-buru. Apakah kau mau jadi pembawa acara Naruto-kun?'' Aku mencubit hidungku sekilas demi menghilangkan rasa gatal yang entah kenapa ada disitu.
''Akan aku pikirkan, coba tanya yang lain.''
''Sudah, tapi tidak ada yang mau.'' Aku menggigit bibir bawahku sekilas demi melepaskan rasa bingungku, apakah aku bisa membawa acaranya dengan baik ya?
''Kau kan bisa melakukannya bukan?'' Sara menghela nafasnya, sepertinya ini terlalu berat untuknya.
''Aku sama sekali tidak mempunyai bakat untuk membawa acara dengan baik, tahu sendiri kan aku selalu gugup?'' Benar juga, lalu tahun kemarin siapa ya yang membawakannya? Kalau tidak salah..
''Tahun kemarin siapa yang menjadi Mc-nya?''
''Rize, Kamishiro Rize. Tapi sekarang ini Rize-san sedang sakit.'' Rize? Aku baru tahu nama itu.
''Rize kelas berapa?'' Aku penasaran sekali.
''Rize kelas 2. Ini pun aku disuruh Rize-san untuk menanyakan kepadamu agar menjadi Mc.'' Hah! Dia menyuruhku untuk menjadi pembawa acara dalam ulang tahun sekolah tahun ini? Siapa sih dia, aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya seperti apa, tapi kok dia bisa mengenalku?
''Baiklah, tapi aku ingin bertemu dengan Rize-san.''
''Kenapa?''
''Aku ingin tahu, kenapa dari sekian banyaknya Osis yang bisa diandalkan kenapa dia memilihku, aku bahkan tidak mengenalnya?'' Kulihat Sara tersenyum misterius, ho~ apakah dia merencanakan sesuatu yang licik?
''Tentu! Ayo ikut aku.''
.
.
To be continued..
A/N : Dari adventure ke family dan romance itu sangat greget menulisnya. Yah~ itung-itung belajar membuat fic seperti ini, tidak adventure terus hehehe.
Yah, walaupun demikian. Aku ingin kalian mengomentari fic ini, seperti apa sih menariknya? Aku ingin tahu dari komentar kalian semua. Supaya chapternya bisa dilanjut tentunya. Dan kalian tahu kan Kamishiro Rize? Itu loh karakter wanita seksi yang ada di Tokyo Ghoul.
Review? Yeah aku membutuhkannya, walaupun itu kata ''Lanjut/next/lanjutkan/good/'' atau apapun itu. Saya terima dengan senang hati daripada hanya fav dan follow tanpa me review, kesannya gimana gitu.
.GearPhantom97.
...
.