Lagi masa-masa produktif nih, tehe.


Sinners

Naruto © Masashi Kishimoto

High School DxD © Ichiei Ishibumi

Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan materil sedikit pun

Warning: Semi-canon, Out of Character, Godlike Naru!

Summary: Shinobi selalu dihantui oleh dosa-dosa mereka, itulah yang dialami Naruto. Semua temannya gugur dalam medan perang. Ia memenangkan perang dengan kehampaan. Suatu hari Tsunade memberi kesempatan kedua untuk mengawali hidup yang baru. Bersama dengan datangnya seseorang berambut merah, apakah Naruto menerima kesempatan itu?

.

Fanfiction 2020/Eins-Zwei/Fanfiction 2020

.


Chapter 1: Red Hair

Dia berbaring memandang awan. Mengamati gumpalan putih yang bergerak dengan perlahan mengikuti arah angin. Sorot mata itu memperlihatkan kekosongan. Blue shappire yang dulu memancarkan cahaya kini redup tak tersisa. Angin berhembus pelan membelai rambut kuning yang sudah tidak acak-acakan lagi.

Sudah satu tahun berlalu sejak perang besar shinobi ke-4 berakhir. Banyak hal yang berubah dari diri Naruto. Kehilangan teman-teman yang disayanginya adalah faktor utama. Sekarang ia bukan lagi anak pirang yang berisik, ia sudah menjelma menjadi pribadi yang lain. Terkadang sesuatu dapat merubah total diri kita dan inilah yang dialami Naruto.

Dunia shinobi telah mendapatkan kedamaian mutlak berkat jasa-jasa mereka yang telah gugur. Naruto telah diakui sebagai pahlawan dunia oleh kelima desa besar. Namun, hal itu tidak dapat membuatnya bahagia saat kembali mengingat bagaimana pengorbanan para teman-temannya yang rela mati untuk melindungi dirinya. Saat itu ia berpikir bahwa ia memanglah lemah. Kurama yang sejak lahir selalu menemaninya pun berakhir dengan mati.

Ia tak bisa menikmati kedamaian ini saat semua temannya gugur. Jauh dalam lubuk hatinya ia ingin sekali menyusul mereka. Namun, tetap saja ia harus melanjutkan hidup ini. Pasti ada alasan kenapa Naruto masih diberikan nyawa sampai detik ini.

Bosan memandang awan, Naruto kemudian pergi menuju hutan untuk sekedar meregangkan tubuhnya.


Di dalam kantor hokage, Tsunade terlihat sedang menjamu tamu. Tamu yang ia terima bukanlah tamu biasa. Seorang lelaki tampan berpakaian armor tempur ditemani seorang wanita cantik berpakaian maid. Mereka sedang duduk mengitari meja dengan segelas teh.

"Jadi teringat masa lalu sejak aku pertama kali melihatmu. Hmm kalau tidak salah waktu itu kau berusia 7 tahun, bukan begitu cucu Hashirama?"

Pria tampan itu melirik Tsunade dengan senyum tipis sambil sesekali menyeruput teh hangatnya. Tsunade yang ditanya seperti itu pun mengangguk. Siapa yang tidak menyangka seseorang dari dunia lain berkunjung kemari tiba-tiba.

"Dan kau juga masih tidak berubah sejak terakhir kali kita bertemu, Sirzechs-san."

"Ah … jadi teringat masa lalu sejak pertama kali aku menginjakkan kaki ke dunia ini."

Beberapa dekade yang lalu saat zaman Hashirama masih menjabat sebagai pemimpin desa. Sirzechs tanpa sengaja menemukan gerbang dimensi menuju dunia lain saat memeriksa sesuatu di celah dimensi. Ia yang saat itu menjunjung tinggi kekuatan iblis dan cenderung merendahkan ras lain terutama manusia karena lemahnya mereka berniat untuk menguasai tanah tak terjamah ini untuk kepentingan ras iblis.

Sirzechs yang kala itu sudah menjabat sebagai Maou Lucifer secara rahasia mengirimkan pasukan penuh peerage-nya untuk menginvasi daratan yang kaya akan sumber energi. Target pertamanya adalah desa yang baru saja didirikan bernama Konohagakure no Sato.

Karena sifatnya yang menganggap manusia lebih lemah dari ras mana pun membuat bumerang untuk Sirzechs. Di luar dugaan semua peerage-nya dapat dikalahkan. Sirzechs yang kala itu melawan Hashirama dan Madara dibuat kewalahan karena jurus-jurus aneh dari dua manusia itu.

Ia tak bisa mengalahkan mereka hanya dengan mengandalkan Power of Destruction semata. Dua manusia itu memiliki jurus bervariasi yang membuatnya sulit untuk membuka celah. Apa lagi teknik aneh yang dikeluarkan mata berwarna merah darah itu.

Akhirnya Sirzechs gagal menjalankan ambisinya dan tersadar bahwa dunia yang ia tempati sangat sempit. Memang di dunianya para makhluk supernatural yang lebih superior. Namun, jauh di dunia lain para manusialah yang menjadi 'raja'.

Dari kejadian itulah Sirzechs mulai dekat dengan Hashirama dan menjalin hubungan baik dengannya. Ia tidak sungkan untuk membagikan ilmu yang ada di dunianya demi kemajuan desa yang Hashirama pimpin. Hubungan baik itu terus berlangsung hingga Hashirama memiliki cucu bernama Tsunade.

Komunikasi terakhir Sirzechs dengan Hashirama adalah saat Tsunade merayakan ulang tahun yang ketujuh. Gerbang yang menjadi penghubung antara dua dunia itu terputus dan ia tak bisa mengunjungi Konoha hingga beberapa puluh tahun.

Sirzechs meletakan teh di meja dengan pelan. Ia kembali mengingat sosok Hashirama yang ceria dengan senyum lebarnya. Orang kuat cenderung jenaka. Setelah berbincang cukup lama kini Sirzechs tahu perkembangan dunia shinobi seperti apa.

"Madara ya … dia memang orang yang sangat kuat dan memiliki ambisi besar. Tidak mengejutkan jika ia memiliki rencana seperti itu. Tsuki no Me."

Tsunade mendengus. "Lalu apa yang sekarang kau akan lakukan? Hanya jalan-jalan ke sini setelah gerbang antar dua dunia kembali terbuka?"

Pria tampan berambut merah itu menggeleng. "Entah ini kebetulan atau apa, saat ini adikku sedang dalam kondisi cukup bahaya. Ini menyangkut tentang masa depannya. Karena kecerobohan ayahku, dulu saat sedang mabuk berat ia sempat membuat janji dengan Lord Phenex akan menjodohkan anak mereka. Sekarang janji itu sedang dilaksanakan."

"Lalu apa yang membuatmu khawatir?" tanya Tsunade.

"Masalahnya laki-laki yang menjadi jodoh adikku bukanlah pria baik. Terlahir dari keluarga sombong ia tumbuh dengan sifat jelek. Aku sempat menentang perjodohan ini tapi tak bisa berbuat apa-apa. Untungnya Lord Phenex memberi keringanan, beliau akan membatalkan perjodohan ini jika Rias telah memiliki calon lebih dulu. Dan calon itu harus mengalahkan anaknya."

"Saat itu aku tidak banyak memiliki daftar orang yang cocok untuk bertarung dengan anak Lord Phenex. Orang yang paling menjanjikan adalah dia yang saat itu menjadi inang dari Ddraig. Tapi dengan kekuatannya yang sekarang mustahil ia bisa mengalahkan anak Lord Phenex."

Sirzechs menghentikan penjelasannya sebentar dengan menyeruput teh. "Lalu gerbang yang dulu sempat menutup kini kembali terbuka. Saat itu aku berpikir untuk mencari orang yang cocok menjadi jodoh adikku terlepas ia berasal dari ras manusia. Aku sangat paham bahwa manusia di sini berbeda dengan manusia di dunia tempat kami tinggal. Jadi izinkan aku untuk mencari orang yang kumaksud."

Sirzechs menundukan kepalanya dalam-dalam, membuat maid yang sedari tadi berdiri tenang kaget seketika. Seorang Maou Lucifer, orang nomor satu di Underworld menundukan kepala pada seorang manusia lemah. Kira-kira begitulah isi pikirannya.

"Sirzechs-sama."

"Tidak apa-apa Grayfia, kau diam saja."

Mengerti dengan ucapan atasannya, ia kembali berdiri tenang. Sementara itu Tsunade mendengus lagi. Memutar otaknya untuk permintaan teman lama kakeknya.

"Apa kau bisa menjamin keselamatan orang yang akan aku utus selama berada di sana sampai ia kembali ke sini?"

"Sebagai pemimpin ras iblis aku bisa menjamin keselamatannya di sana tapi … aku tak bisa menjamin jika ia dapat pulang ke sini lagi mengingat gerbang penghubung dimensi tidak bisa diprediksi."

"Hmm …." Tsunade sempat memikirkan nama Uzumaki Naruto. Orang yang menjadi pahlawan dunia shinobi tapi yang ia dapat hanyalah kesedihan karena semua temannya gugur. Tsunade sudah menganggap Naruto sebagai anak sekaligus adiknya. Ia paham betul bagaimana perasaan Naruto sekarang. Hampa. Tak memiliki semangat hidup.

Mungkin saja di dunia sana Naruto bisa mendapatkan kebagaiaannya. Ia tidak akan khawatir akan keselamatan remaja pirang itu. Cukup mengingat seberapa besar kekuatannya ia sudah tenang. Naruto akan baik-baik saja di sana.

"Aku memiliki satu orang yang kurekomendasikan. Tenang saja, jika pada akhirnya orang itu akan menikah dengan adikmu aku yakin ia adalah orang yang baik."

"Benarkah? Siapa nama orang yang kau maksud?"

Tsunade mengangguk. Ia lanjut berbicara, "Uzumaki Naruto. Tapi itu semua tergantung padanya …."


Grayfia meregangkan tangannya setelah berdiri kaku selama beberapa jam. Rasa pegal yang menjalar di sekitar punggungnya berangsur menghilang. Beberapa saat lalu Sirzechs menyuruhnya untuk keluar ruangan dan jalan-jalan di desa ini jika perlu. Sirzechs dan Tsunade sedang membicarakan hal penting seputar hadiah yang akan diberikan oleh Maou Lucifer itu sebagai bentuk terima kasih.

Awalnya Grayfia menolak dengan alasan keamanan. Namun, karena Sirzechs terus mendesak dan ia meyakinkan dirinya bahwa Sirzechs akan baik-baik saja membuatnya menghela napas pasrah.

Sekarang di sinilah Grayfia. Melangkahkan kaki pelan menyusuri jalan desa sambil melihat bangunan-bangunan yang bergaya jepang zaman dahulu–meski beberapa bangunan ada yang terlihat modern. Grayfia menjadi pusat perhatian saat ia berpapasan dengan banyak orang. Kecantikan. Keanggunan. Keindahan tubuhnya sudah cukup menjadi alasan kenapa semua orang berhenti dan memandang dirinya meski hanya sebentar.

Perhatian Grayfia tertuju pada sekelompok orang yang memakai rompi berwarna hijau dan ikat kepala berlambangkan daun. 'Jadi mereka yang disebut shinobi oleh Sirzechs? Dia bilang para shinobi itu manusia kuat tapi yang aku rasakan mereka tidak ada bedanya dengan kebanyakan manusia lemah.'

Grayfia menghela napas. Hari ini sangat banyak hal yang terjadi dan tak bisa ia cerna dengan cepat. Ini bermula saat tiba-tiba Sirzechs mengajaknya ke dunia lain yang sama sekali ia tak mengerti. Menjelaskan tentang dunia shinobi dan para manusia kuat di dalamnya. Sampai dirinya tahu Sirzechs telah merahasiakan semua ini dari maou yang lain selama puluhan tahun.

Pikirannya yang kusut membuat perutnya berbunyi. Pipi putihnya sedikit merona takut jika ada orang lain yang mendengar. Buru-buru ia menjauh dari jalanan utama hingga ia berhenti di depan sebuah kedai ramen yang mengeluarkan aroma menggoda.

"Ichiraku Ramen." Grayfia menggumamkan nama kedai yang membuat nafsu makannya meronta.

Ia ingin sekali melangkah masuk ke dalam kedai itu tapi saat mengetahui bahwa ia tak memiliki mata uang desa ini Grayfia mengurungkan niat. Pipinya kembali merona malu karena pikirannya yang tidak jernih. Terkesan ceroboh. Tidak seperti dirinya yang biasa.

"Yo Nee-chan, sedang apa kau berdiri diam di depan Ichiraku Ramen?"

Lamunan Grayfia terhenti saat suara hangat mampir di telinganya. Ia menoleh, melihat seorang remaja yang tersenyum tulus ke arahnya.

"Eh? Ti-tidak apa–"

Perkataan Grayfia terpotong oleh suara perutnya yang kian membesar. Wanita berparas cantik itu menunduk, menyembunyikan wajah yang sudah pasti merah padam. Pemuda itu mengangkat sebelah alis, kemudian tersenyum.

"Nee-chan lapar?"

"Ti-tidak!"

"Kalau begitu ayo kita makan di Ichiraku Ramen, aku yang akan traktir."

Pemuda bernama Naruto itu meraih tangan Grayfia, membuat wanita itu tersentak kaget sekaligus malu. Ini adalah kali pertamanya disentuh oleh seorang manusia. Perasaannya ingin memberotak, tapi ia tak bisa saat genggaman hangat itu menenangkan dirinya. Akhirnya ia hanya nurut saja dan masuk ke kedai bersama Naruto.

Grayfia duduk tanpa sepatah kata. Naruto di sampingnya memesan dua porsi ramen spesial. Hidangan datang tidak lama kemudian.

"Ayo makan, ini adalah tempat yang paling pas saat perut kita keroncongan."

Wanita itu mengangguk. Mengambil sumpit dan mulai memakan hidangan yang tersaji. Satu kata yang ia keluarkan saat pertama kali merasakan mie itu masuk ke dalam mulutnya.

"Enak."

"Benarkan? Ramen di sini adalah ramen terenak di dunia!"

Grayfia memakan ramen itu hingga habis tak tersisa. Ia mulai membuka pembicaraan dengan pemuda itu. Dari yang ia lihat, pemuda ini kemungkinan besar hanya penduduk biasa. Bukan seorang shinobi seperti sekelompok orang yang memakai rompi hijau. Grayfia juga tidak merasakan pancaran kekuatan bak setitik api di dalam pemuda itu.

Pancaran kekuatan yang dimaksud Grayfia itu adalah Chakra. Wanita itu dapat merasakan Chakra dalam bentuk setitik api yang berkobar dalam diri seorang shinobi.

"… begitu, jadi Nee-chan bukan berasal dari Konoha ya, pantas aku tidak pernah melihat Nee-chan sebelumnya."

"Ya begitulah. Aku datang ke desa ini karena memiliki sedikit urusan."

Setelah bercengkrama cukup lama mereka akhirnya meninggalkan kedai dengan beberapa uang di atas meja. Grayfia menghadap pemuda itu dengan sikap maid-nya.

"Terima kasih karena sudah mentraktirku makan ramen di sini. Maaf sebelumnya karena aku belum memperkenalkan diri. Namaku Grayfia Lucifuge."

"Ah sama-sama Grayfia-neechan, dan namaku Uzumaki Naruto. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan, Jaa na!"

Grayfia tersenyum sambil memandang punggung yang perlahan menjauh itu. Ia baru tersadar saat kembali mengingat nama pemuda tadi.

"Tunggu, nama itu!"

Sementara itu dengan Naruto, ia yang sudah belok di sebuah tikungan wajahnya tiba-tiba menjadi serius. 'Wanita itu … aku tidak merasakan hawa manusia di dalam tubuhnya.'


Keesokan harinya Naruto mendapat perintah untuk menemui Tsunade di ruangannya. Ia langsung menanggapi perintah itu dan sekarang disinilah ia. Berdiri di hadapan Tsunade yang didampingi oleh dua orang di sampingnya. Salah seorangnya ia sudah tahu siapa.

"Baru aku kemarin mengucapkan sampai ketemu di lain kesempatan, ternyata hari ini yang dimaksud," kata Naruto dengan senyum tipis.

Sirzechs memandang Grayfia meminta jawab.

"Kemarin aku tidak sengaja bertemu dengannya di sebuah kedai ramen."

"Jadi Tsunade-baachan, apa yang sedang terjadi di sini? Apa mereka ada hubungannya dengan panggilan mendadak ini?" tanya Naruto serius.

Tsunade mengangguk. Ia menarik napas panjang sebelum berbicara. Ini akan membutuhkan waktu cukup lama.

"Langsung saja aku katakan maksudku menyuruhmu ke sini. Naruto, apa kau mau aku beri kesempatan kedua untuk memulai hidup yang baru di dunia lain?"

"Tunggu, apa maksud Tsunade-baachan? Kehidupan baru? Dunia lain? Aku sama sekali tidak mengerti."

"Dua orang yang berdiri di sampingku berasal dari dunia lain. Pria yang berambut merah itu dulunya adalah teman dekat Hashirama, pemimpin desa pertama Konoha. Saat ini dia sedang mengalami masalah keluarga berkaitan dengan adiknya yang akan dijodohkan dengan pria yang tidak ia sukai. Dia memintaku untuk mencari orang yang bisa membantunya."

"Tunggu, aku bisa mengerti maksudmu. Jangan bilang Tsunade-baachan ingin mengusirku secara halus dari Konoha karena kesedihanku yang ditinggal teman-temanku. Lalu kehidupan baru? Apa Tsunade-baachan menyuruhku untuk tinggal di sana selamanya?"

"Naruto! Aku sangat mengerti bagaimana kesedihanmu ditinggal oleh orang-orang yang kau amat sayangi. Aku sangat tahu itu. Aku tidak bermaksud mengusirmu. Aku hanya ingin kau mendapat kebahagiaan di dunia lain. Di sini … di Konoha kau sudah tak bisa mendapat kebahagiaan. Kau selalu terbayang akan teman-temanmu yang sudah gugur."

Naruto diam, tangannya terkepal erat. Semua yang diucapkan Tsunade benar. Meski semua penduduk Konoha ramah padanya itu tak bisa membuatnya bahagia. Selama ini ia hampa. Larut dalam kesedihan. Kondisinya kian memburuk saat semua yang ia impikan perlahan sirna. Cita-cita yang dulu ingin menjadi Hokage kini sirna. Ia sudah tak tertarik lagi.

Sirzechs dan Grayfia memilih diam.

"Lantas … lantas kalau aku menerima kesempatan ini apa aku akan mendapatkan kebahagiaan?"

Tsunade melebarkan matanya begitu juga dengan Sirzechs dan Grayfia. Mereka seperti itu bukan karena pertanyaan Naruto, melainkan bulir bening yang menetes perlahan dari balik mata shappire.

"Naruto …." Tsunade menghampiri remaja itu dan memeluknya dengan erat. Ia mengangguk. "Tentu saja. Tentu saja kau akan bahagia di sana. Aku bisa menjamin itu."

"Baiklah kalau Tsunade-baachan berkata seperti itu."

Tsunade yang selesai menenangkan Naruto lalu berbalik, melirik Sirzechs dengan mata tajam. "Kau pasti akan menjamin kebahagiaan Naruto di duniamu, kan? Sirzechs!"

"Tentu saja. Aku pasti akan menjamin hal itu. Tenang saja," jawab Sirzechs agak takut melihat muka galak cucu Hashirama.

Sirzechs menghampiri Naruto dan menepuk pundaknya pelan. Ia tersenyum ramah. "Uzumaki Naruto, aku melihat kau sebagai pemuda yang baik dan bisa kupercaya. Jujur saja baru kali ini aku menaruh rasa percaya pada orang yang baru kukenal. Lalu, untuk yang dikatakan Tsunade kau tenang saja. Rencananya aku akan menjodohkanmu dengan adikku. Yah itu hanya kamuflase saja agar perojodohan ini batal. Namun jika pada akhirnya kalian menikah aku jamin malammu akan selalu indah. Adikku itu memiliki paras yang cantik dan tubuh seksi. Huahahahaha," jelas Sirzechs dengan jempol yang terangkat.

Naruto menatap sinis. "Aku tidak mencari pasangan hidup dari bentuk fisiknya."

"Kau bisa berkata seperti itu karena belum melihat kecantikan adikku," kata Sirzechs membela diri.

"Terserah, yang lebih penting aku ingin mendengar semua informasi tentang dunia baru yang akan kutinggali. Jujur saja aku katakan kalian tidak memiliki hawa manusia."

Sirzechs dan Grayfia tersentak.

"Hooo, kau sudah menyadarinya ya. Kalau begitu tidak ada alasan lagi untuk tidak menjelaskan semuanya padamu."

Hari itu Sirzechs berbicara panjang lebar. Tentang dunia yang ia tempati beserta isinya. Para makhluk supernatural yang hidup berdampingan bersama manusia. Sejarah Great War di mana tiga fraksi besar saling perang satu sama lain. Bahkan Naruto tak sanggup untuk menutup mulutnya mendengar kondisi dunia yang akan ia tempati. Dunia Sirzechs lebih rumit.

Naruto mengangguk paham setelah Sirzechs selesai bicara. Ia tersenyum tipis. Memandang langit yang terjadi dari balik jendela. Langit dari dunia yang sudah menyelesaikan segala konflik, dunia yang tersisa perdamaian. Ia mungkin akan merindukan langit Konoha.

Naruto berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata. Sesaat sebelum ia membuka pintu, Naruto melirik Sirzechs melalui ekor mata. Ia berkata dengan pelan, "Besok pagi kita akan berangkat. Lalu bagaimana Tsunade-baachan menjelaskan masalah ini pada para Kage lainnya?"

"Aku akan urus itu. Kehilanganmu secara tiba-tiba akan menggemparkan dunia," jawab Tsunade yang mendapat rasa penasaran dari wanita cantik bermarga Lucifuge. Sebenarnya siapa sosok pemuda di hadapannya ini.

Setelah mendapat jawaban Naruto keluar dari ruang hokage. Hari ini akan menjadi hari terakhir Naruto di Konoha. Mungkin berkeliling sebentar dan menyapa kenalannya akan sangat berarti. Terakhir ia akan memberikan bunga perpisahan pada rekan-rekannya yang telah gugur sebelum mempersiapkan segalanya.

'Hinata … apa kau mengizinkanku menikah dengan wanita lain?'


Pagi hari ini cuacanya tidak bersahabat. Awan mendung menyelimuti desa Konoha. Angin kencang berhembus tiada henti. Seakan langit marah karena sesuatu telah hilang dari indahnya dunia ini.

Naruto dengan pakaian biasa–sudah satu tahun ini ia berhenti berpakaian layaknya seorang shinobi dan menjauh dari warna orange–berdiri di hadapan tiga orang yang menjadi alasannya meninggalkan Konoha. Mereka sekarang berada di hutan belakang Konoha tempat distorsi gerbang penghubung dua dunia muncul.

"Uzumaki-san, apa kau tidak membawa barangmu?" tanya Grayfia yang melihat Naruto datang tak menjinjing apa pun.

"Aku sudah membawa semua yang aku perlukan dalam 3 kertas gulungan ini," jawab Naruto sambil memperlihatkan tiga gulungan dengan sisi yang berbeda warna.

Grayfia tidak mengerti maksud Naruto sementara Sirzechs hanya tersenyum, kembali mengingat momen saat Hashirama memunculkan puluhan senjata dari gulungan besar yang ia bawa.

Naruto kembali memasukan tiga gulungan itu ke masing-masing sakunya. Pakaian yang ia kenakan sangat simpel. Kaos putih polos dibalut blazer yang kancingnya dibiarkan terbuka serta bawahannya ia memakai celana panjang warna hitam. Sepatu ninja yang selama ini ia pakai telah lama tergantung. Kini ia hanya memakai sepatu hitam biasa.

Dari perubahan cara berpakaian Naruto saja sudah cukup untuk Tsunade menilai bahwa remaja di depannya tidak ada minat menjadi shinobi lagi. Lagi pula selama satu tahun ini Naruto jarang mengambil misi. Bahkan pernah beberapa kali ia menolak misi yang diberikan langsung olehnya.

'Naruto … semoga kau bahagia di sana.'

Mata shappire redup itu memandang Sirzechs. "Ayo, cuaca di sini tidak baik untuk berlama-lama."

Sirzechs mengangguk. Ia lalu membuat sihir rumit yang memerlukan waktu cukup lama hingga komposisinya selesai. Sebuah gerbang dimensi muncul, ukurannya setara manusia normal.

Sirzechs memandang Tsunade untuk yang terakhir kalinya. "Aku tidak tahu kapan bisa ke sini lagi. Yang pasti aku akan mampir ke sini lagi jika gerbang kembali terbuka. Sampai saatnya tiba aku akan menceritakan semua kebahagiaan Naruto di sana."

Tsunade terkekeh pelan. "Aku akan tidak sabar menunggu hari itu."

"Sampai jumpa lagi, Tsunade-baachan."

Mereka bertiga lalu memasuki gerbang dimensi itu. Tsunade melambaikan tangan untuk yang terakhir kali sampai gerbang itu menutup. Ia menghela napas. Ada sebulir air mata yang keluar. tidak berselang lama rintik hujan mulai turun. Kian membesar. Selama satu hari penuh Konoha terus diguyur hujan deras.

Bersambung


Another fic, another idea. Semoga kalian suka. Gambaran karakter Naruto bayangkan saja seperti Gilgamesh. Satu chara cowo ini emang favorite kebanyakan animers. Yah ia memang digambarkan sebagai chara keren dan kuat. Saya paling suka cara ngomong Gilgamesh.

Sebenarnya saya sudah lama ingin membuat cerita interaksi Naruto dan Rias dengan kisah percintaan yang beda dari lain, dan baru kesampaian sekarang.

Jangan lupa review, favs, dan follow. Dukungan dari kalian sangat berarti untuk membangkitkan FFN ini agar ramai kembali.

Beberapa teman sesama grup WA FFN Indo telah mengupdate ficnya, seperti Irisdina Bernhard, Viellera, dan Arifrahman 223. Bagi yang minat gabung silahlan taruh nomor WA kalian di review. Kita sama-sama bangun FFN menuju puncak kejayaannya lagi. Thanks.

#RAMAIKANFFN2020

[6/1/2020]