Maaf pendek banget ;_; first fict using Cato-Clove as pairing.

The Hunger Games milik Suzanne Collins.

Mind to read and review? :)


Sosoknya selalu bisa kutemukan di tanah lapang kecil di belakang rumahku, tempat para anak anak calon peserta karier berlatih. Kau pasti heran kenapa bahkan di sini ada tempat latihan khusus menghadapi maut seperti itu. Ya, karena disini, menjadi peserta adalah kebanggaan, dan sepatutnya kau membalas kebanggan itu dengan kemenangan.

Aku selalu bisa menemukan sosoknya, gadis bertubuh mungil dengan rambut hitam kelamnya terkuncir kuda rapi, berada di area target melempar pisau. Selalu terlihat sibuk mengasah koleksi pisaunya yang membuatmu bergidik hanya dengan sekali lihat, atau dengan akurasinya yang mengagumkan, melemparkan satu persatu koleksinya ke arah target target itu menembus bagian kepala atau jantung. Bahkan, ketika suasana sunyi, Ia bisa melakukannya dengan mata tertutup.

Selesai latihan, Ia tak akan langsung pulang. Ia akan duduk disana sampai matahari terbenam tiba dan baru pulang setelah menikmati mengantar matahari menuju peristirahatannya.

Ia bernama Clove. Bagi keluarganya, seperti kebanyakan keluarga lain, menjadi peserta adalah kehormatan. Ia adalah satu satunya anak dan sejak kecil, Ia sudah dipersiapkan untu menjadi anggota karier. Sejak umur 5 tahun, Ia sudah dilatih memegang pisau, dan di ulang tahunnya yang ketujuh, Ia sudah menguasai lemparan dengan mata tertutup seperti yang aku kisahkan tadi. Ia tak pernah memiliki teman karena aku tahu, semua pasti takut dengan latar belakang dan kemampuan yang dimilikinya. Mata tajam dengan sorot menakutkan itu pasti juga menjadi faktor orang takut untuk berdekatan dengannya.

Kau pasti heran kenapa aku bisa tahu begitu detail tentangnya. Aku? Aku hanyalah seniornya yang beda dua tahun dengannya disekolah. Aku hanyalah orang yang memperhatikannya tiap hari disekolah dan mengawasi setiap gerak geriknya di arena latihan. Terdengar seperti seorang stalker, eh? Bagi kalian yang sudah pernah atau sedang memendam perasaan begitu lama, kalian pasti tahu rasanya dan pasti kalian tidak mau disamakan dengan para stalker.

Namaku Cato. Sama seperti Clove, aku dididik untuk menjadi peserta Hunger Games, dan pedang adalah keahlianku. Sebenarnya, aku tidak mau hidup dalam tekanan seperti ini. Berlatih setiap hari hanya untuk membuat kematianku menjadi konsumsi yang menyenangkan untuk Capitol. Entah apa yang ada di pikiran Clove sehingga Ia terlihat sungguh sungguh berlatih 'mempersiapkan kematian'.

Terlihat sungguh sungguh. Iya terlihat. Karena walaupun jarang sekali, aku pernah sekali menemukan, matanya yang terlihat nyaris tak bisa mengeluarkan tangisan itu berkaca kaca ketika pisaunya mengenai seekor kucing dan membuat kucing tersebut langsung tewas seketika. Aku yakin di balik jiwa kerasnya, Clove tetaplah anak perempuan berhati lembut. Ia adalah anak perempuan biasa yang terjebak di tubuh yang diciptakan untuk menjadi mesin pembunuh.

Dan ya..katakan aku pengecut. Orang boleh melihatku sebagai pemuda mengerikan dengan kemampuan pedang yang mematikan.

Tapi di depan Clove, aku hanyalah sebongkah balok kayu yang hanya bisa terdiam kaku sebelum sempat mengatakan apa apa. Karena aku terbius pada tatapan tajamnya.

Kalian boleh tertawa ketika aku bilang, bahwa seumur hidupku, aku belum pernah sekalipun mengajak Clove bicara! Aku tahu, hanya memperhatikannya dari jauh dan tahu segala detail tentangnya tidak akan membuatnya mengenalku dan dekat denganku.

Dan seperti biasa, hari ini, hari Minggu, dimana semua orang harusnya bersantai karena ini hari libur, di arena latihan Clove sibuk melemparkan pisau pisaunya. Kali ini, 3 pisau dalam satu lemparan. Dan ketiganya menancap tepat, berderet di area sekitar jantung.

Terpana melihatnya melemparkan satu demi satu pisau, aku tak sadar kalau hari sudah semakin sore. Matahari terlihat mulai lelah memancarkan sinarnya dan bersiap siap untuk beristirahat.

Hari ini aku harus mengajaknya bicara. Harus. Sekarang atau tidak sama sekali, Cato.

Baru saja aku akan mendekatinya, tiba tiba ia jatuh terduduk.

Punggungnya bergetar. Ia..menangis?

Samar-samar..aku mendengar, di sela isak tangis nya, Ia berkata lirih,

"Aku..tidak ingin jadi pembunuh..."